Selasa, 30 Oktober 2012

detikcom

detikcom


Pengungsi Rohingya: Kami Butuh Pengakuan, Tidak Sekadar Makanan

Posted: 30 Oct 2012 12:34 PM PDT

Rabu, 31/10/2012 02:34 WIB

Muhammad Taufiqqurahman - detikNews

Berbagi informasi terkini dari detikcom bersama teman-teman Anda Connect with Facebook

Sittwe - Apa yang sebenarnya diinginkan oleh etnis Rohingya? Tidak sekadar makanan, mereka butuh pengakuan kewarganegaraan dari pemerintah Myanmar. Mereka siap pindah ke negara lain, jika ada negara yang ingin menerima mereka.

"Kami lebih membutuhkan pengakuan daripada makanan," ujar Muhammad Umar, salah seorang warga etnis Rohingya di kamp pengungsi Se Tha Ma Gyi, Sittwe, Myanmar, Selasa (30/10/2012).

Kamp pengungsi Se Tha Ma Gyi berjarak 1 jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda empat. Setelah mendapatkan kepastian keamanan dan izin dari pemerintah lokal, detikcom bersama tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) mendatangi kamp ini. Di sini terdapat sekitar 10.000 ribu pengungsi yang mendiami shelter. Satu shelter bisa ditempati oleh 10 kepala keluarga.

Tidak hanya shelter, ada ratusan tenda keluarga yang dihuni oleh pengungsi. Untuk menuju ke wilayah ini harus melewati beberapa pos penjagaaan militer bersenjata. Ketika tiba di sana sekitar pukul 10.00 waktu setempat, ratusan orang langsung mengerubungi kendaraan yang kami tumpangi.

Muhammad Umar merupakan salah satu pengungsi di sana. Setelah mengetahui kami berasal dari Indonesia, Umar langsung menyapa dengan bahasa melayu. Umar mengaku pernah bekerja di Malaysia selama lima tahun. "Sekarang saya sudah 10 tahun di sini," kata Umar.

Umar bersama keluarganya telah tinggal di kamp pengungsian sejak bulan Juni lalu. Kerusuhan telah menghanguskan kampungnya di Sittwe. "Habis semua yang kami punya, kami sekarang tinggal di sini dan tidak dapat kemana-mana. Apalagi ke kota," ucapnya.

Umar menceritakan saat ini orang-orang etnis Rohingya tidak dapat menuju kota Sittwe, termasuk berbelanja ke pasar. Kini mereka hanya mendapatkan bantuan makananan dai pemerintah Myanmar, meski bantuan itu tidak cukup. Pemerintah Myanmar akan datang ke setiap kamp pengungsian untuk membagikan setiap sepuluh hari sekali.

"Dan makanan yang dibagikan hanya cukup untuk delapan hari saja. Dua harinya biasanya kami tidak makan," ujarnya.

Pada kesempatan itu, Umar menyebutkan bahwa yang terpenting saat ini adalah bagaimana dia dan etnisnya mendapatkan pengakuan dari pemerintah Myanmar. Dengan pengakuan itu, mereka dapat hidup normal dan dapat bekerja seperti biasanya.

"Jika tidak, kami harap ada negara yang mau menerima kami sehingga kami bisa pindah ke sana. Tidak ada pekerjaan di sini, kami setiap hari di kamp," ucapnya.

Detikcom menyaksikan adanya pasar-pasar kecil yang didirikan oleh pengungsi di sekitar kamp pengungsian. Puluhan anak-anak bermain dengan bertelanjang dada di lapangan yang berdebu, meski cuaca di Sittwe saat ini mencapai sekitar 34 derajat celcius pada siang hari. Beberapa keluarga menghabiskan hari mereka hanya dengan berteduh di bawah tenda, atau berkumpul bersama pengungsi lainnya untuk berdiskusi satu-sama lain.

(fiq/rmd)

Tutup
 Share to Facebook:

You are redirected to Facebook

loadingSending your message

Message has successfully sent


Sponsored Link

Pelajari Isu Perbatasan, Diplomat Madya RI Terjun ke Entikong

Posted: 30 Oct 2012 11:54 AM PDT

Rabu, 31/10/2012 01:54 WIB

Sukma Indah Permana - detikNews

Berbagi informasi terkini dari detikcom bersama teman-teman Anda Connect with Facebook

Entikong - Banyak isu perbatasan Indonesia-Malaysia yang sering menjadi masalah hangat di dalam negeri, terutama isu terkait tenaga kerja Indonesia (TKI). Untuk itu, diplomat madya Kementerian Luar Negeri RI terjun ke daerah perbatasan RI-Malaysia di Kecamatan Entikong, Kalimantan Barat, untuk mengkaji masalah yang ada di lapangan.

"Masalah perbatasan menjadi penting karena begitu kompleks. Mulai dari ketahanan, keamanan, ekonomi, politik, dan budaya. Para diplomat ini harus tahu praktik, tidak hanya teori," ujar Direktur Sekolah Staf Dinas Luar Negeri (Sesdilu), Jean Anes kepada detikcom.

Hal ini disampaikan Jean di sela-sela acara Diklat Terpadu Sekolah Staf Dinas Luar Negeri (Sesdilu) ke-49 di kantor Kecamatan Entikong, Kalimantan Barat, Selasa (30/10/2012).

Entikong dipilih untuk menjadi lokasi diklat karena memiliki kompleksitas masalah yang lebih tinggi dibanding dengan wilayah perbatasan lainnya di Indonesia. "Antara lain, Entikong ini kan lokasi pemulangan terbesar bagi TKI-TKI kita dari Malaysia yang bermasalah," lanjut Jean.

22 Diplomat madya yang mengikuti acara ini mendapat ulasan dari berbagai pihak berwenang di wilayah perbatasan. Antara lain Konjen RI untuk Kuching Malaysia, Djoko Harjanto; Camat Entikong, Markus; dan Konjen Malaysia untuk Indonesia, Khairul Nazran Abd Rahman.

Masing-masing mempresentasikan masalah-masalah apa saja yang dihadapi saat bertugas berhadapan langsung dengan WNI bermasalah dengan tetap mengedepankan prinsip kepedulian dan keberpihakan terhadap WNI. Sehingga jalan keluar yang dihasilkan di setiap masalah nantinya akan berorientasi pada kepentingan WNI.

"Kita harus punya nilai-nilai tersebut. Kalau orang biasanya menganggap yang salah ya memang harus dihukum. Tapi kami sebagai diplomat harus memiliki keberpihakan yang tegas kepada WNI," jelas Jean.

(sip/rmd)

Tutup
 Share to Facebook:

You are redirected to Facebook

loadingSending your message

Message has successfully sent


Sponsored Link

Tiada ulasan:

Catat Ulasan