Isnin, 22 Oktober 2012

KOMPAS.com - Internasional

KOMPAS.com - Internasional


Rakyat Indonesia Diharapkan Dukung Perjuangan Rakyat Tibet

Posted: 23 Oct 2012 04:38 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com- Pemerintahan Tibet di pengasingan, yakni Central Tibetan Authority (CTA) yang berpusat di Dharamsala, India, mengharapkan agar rakyat Indonesia mendukung perjuangan rakyat Tibet untuk mendapatkan kembali hak-hak dasarnya di wilayah mereka yang sejak 1959 dikuasai China.

Demikian disampaikan Menteri Informasi dan Hubungan Internasional CTA Dicki Chhoyang saat berkunjung ke Jakarta, pekan lalu. Chhoyang menghadiri Konferensi Hak Asasi Manusia Asia Tenggara yang diselenggarakan Southeast Asian Human Rights Studies Network. 

Chhoyang menggarisbawahi bahwa hingga saat ini telah ada 55 warga Tibet yang menjadi korban aksi bakar diri di wilayah Tibet sebagai ungkapan protes atas represi pemerintah China atas warga Tibet. Jumlah tersebut meningkat menjadi 57 orang setelah dua orang lagi melakukan aksi bakar diri pada hari Senin dan Sabtu pekan lalu.

Menurut kantor berita AFP yang mengutip organisasi International Campaign for Tibet di AS, aksi bakar diri itu marak terjadi sejak Februari 2009. Menurut Chhoyang, para korban berusia antara 17-60 tahun, dan sebagian besar berasal dari kalangan biarawan dan biarawati Buddhis.

Mereka semua hanya menyerukan dua tuntutan yang sama, yaitu kebebasan di Tibet dalam mempraktikkan budaya asli dan agama mereka, dan pemerintah China mengizinkan pemimpin spiritual Tibet Dalai Lama kembali ke Tibet.

Bukan kemerdekaan

Chhoyang menegaskan bahwa perjuangan rakyat Tibet melalui CTA selama ini bukan untuk mencari kemerdekaan dan terlepas dari Republik Rakyat China (RRC), melainkan status otonomi khusus yang menghargai hak-hak warga Tibet menjalankan budaya dan agama mereka.

Perjuangan Tibet selama ini juga dilakukan tanpa kekerasan. Itu sebabnya, CTA menyerukan kepada negara-negara yang memiliki hubungan dekat dengan China, termasuk Indonesia, untuk secara lembut mengingatkan China soal persoalan yang terjadi di Tibet.

"Negara-negara di dunia tidak harus memilih antara Tibet dan China. Mereka hanya perlu mengingatkan China bahwa apa yang baik bagi Tibet, akan baik bagi China juga," tutur Chhoyang.

Chhoyang sendiri mengakui CTA hingga saat ini belum menjalin kontak resmi dengan Kementerian Luar Negeri RI untuk mengangkat isu-isu tersebut. Namun ia menegaskan, pihaknya selalu siap setiap saat jika diminta penjelasan terkait masalah yang terjadi di Tibet.

Ia juga berharap rakyat Indonesia akan mendukung dan memberikan solidaritas terhadap perjuangan rakyat Tibet. "Rakyat Indonesia menderita saat berada di bawah pemerintahan kediktatoran, jadi mereka tahu makna dan nilai kebebasan ini," tutur Chhoyang.

Editor :

Marcus Suprihadi

Baku Tembak Terus Berlangsung di Lebanon

Posted: 23 Oct 2012 04:16 AM PDT

Timur Tengah

Baku Tembak Terus Berlangsung di Lebanon

Selasa, 23 Oktober 2012 | 11:16 WIB

BEIRUT, KOMPAS.com - Pasukan Lebanon diterjunkan di kawasan mayoritas Sunni di Beirut, saat kekerasan sektarian meledak. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran baru setelah seorang pejabat intelijen Lebanon tewas dalam aksi bom mobil yang diduga didalangi Suriah, pekan lalu.

Militer Lebanon mengatakan enam orang terluka saat tentara melakukan penyisiran, Selasa (23/10/2012), dini hari di distrik Tariq Jdideh, saat mengejar sekelompok orang bersenjata.

Tentara terpaksa melepaskan tembakan balasan setelah diserang saat mereka mencoba membersihkan jalanan yang menuju ke distrik yang dikenal sebagai basis pemimpin oposisi, Saad Hariri.

Meski perdana menteri Lebanon menyerukan agar rakyat tidak berada jalanan, namun para pendukung Saad Hariri itu tak mengindahkannya dan terus mencoba membersihkan jalan yang menuju ke distrik itu.

Sementara itu, kerusuhan juga pecah di kota pelabuhan Tripoli. Pertempuran antara kelompok anti dan pro-Presiden Suriah Bashar al-Assad tak terhindarkan dan mengakibatkan sedikitnya tujuh orang tewas.

Kerusuhan di Tripoli terus terjadi saat tensi politik dari negeri tetangga, Suriah, merembes masuk. Lebanon dalam situasi 'kritis' sejak pembunuhan kepala intelijen Lebanon, Jenderal Wissam al Hassan, pekan lalu.

Aksi bom itu memunculkan spekulasi bahwa Perdana Menteri Lebanon, Najib Makati. yang kabinetnya dikuasai sekutu Suriah, Hizbullah, akan mengundurkan diri.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan