Rabu, 20 April 2011

Sindikasi lifestyle.okezone.com

Sindikasi lifestyle.okezone.com


Cubit Mr P Bantu Pria Tunda Orgasme

Posted: 20 Apr 2011 10:01 AM PDT

Lifestyle » Lust and Love » Cubit Mr P Bantu Pria Tunda Orgasme
Kamis, 21 April 2011 - 00:01 wib

Dwi Indah Nurcahyani - Okezone

INGIN tahu lebih dalam seputar Mr P? Simak ulasan menarik ini, yuk!
 
Mr P baik bagi wanita ataupun pria sendiri sebenarnya seperti sebuah misteri. Berbagai pertanyaan pun muncul karena rasa penasaran yang menyelinap. Guna menghapus rasa keingintahuan tersebut, spesialis kesehatan pria Ardavan Akhavan MD membantu memberikan jawaban seputar masalah umum Mr P, seperti diulas Glamour.
 
Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah pria dari ejakulasi dini?
 
Pertama-tama, jangan stres memikirkan hal tersebut. Anda dapat membantunya dengan berfokus pada foreplay yang tidak melibatkan Mr P-nya. Bila Anda berganti posisi seks, cobalah menunda orgasme dengan memencet Mr P-nya. Setelah pasangan merasa dia bakal mencapai klimaks, biarkan dia berhenti dan mencubit Mr P tepat di bawah kepala sampai desakan itu hilang. Kemudian dia dapat memulai lagi permainannya. Ulangi proses tersebut sampai dorongan ejakulasi kembali muncul. Pilihan lain untuk mendapatkan ejakulasi adalah melakukan agenda seks untuk ronde berikutnya (jika dia bisa terangsang lagi). Pria biasanya memiliki kontrol lebih besar pada sesi kedua. Jika semuanya gagal, sebaiknya berkonsultasilah dengan dokter dan memintanya untuk mengonsumsi obat yang bisa membantunya bertahan lebih lama di ranjang.
 
Apakah ada perubahan Mr P pada pria lanjut usia?
 
Tidak ada bukti khusus bahwa ereksi pada Mr P secara fisik setelah usia 18 tahun mengalami perubahan. Namun, layaknya perubahan usia pada pria, hormon, pembuluh darah, dan perubahan saraf memang dapat mengakibatkan penurunan sensitivitas Mr P, disfungsi ereksi (DE), dan rendahnya libido. Disfungi ereksi biasanya akan menyerang antara usia 40–70 tahun. Hanya sebesar 7 persen saja dari pria berusia 18-29 tahun yang mengalaminya.
 
Pasangan mengklaim orgasme tapi tidak ejakulasi, apakah dia berbohong?
 
Tidak. Mungkin dia mengalami ejakulasi retrograde, gangguan di mana ejakulasi mengalir ke dalam kandung kemih dan bukan keluar melalui Mr P. Hal ini merupakan konsekuensi tertentu dalam riwayat medis seseorang, selain tentunya dipengaruhi faktor kondisi operasi dan obat-obatan yang dikonsumsi orang tersebut. Sebanarnya hal ini tidaklah berbahaya, tapi dapat membuat wanita sulit hamil. Jadi jika pria mengalami gangguan ini, segera berobatlah ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

(tty) Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Sering Melahirkan Risiko Dinding Miss V Keluar

Posted: 20 Apr 2011 04:43 AM PDT

Lifestyle » Fit and Beauty » Sering Melahirkan Risiko Dinding Miss V Keluar
Rabu, 20 April 2011 - 18:43 wib

Lastri Marselina - Okezone

MELAHIRKAN merupakan pengalaman membanggakan bagi seorang wanita. Di balik kebahagiaan yang meliputi, wanita melahirkan juga menanggung risiko prolaps organ panggul. Salah satu risiko ditangung oleh wanita yang sering melahirkan.

