Rabu, 19 Oktober 2011

ANTARA - Hiburan

ANTARA - Hiburan


Bendara-Yudanegara berpamitan kepada Sultan

Posted: 19 Oct 2011 04:50 AM PDT

Kanjeng Pangeran Harya (KPH) Yodanegara. SE. Msi (kanan) dan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara. BA (kiri) (ANTARA/Noveradika)

Berita Terkait

Yogyakarta (ANTARA News) - Gusti Kanjeng Ratu Bendara dan Kanjeng Pangeran Haryo Yudanegara berpamitan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X di Gedong Jene Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Rabu.

Mereka berpamitan kepada Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang juga Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X, setelah resmi menjadi pasangan suami dan istri dengan menjalani berbagai prosesi pernikahan pada 16-18 Oktober 2011.

Prosesi diawali dengan pengantin pria KPH Yudanegara dijemput oleh adik Sultan, GBPH Prabukusumo dari Kasatriyan. Setelah dibawa ke Gedong Jene, mereka menemui Sultan untuk berpamitan.

"Dalam acara itu pengantin dan besan serta keluarga besan menyatakan pamit untuk meninggalkan keraton setelah upacara pernikahan selesai. Usai pamitan, pengantin akan kembali ke Jakarta untuk melakukan aktivitas," kata GBPH Prabukusumo.

Menurut dia, setelah perkawinan, pengantin memang keluar dari keraton, karena kebetulan Yudanegara kerja di kantor sekretariat wapres, sehingga langsung boyongan ke Jakarta. Acara pamitan itu resmi menandakan keluar dari keraton.

Meskipun telah resmi keluar dari lingkungan keraton, tetapi tidak memberikan kontrak khusus. Tugas dan kewajiban tertentu juga belum ditentukan secara detil, tetapi dalam setiap prosesi adat keraton keduanya harus ikut.

Ia mengatakan kontrak pengantin dan keraton tidak ada. Namun, mereka diharapkan bisa menyesuaikan diri dan harus dapat belajar memahami budaya masing-masing.

"Dalam setiap upacara dan acara keraton mereka juga harus ikut. Untuk penempatan dan tugas dari keraton saat ini memang belum ada, kemungkinan akan menyusul," katanya.

(L.B015*H010/B)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full content generated by Get Full RSS.

Bentara Budaya bahas buku Ketut Sumadi

Posted: 19 Oct 2011 01:38 AM PDT

Denpasar (ANTARA News) - Bentara Budaya Bali berencana menggelar acara diskusi sastra yang akan membahas buku kumpulan esai karya Doktor I Ketut Sumadi berjudul "Tuhan di Sarang Narkoba, Weda di Ruang Tamu".

"Melalui karyanya tersebut, Ketut Sumadi mencoba merefleksikan pandangannya tentang kondisi nyata Bali di tengah era globalisasi," kata Juwitta Katrina Lasut, staf Bentara Budaya Bali (BBB).

Dia menjelaskan, pandangannya itu mengkritisi kondisi masyarakat Pulau Dewata yang semakin modern yang membuat nilai-nilai lampau semakin terkikis.

Juwitta mengatakan, kegiatan tersebut akan digelar pada Jumat (21/10) di pusat kebudayaan dan sastra yang berlokasi di Ketewel, Kabupaten Gianyar.

Ketut Sumadi, dosen Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar lahir di Batuyang, Sukawati, Kabupaten Gianyar tahun 1962. Sejak 1979, dia rajin menulis puisi, cerpen, esai sastra, yang sering ditampilkan pada mimbar agama Hindu media cetak lokal.

Rencananya, tambah Juwitta, pada diskusi tersebut akan menghadirkan narasumber, Prof I Wayan Windia dan I Gede Rudia Adiputra serta Prof Jan Hendrik Peters (Strategic Advisor THK Foundation).

Ketiganya akan mencoba membahas karya-karya Ketut Sumadi secara kontekstual terkait dengan kondisi Bali jaman dulu, kini maupun nanti.
(IGT/I006)

Editor: Desy Saputra

COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full content generated by Get Full RSS.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan