Isnin, 28 Januari 2013

Sindikasi international.okezone.com

Sindikasi international.okezone.com


China Khawatir dengan Militerisasi Jepang

Posted: 28 Jan 2013 06:18 AM PST

BEIJING - China merasa khawatir dengan rencana Jepang yang ingin memperkuat militernya. Isu sengketa pulau yang melibatkan kedua negara Asia itu terlihat semakin sengit dari hari ke hari.

Pada Minggu kemarin, Menteri Pertahanan Jepang Itsunori Onodera mengumumkan penambahan personil militernya pada April mendatang. Kementerian Luar Negeri China langsung merasa khawatir akan hal itu. China langsung menyinggung sikap Jepang di era Perang Dunia II yang tergolong agresif.

"Karena alasan historis, Jepang seharusnya memusatkan perhatiannya ke perkembangan militernya. Kami berharap, Jepang tetap mendukugn perdamaian, menghormati kekhawatiran negara-negara lain di wilayah ini, bercermin dengan sejarah, dan melakukan tindakan yang berguna bagi penciptaan kestabilan regional," ujar Kementerian Luar Negeri China, seperti dikutip Reuters, Senin (28/1/2013).

Pulau yang dipersengketakan China dan Jepang terletak di kawasan Laut China Timur. Jepang menyebutnya dengan nama Senkaku, meski demikian China menyebutnya Diaoyu.

Kedua negara Asia itu menenangkan dirinya pada pekan lalu, tepat pada saat utusan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe melayangkan surat ke Ketua Partai Komunis China Xi Jinping. Dalam surat itu, Abe mengutarakan keinginannya untuk membangun hubungan bilateral yang kuat.

Meski demikian, China tetap meningkatkan kapabilitas militernya dan mengerahkan pesawat silumannya serta kapal induk. China pun menguji coba senjata barunya yang dapat digunakan untuk menghancurkan serangan misil jarak menengah.(AUL)

Medvedev Akui Assad Makin Melemah

Posted: 28 Jan 2013 05:35 AM PST

DAVOS - Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev mengakui, peluang Presiden Suriah Bashar al-Assad untuk bertahan kian mengecil. Medvedev mengakui kemitraan negaranya dengan Suriah namun Medvedev menjelaskan kembali bahwa negaranya bukanlah sekutu ekslusif Suriah.

"Sejak awal, Federasi Rusia tidak pernah menjadi sekutu ekslusif bagi Suriah atau Presiden Assad," ujar Medvedev, seperti dikutip CNN, Senin (28/1/2013).

"Kami memiliki hubungan yang baik dengannya dan ayahnya (Hafez al-Assad), namun dia memiliki hubungan yang jauh lebih akrab dengan negara-negara Eropa lainnya," papar Medvedev.

Mantan Presiden Rusia itu menjelaskan kembali, Rusia tidak pernah mengatakan bahwa tujuan utama dari kebijakannya adalah mempertahankan rezim Assad. Keputusan mengenai transisi kekuasaan Suriah hanya diputuskan oleh rakyat Suriah itu sendiri.

"Bila Assad terguling lewat revolusi, konflik antara para penerus Assad akan terjadi dan memakan waktu hingga beberapa dekade," imbuhnya.

Ketika ditanya, apakah pengaruh militan Suriah dapat menyebar ke wilayah selatan Rusia, Medvedev mengatakan bahwa pengaruh itu juga bisa muncul di Barat. Negara-negara Barat juga patut khawatir akan pengaruh tersebut.

"Mereka (pengaruh militan) Suriah dapat bergerak ke Eropa bila mereka ingin mencobanya. Dan juga ke Amerika Serikat (AS). Jadi, hal itu akan membuat kita semua waspada," ucap kepala pemerintahan Negeri Beruang Merah itu.

Sejauh ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan, 60 ribu warga tewas akibat perseteruan di Suriah sejak 2011 lalu. Kebanyakan dari mereka adalah warga sipil yang terdiri dari anak-anak dan perempuan.

Assad sempat meminta seluruh warganya agar ikut berperang di sisinya dan melawan pasukan-pasukan dari fraksi oposisi. Selama peperangan domestik itu berlangsung, Assad menyebut fraksi oposisi itu sebagai kelompok teroris yang mencoba mendestabilisasikan Suriah.(AUL)

Tiada ulasan:

Catat Ulasan