Dalam proses persalinan, banyak hal bisa terjadi, mulai kecacatan hingga nyawa melayang. Persalinan normal melalui Miss V memang lebih aman dibanding persalinan caesar yang mempunyai risiko kematian lima kali lebih tinggi. Namun, sebagian ibu melahirkan normal memiliki risiko kecacatan dasar panggul (prolaps organ panggul/POP) seperti robekan akibat penggunaan alat bantu saat melahirkan serta lamanya proses melahirkan.

Prolaps diartikan sebagai turun atau keluarnya dinding Miss V disertai organ panggul lain ke dalam atau keluar liang Miss V. Sebanyak 50 persen wanita yang telah melahirkan akan mengalami prolaps organ panggul, mulai dari derajat ringan sampai berat. Umumnya, kondisi ini dialami wanita usia 50 tahun ke atas dikarenakan bagian yang menyokong Miss V mulai melemah.

"Wanita yang melahirkan secara normal di bawah 35 tahun tetap berisiko, dengan perbandingan 1:4 (1 wanita mengalami POP di antara 4 wanita yang melahirkan-red) dan wanita di atas 35 tahun perbandingannya 1:2. Prolaps merupakan fenomena yang terabaikan, padahal sudah banyak sekali kasusnya di dunia bahkan Indonesia. Sudah saatnya kita memerbaiki paradigma bahwa dengan meningkatkn kualitas hidup, angka kematian ibu dapat ditekan," papar Dr Budi Iman Santoso, SpOG (K), Ketua Departemen Obstetrik dan Ginekologi FKUI-RSCM yang ditemui okezone pada acara Urogynecology Update 2011 di Gedung A RSCM, Jakarta, Rabu (20/4/2011).

Dijelaskan Dr Budi, perlu adanya edukasi untuk mencegah prolaps, di antaranya soal usia melahirkan yang cukup, membatasi jumlah kelahiran, dan skoring (proses mengetahui apakah seorang wanita berisiko trauma dasar panggul atau tidak dan memperhitungkan apakah ia bisa melahirkan normal atau caesar).

"Prolaps stadium 1, dinding Miss V terasa penuh, stadium 2 Miss V terasa penuh dan mengeluarkan darah, stadium 3 sudah terasa di pintu Miss V, dan stadium 4 sudah benar-benar keluar dan menonjol. Kebanyakan penderita stadium 1 dan 2 tidak merasakan keluhan dan membiarkannya. Barulah ketika sudah mulai terlihat menonjol dan mengganggu aktivitas sehari-hari, mereka menemui dokter," sahut Prof dr Junizaf SpOG (K) pada kesempatan yang sama.

Dijelaskan Prof dr Junizaf, ada beberapa faktor penyebab prolaps, di antaranya sering melahirkan, proses persalinan lama di atas 2 jam, terjadi 3-4 robekan saat melahirkan, bayi berukuran besar, bertambahnya usia yang menyebabkan jaringan kulit semakin lunak, menopause, obesitas yang menyebabkan penekanan berlebihan di  daerah panggul, genetik, mengangkat beban berat, dan merokok.

"Perokok sering kali batuk-batuk yang menyebabkan tekanan intraabdominal terus-menerus. Prolaps organ panggul memerlukan penanganan khusus berdasarkan tingkat keparahannya," jelasnya.

Beberapa gejala POP, yakni inkontinensia (mengompol yang tidak tertahankan), inkontinensia alvi (buang angin dan mengeluarkan feses yang tidak tertahankan), disfungsi seksual karena nyeri, sulit orgasme, gangguan hasrat seks, serta prolaps organ (dinding Miss V keluar dari tubuh).

Samakah dengan turun berok? "Analoginya sama, tapi bukan," kata Prof dr Junizaf.

Saat ini, dikatakan Prof dr Junizaf, teknologi terkini penangananan POP adalah MESH, yakni memerbaiki anatomi otot atau ligamen penyangga uterus, ditambahkan polypropylene Mesh (xenograt), berupa sling yang berperan menyangga organ di dalam panggul dengan tingkat keamanan dan keberhasilan yang optimal.

(ftr) Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Tiada ulasan:

Catat Komen