Ahad, 13 November 2011

KOMPAS.com - Internasional

KOMPAS.com - Internasional


UEA Undang Typhoon untuk Tantang Rafale

Posted: 14 Nov 2011 01:32 AM PST

DUBAI, KOMPAS.com- Pesawat tempur buatan Dassault Aviation dari Perancis, Rafale, kembali harus berhadap-hadapan dengan "saudara"-nya sesama pesawat buatan Eropa, Eurofighter Typhoon, untuk memenangi kontrak pembelian pesawat tempur dari Uni Emirat Arab (UEA).

Negara kaya di wilayah Teluk Persia itu sebenarnya sudah dalam tahap akhir negosiasi pembelian Rafale degan Perancis. Namun, hari Minggu (13/11/2011), pemerintah UEA tiba-tiba mengundang Eurofighter untuk membuat penawaran tandingan.

Pihak Eurofighter, konsorsium empat negara Eropa, yakni Inggris, Jerman, Italia, dan Spanyol, menyatakan, pada 17 Oktober lalu UEA meminta Inggris untuk memberikan informasi lengkap tentang kemampuan pesawat Typhoon. "Kami baru-baru ini menerima permintaan proposal tentang kemungkinan pasokan Typhoon. Kami saat ini sedang bekerja keras untuk merespons permintaan tersebut," tutur pihak Eurofighter tanpa menyebut detail jumlah pesawat yang diinginkan UEA dan batas waktu keputusan pembelian.

Baik Typhoon maupun Rafale, yang sama-sama berangkat dari konsep pesawat tempur masa depan Eropa pada era 1980-an, telah menyandang gelar "teruji dalam pertempuran" (battle proven) setelah dua tipe pesawat itu sama-sama sukses menjalankan misi operasi serangan udara di Libya beberapa waktu lalu.

Saat ini, dua jet tempur generasi 4,5 itu juga sedang bersaing memenangi kontrak pembelian 126 pesawat tempur multiperan kelas menengah (medium multirole combat aircraft, MMRCA) dari Angkatan Udara India.

Dua tipe pesawat ini memang sedang berjuang keras mencari pasar ekspor. Typhoon baru dibeli oleh dua negara di luar negara-negara pembuatnya, yakni Austria dan Arab Saudi. Sedangkan Rafale belum dilirik oleh satu negara pun di luar Perancis.

Bulan lalu, Menteri Pertahanan Perancis Gerard Longuet mengatakan, pihaknya sudah dalam tahap akhir negosiasi dengan UEA dalam proses pembelian Rafale. Sebagai salah satu negara terkaya di kawasan Timur Tengah, UEA akhir-akhir ini dikabarkan sedang membangun kekuatan militernya.

UEA dan negara-negara kawasan Teluk Persia lainnya, seperti Arab Saudi, Qatar, Oman, Kuwait, dan Bahrain, juga diandalkan negara-negara Barat, terutama AS, untuk menghadapi pertumbuhan kekuatan militer Iran.

Pekan lalu, AS dikabarkan akan menjual 4.900 bom pintar yang dilengkapi piranti pelacak sasaran presisi JDAM (joint direct attack munition) kepada UEA. Bom yang mampu menembus bungker-bungker bawah tanah ini bisa digunakan untuk menghancurkan fasilitas nuklir bawah tanah milik Iran.

Full content generated by Get Full RSS.

Rusia Terus Jual Senjata ke Suriah

Posted: 14 Nov 2011 12:29 AM PST

Rusia Terus Jual Senjata ke Suriah

| Egidius Patnistik | Senin, 14 November 2011 | 08:29 WIB

MOSKWA, KOMPAS.com — Rusia akan terus mengekspor senjata ke Suriah karena belum ada keputusan internasional yang dibuat untuk menyatakan hal itu tidak sah, kata seorang pejabat penting sebuah industri Rusia sebagaimana dikutip kantor berita Interfax, Minggu (13/11/2011).

Ketika berbicara pada pameran ketirgantaraan di Dubai, Uni Emirat Arab, Wakil Direktur Jasa Kooperasi Teknik dan Militer Rusia (FSVTS), Viacheslav Dzirkaln, mengatakan, "Karena tidak ada pembatasan pada pengiriman senjata ke Suriah, Rusia akan menghormati kewajiban-kewajiban kontraknya dengan negara itu."

Rusia telah mengatakan pada Agustus lalu bahwa mereka akan terus mengirim senjata ke sekutu lamanya itu. Rusia mengabaikan seruan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton pada negara-negara yang masih berdagang senjata dengan Suriah untuk menghentikan perdagangan dengan negara itu.

Tekanan internasional telah meningkat pada Presiden Bashar al-Assad untuk mengakhiri penindasan hebatnya kepada para penentangnya, yang menurut perkiraan PBB telah menyebabkan sedikitnya 3.500 orang tewas. Pasukan keamanan Assad telah menindak keras demonstran prodemokrasi, yang terinspirasi oleh revolusi Arab Spring, sejak 15 Maret lalu.

Meskipun Presiden Rusia Dmitry Medvedev pada Oktober telah meminta pada pemimpin Suriah untuk menerima pembaruan atau mundur, Rusia menentang sanksi PBB terhadap Suriah dan malah menegaskan perlunya untuk berdialog.

Full content generated by Get Full RSS.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan