Isnin, 26 September 2011

Sindikasi welcomepage.okezone.com

Sindikasi welcomepage.okezone.com


Mari Berbenah Diri Bersama

Posted: 26 Sep 2011 12:45 AM PDT

AKSI pengeroyokan siswa SMA 6 kepada wartawan beberapa waktu yang lalu sangat disayangkan. Pasalnya, aksi tersebut terjadi ketika sejumlah wartawan mengambil gambar siswa SMA 6 yang sedang melakukan aksi tawuran. Hal ini lumrah dilakukan wartawan karena hal itu merupakan proses jurnalistik, yaitu mengambil gambar atau informasi, dengan tujuan menginformasikan kepada masyarakat luas sehingga masyarakat mengetahui hal tersebut.

Dengan informasi tersebut diharapkan agar masyarakat juga turut serta dalam mengayomi para siswa yang sering kali melakukan aksi tawuran. Sehingga dapat terwujud tujuan bersama agar tidak terjadi lagi yang namanya tawuran di kalangan siswa. Karena, apa pun alasanya, tawuran tetap tindakan yang tercela.

Aksi tawuran di kalangan siswa, memang telah menjadi potret gelap dunia pendidikan selama ini. Kita tidak bisa membohongi hal tersebut. Hampir dalam tiap minggunya, satu hingga dua kali, aksi tawuran terjadi di kalangan siswa. Tentu dengan berbagai alasan yang dikemukakan oleh para siswa. Hal ini disayangkan banyak pihak karena notabenya, siswa hanya memiliki tugas belajar bukan tawuran.

Secara psikologi, siswa berada dalam posisi pencarian jati diri, dan dalam hal ini, jiwa muda mereka lebih mudah berkobar dengan berbagai macam yang dapat menyulut hal tersebut. Jika psikologi mereka tidak diarahkan dengan baik sesuai dengan kaidah-kaidah, maka ditakutkan siswa tumbuh secara menyimpang psikologinya. Alhasil, bisa kita lihat sekarang ini bahwa aksi tawuran semakin sering terjadi.

Berbicara masalah tawuran yang kerap terjadi, merupakan gambaran tidak tersalurkanya proses kognitif mereka ke dalam suatu kegiatan yang positif. Hingga akhirnya proses perilaku mereka cenderung kepada aksi tawuran dikarenakan proses kognitif yang tidak terarah secara baik.

Proses ini juga disebabkan oleh beberapa faktor, yakni masih banyak contoh-contoh kekerasan yang terjadi di lingkungan sekitar, seperti tayangan kekerasan di media massa, semakin kerasnya tindakan kriminal, hingga aksi premanisme di berbagai aspek yang tentu turut menyumbang lahirnya aksi tawuran di kalangan siswa

Ketika menyinggung masalah media massa yang menyajikan tayangan kekerasan, maka pemerintah dalam hal ini, sangat berperan penting dalam menghapuskan tayangan berbau kekerasan yang merajalela di layar kaca. Sudah tugas negara untuk menjaga mental rakyatnya dari informasi media massa yang merusak. Sedangkan pihak sekolah bertanggung jawab untuk membentengi anak didik dari perilaku barbar dengan lebih banyak menggelar kegiatan yang bermanfaat, terutama di bidang kerohanian. Maka, seorang guru diharapkan dapat mengajarkan nilai-nilai mulia, seperti kejujuran, gotong royong, ramah tamah, saling bantu, dan semacamnya.

Bagaimana pun, guru adalah teladan bagi murid-muridnya. Dia bukan hanya bertugas mengajar di kelas, tapi juga membimbing murid-muridnya di luar sekolah. Saat teladan guru hilang, siswa sekolah pun menjadi beringas. Buntutnya, tawuran pun kerap terjadi.

Menurut Sosiolog Musni Umar, salah satu yang melatarbelakangi tawuran siswa lantaran terjadi degradasi teladan guru-guru. "Makin jarang figur guru yang mendidik dan memberi teladan para siswanya," ujarnya.

Hal ini sangat disayangkan, pasalnya, siswa tentu akan mencari figur yang menurut mereka bisa dicontoh. Jika ada guru atau orang tua yang bisa dijadikan contoh oleh mereka, tentu mereka akan berpanutan kepada orang tersebut. Bahkan, bila pengaruh teladan tersebut baik dan kuat, maka kemungkinan besar siswa tidak terpengaruh kepada kelompok yang berorientasi tidak baik. Sehingga aksi tawuran pun dapat diminimalisir.

Memang, aksi tawuran ini sulit diprediksi oleh berbagai pihak. Namun demikian, tidak pantas rasanya bila mengatakan ada pembiaran terhadap siswa yang melakukan aksi tawuran. Pihak sekolah dan pemerintah pasti terus berusaha kuat agar anak-anak penerus bangsa ini tidak melakukan aksi tawuran.

Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Fasli Jalal, mengatakan, yang menjadi kekurangan adalah soal prediksi, ketepatan waktu, dan ketepatan strategi untuk mencegah tawuran terjadi.
 
"Pembiaran tidak, tetapi kecanggihan untuk memprediksi, ketepatan waktu, serta ketepatan strategi kita itu belum maksimal sehingga terjadi kebocoran-kobocaran," ujar Fasli.
 
Fasli juga menekankan kurangnya pengawasan. "Tawuran membuktikan bahwa pengawasan akan gerakan-gerakan di kalangan siswa belum berjalan baik,'' katanya. ''Seandainya pengawasan berjalan baik, maka bisa dilakukan pencegahan atau intervensi sehingga kasus tersebut (tawuran) tidak akan terjadi."

Selain itu, aksi tawuran terjadi karena terjadinya komunikasi kelompok yang salah oleh para siswa senior, yakni dengan mengkomunikasikan bahwa sekolahnya memiliki musuh atau sekolahnya harus dijaga dari serangan musuh sekolah lain. Bahkan parahnya, ada anggapan, terdapat musuh bebuyutan. Komunikasi kelompok ini, sangat efektif dalam memengaruhi perilaku siswa, terutama siswa junior karena mereka akan mendapat tekanan dan gencetan bila tidak mau mengikuti kemauan para senior

Maka sepantasnya, terdapat sosialisasi dan komunikasi yang efektif (Komunikasi tatap muka) dari para guru dan orangtua murid kepada siswa terhadap arah dan tujuan siswa di masa yang akan datang. Adanya komunikasi ini diharapkan juga menjadi salah satu kegiatan yang dapat menyalurkan aspirasi para siswa terhadap suatu hal sehingga terjadinya kesamaan makna yang berbasis kebersamaan dan kebaikan.

Iklim komunikasi yang tercipta dengan baik, akan dapat mengarahkan para siswa melihat secara jelas, mana tindakan yang menguntungkan, dan mana tindakan yang tidak menguntungkan. Sehingga, siswa akan terarah baik secara tugas maupun  fungsinya di sekolah serta di masyarakat.

Oleh karenanya, diharapkan adanya pembenahan dan pemasukan nilai moral yang preventif dan mendetail, bahkan bila perlu, adanya masukan nilai moral agama dalam dunia pendidikan secara berkala dan massif, mulai dari SD, SMP, hingga SMA. Hal ini, guna menumbuhkan karakter siswa yang tidak hanya dididik untuk menghafal dan mempelajari pelajaran-pelajaran yang pokok, namun juga mempelajari nilai-nilai moral, budi luhur, dan nilai-nilai agama yang nanti dapat diimplementasikan secara baik. Serta adanya kerja sama komunikasi antara pihak sekolah, masyarakat, dan siswa dalam menciptakan kebijakan yang baik, untuk menghasilkan insan yang bermartabat sebagai orang-orang yang berpendidikan

Angga Bratadharma
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi
Jurusan Jurnalitik
Universitas Prof. DR. Mosetopo (Beragama)
(//rhs)

Kadin Bingung BB Malaysia Dijual di Indonesia

Posted: 26 Sep 2011 12:45 AM PDT

JAKARTA - Beredarnya BlackBerry made in Malaysia di pasar tidak diketahui pihak Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), mereka mengatakan bahwa Kadin belum menemukan beredarnya BlackBerry buatan Negeri Jiran.

"Kalau kami tidak menemukan, adanya BB made in Malaysia," ujar Didie W. Sowondo, Vice Chairman of IT, Telecommunication Kadin Indonesia, di Jakarta, Senin (26/9/2011).

Tapi ketika okezone mengatakan bahwa beberapa pedagang di pasar mengaku BB Malaysia sudah beredar, Didie seperti bingung untuk menjawabnya. "Oh, sudah beredar yah?" jawab Vice Chairman of IT, Telecommunication Kadin Indonesia tersebut.

Pekan lalu beberapa pedagang di ITC Roxy Mas mengakui kalau BB made in Malaysia sudah masuk ke toko mereka. "BlackBerry buatan Malaysia sudah ada sejak sebelum Lebaran. Dari semua tipe yang paling laris adalah Gemini 8520 dan 9300," ujar Yuli dari toko Sonic Phone, ITC Roxy Mas, Jakarta.

Bahkan ketika okezone menelusuri pasar pekan lalu, beberapa pedagang mengatakan bahwa BB Malaysia lebih laris ketimbang BB buatan Hungaria, Meksiko ataupun Kanada. 

Sementara Menkominfo sendiri juga belum yakin kalau produk BB buatan Malaysia sudah beredar di Indonesia. "Saya mengenai RIM masih bingung, kemarin open house hari pertama lebaran, Duta Besar Kanada datang ke rumah saya, dan Duta Besar Kanada sendiri mengatakan belum mengetahui masalah itu," ungkap Tifatul pekan lalu.
(ATA)

Tiada ulasan:

Catat Ulasan