Khamis, 9 Februari 2012

Sindikasi welcomepage.okezone.com

Sindikasi welcomepage.okezone.com


BI Sebut Pertumbuhan Ekonomi Dunia Bakal Melambat di 2012

Posted: 09 Feb 2012 01:21 AM PST

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan ekonomi dunia pada 2012 diperkirakan menjadi 3,3 persen. Angka ini lebih rendah dari perkiraan sebelumnya 3,7 persen.

"Penyelesaian krisis yang dialami negara-negara Eropa, terkait utang dan defisit fiskal, masih akan memakan waktu dan ketidakpastian," papar Kepala Biro Humas BI Difi A Johansyah, di Gedung BI, Jakarta, Kamis (9/2/2012).

Sementara pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS) masih lemah. Hal tersebut pada perdagangan global yang menurun dan berpengaruh kepada kinerja ekonomi negara-negara emerging market termasuk Indonesia.

Dia menambahkan, aktifitas ekonomi global yang melemah, harga komoditas global nonenergi cenderung menurun dan disertai dengan penurunan tekanan inflasi global.

Kendati demikian, krisis Eropa dan Amerika Serikat (AS) dinilai tidak akan berdampak ke Indonesia. Di tahun imlek 2563 yang dikenal dengan Tahun Naga Air, diramalkan ekonomi Indonesia akan maju dan mendapat berkah. Hal ini karena kaki naga tepat mencengkeram khatulistiwa.

Ramalan tersebut dikatakan oleh Pembina Forum Bersama Indonesia Tionghoa Murdaya W Po Tjie Gwan dalam pidatonya pada Perayaan Cap Go Meh di Pekan Raya Jakarta (PRJ) Jakarta Pusat, Rabu (8/2/2012) malam.

Meski diramalkan akan semakin maju, sambung Murdaya, masyarakat tetap harus bekerja keras. "Kita harus turut berperan lebih maksimal terhadap pembangunan Indonesia ke depan di segala bidang," tuturnya. (ade)

Izin HTI Dipertahankan, Ini Syarat untuk Riau Pulp

Posted: 09 Feb 2012 01:21 AM PST

PEKANBARU - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengaku tetap mempertahankan izin Hutan Tanaman Industri (HTI) untuk PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) di Pulau Padang, Riau.

Namun demikian, pemerintah memberikan sejumlah persyaratan ke perusahaan, di antaranya kesejahteraan masyarakat sekitar harus diperhatikan. Menyikapi hal tersebut, Presiden Komisaris Riau Pulp Tony Wenas menyatakan siap mematuhi persyaratan itu.  Perusahaan menyebut senantiasa menghormati kebijakan dari Kementerian Kehutanan dengan tetap mengacu peraturan perundang-undangan yang berlaku.

"Sejak awal kami telah melakukan rencana spasial yakni mengalokasikan areal konsesi untuk tanaman kehidupan bagi masyarakat dan tanaman unggulan bagi pengelolaan hutan lestari," kata Tony kepada okezone, Kamis (9/2/2012).

Selain itu sebutnya, perusahaan juga akan mengalokasian untuk kawasan lindung di dalam area konsesi perusahaan.

"RAPP hanya akan mengelola Hutan Tanaman Industri (HTI) sebesar 25,6 persen untuk tanaman pokok akasia dari total seluruh areal Pulau Padang seluas 110 ribu hektare," tukasnya.

Dirjen Bina Usaha Kehutanan Kemenhut Imam Santoso menyebutkan jika ada lahan masyarakat yang masuk ke konsesi perusahaan, maka akan diinklaf (dikeluarkan dari areal). "RAPP diminta segera melakukan pemetaan konsesinya. Dan jangan ada pencaplokan lahan masyarakat," sebut Imam di Pekanbaru.

Keputusan mempertahankan izin konsesi perusahaan berdasarkan hasil keputusan dari tim mediasi konflik Pulau Padang yang berisikan semua unsur.

Sebelumnya, aski penolakan terhadap kehadiran PT RAPP di Pulau Padang, Riau sempat mencuat. Masyarakat melakukan aksi jahit mulut di depan Gedung DPR sebagai bentuk protes. Menurut warga, izin operasional perusahaan di sana banyak mencaplok lahan warga. Aksi ini membuat Kemenhut mengevaluasi izin yang sebelumnya dikeluarkan. (wdi)

Tiada ulasan:

Catat Ulasan