KOMPAS.com - Internasional |
Perbedaan Pendapatan di Spanyol Semakin Menganga Posted: 21 Mar 2013 02:23 AM PDT Krisis Global Perbedaan Pendapatan di Spanyol Semakin Menganga Penulis : Anastasia Joice | Kamis, 21 Maret 2013 | 09:23 WIB MADRID, KOMPAS.com — Krisis yang sedang terjadi di Spanyol membuat banyak perubahan dalam kehidupan rakyatnya. Selisih pendapatan antara orang paling kaya dan orang paling miskin di Spanyol melebar hingga 30 persen sejak tahun 2006. Hal itu terjadi karena penurunan ekonomi. Demikian laporan dari Caritas yang dipublikasikan di Madrid, Rabu (20/3/2013). Penurunan gaji, pemangkasan tunjangan sosial pemerintah, serta tingginya angka pengangguran yang saat ini mencapai 26 persen merupakan faktor-faktor yang semakin memperlebar jurang perbedaan tersebut. Perbedaan ini merupakan yang tertinggi di antara negara-negara Uni Eropa. "Besarnya ketimpangan sosial semakin memecah masyarakat. Semakin lama semakin sulit bagi orang miskin untuk keluar dari kesulitan sosial," ujar Sebastian Mora, Sekjen Caritas. "Erosi kebijakan sosial telah berdampak besar pada kelompok masyarakat yang paling rentan," tambahnya lagi. Spanyol mengalami dobel resesi dan hampir belum pulih dari bubble properti pada tahun 2008. Pemerintah Spanyol memberlakukan pengetatan anggaran terbesar sejak negara itu kembali ke demokrasi setelah meninggalnya diktator Francisco Franco pada tahun 1975. Rata-rata pendapatan untuk 20 persen orang terkaya di Spanyol tujuh kali lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata pendapatan 20 orang termiskin. Jumlah keluarga yang tidak memiliki sumber pendapatan melonjak dari 300.000 tahun 2007 menjadi 630.000 tahun 2012. Sementara persentase orang yang mampu membayar biaya tidak terduga naik pada periode yang sama dari 30 persen menjadi 44,5 persen. Rata-rata pendapatan per tahun di Spanyol turun 4 persen antara tahun 2007 dan 2012 yang sekitar 18.500 euro atau Rp 232 juta. Editor : Tjahja Gunawan Diredja |
Siprus Gantungkan Harapan Pada Rusia Posted: 21 Mar 2013 01:56 AM PDT Siprus Gantungkan Harapan Pada Rusia Penulis : Anastasia Joice | Kamis, 21 Maret 2013 | 08:56 WIB NICOSIA, KOMPAS.com - Para pejabat di Siprus hingga Rabu (20/3/2013) waktu setempat masih pusing dalam mengusulkan skema peminjaman baru. Salah satu wacana yang dimunculkan adalah skema dana talangan baru yang termasuk pinjaman dari Rusia. Sebagai ganti pinjaman tersebut, Siprus akan memberikan lisensi gas alam dan menjual aset-asetnya. Siprus perlu menggalang dana dari dalam negeri sebesar 5,8 miliar euro untuk menjamin talangan sebesar 10 miliar euro dari troika. Rencana pertama mengenakan pajak deposito gagal total setelah parlemen menolaknya. Saat ini, para pejabat Siprus berupaya membatasi jumlah uang yang mereka ambil dari deposan. Pemungutan suara untuk rencana B ini kemungkinan akan dilakukan Kamis (21/3/2013) pagi atau Kamis siang WIB. Jika gagal lagi, terbuka kemungkinan dua bank besar Siprus akan kolaps karena pemerintah tidak mampu membayar kewajibannya dan Siprus mungkin akan terpaksa keluar dari zona euro. Hal ini akan memicu kepanikan di pasar finansial global serta mengancam deposan di negara itu. Paket baru yang diusulkan itu juga termasuk restrukturisasi bank kedua terbesar di Siprus Laiki. Inti restrukturisasi ini adalah mengisolasi aset busuk bank tersebut yang akan diambil alih oleh pemerintah. Sementara dari asetnya yang masih bagus dapat dijual sehingga menghasilkan uang. Strategi ini juga dapat diterapkan pada bank terbesar, Bank of Siprus. |
You are subscribed to email updates from KOMPAS.com - Internasional To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 |
Tiada ulasan:
Catat Ulasan