Selasa, 19 Mac 2013

Sindikasi international.okezone.com

Sindikasi international.okezone.com


Ini Jawaban Dubes Rusia Terhadap Perisai Misil AS

Posted: 19 Mar 2013 01:02 PM PDT

JAKARTA - Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Y. Galuzin memberikan paparan terhadap rencana penambahan perisai misil Amerika Serikat (AS) di Fort Greely, Alaska. Rusia menolak keras tindakan negara yang membentuk aliansi militer.

Seperti diketahui, AS memang baru saja meninggalkan proyek pembangunan senjata anti-misil North Atlantic Treaty Organization (NATO) yang ada di perbatasan Rusia.

"Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, kami tidak mendukung sekelompok negara membentuk aliansi militer yang ditujukan untuk membangun misil. Bila mitra kami, AS, dan NATO ingin membangun sistem pertahanan misil balistik, mereka harus memberi jaminan keamanan pada kami bahwa misil itu tidak akan mengancam keamanan Rusia," ujar Galuzin, di Pusat Budaya dan Ilmu Pengetahuan Rusia, Jakarta, Selasa (19/3/2013).

"Kami sedang berdialog membahas misil-misil itu," imbuhnya.

Seperti diketahui, tepat pada hari ini Negeri Paman Sam mengumumkan bahwa mereka telah menghentikan fase terakhir dari pembangunan sistem pertahanan misil Eropa yang ditujukan untuk menangkal ancaman misil balistik dari Korea Utara (Korut) dan Iran. Penghentian itu diumumkan langsung oleh Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel. AS sendiri dikabarkan telah menyelesaikan tiga fase pembangunan perisai misil itu.

Sejauh ini, sistem pertahanan misil Eropa menjadi salah satu hal yang terus membuat AS dan Rusia bersitegang. Rusia tetap khawatir, sistem pertahanan anti-misil itu akan terus berkembang dan berubah menjadi senjata yang akan mengganggu keamanan fasilitas nuklir Negeri Beruang Merah itu.

Berita Selengkapnya Klik di Sini

(faj)

Dekati Asia, Rusia Tak Ancam Kepentingan AS

Posted: 19 Mar 2013 11:01 AM PDT

JAKARTA - Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Y. Galuzin menjelaskan, kehadiran Rusia di Asia-Pasifik sama sekali tidak ditujukan untuk mengancam kepentingan Amerika Serikat (AS) yang juga melakukan hal yang sama. Galuzin menegaskan, kebijakan Rusia bukanlah sebuah konfrontasi.

"Baiklah, kebijakan luar negeri kita memang ditujukan untuk menghadapi ancaman, namun kami tidak pernah memandang hal itu sebagai mekanisme untuk membendung kebijakan AS. Apa yang ingin kami lakukan hanyalah mempromosikan hubungan baik dengan AS dan menciptakan stabilitas," ujar Galuzin, di Pusat Budaya dan Ilmu Pengetahuan Rusia, Jakarta, Selasa (19/3/2013).

"Jadi, kebijakan luar negeri kami sama sekali tidak ditujukan untuk konfrontasi. Ini adalah bentuk kerja sama dan kami memang ingin bertindak lebih aktif," tegasnya.

Pada kesempatan itu, Galuzin juga mengutarakan bahwa salah satu cita-cita Negeri Beruang Merah adalah membangun hubungan bilateral yang baik dengan mantan rivalnya di Perang Dingin (AS). Karena Rusia lebih memandang ancaman-ancaman modern yang belakangan ini muncul adalah ancaman yang tidak bisa ditanggulangi dengan konfrontasi.

Secara tidak langsung, Galuzin mengkritik kebijakan aliansi yang masih diusung AS hingga saat ini terhadap sejumlah negara-negara di Asia. Menurut Galuzin, sistem aliansi pertahanan tradisional seperti yang dilakukan AS jelas tidak akan bisa dimanfaatkan untuk menangkal ancaman-ancaman modern berupa poliferasi nuklir, penyelundupan narkotik, krisis ekonomi, dan lainnya.

Galuzin pun menegaskan kembali, perubahan konsep kebijakan luar negeri Rusia disebabkan karena adanya perubahan lansekap geopolitik akibat krisis ekonomi di Barat. Krisis itu semata disebabkan karena sistem politik dunia yang dipandang Rusia sebagai sistem yang polisentris.

Bersamaan dengan itu, Rusia memandang Asia-Pasifik sebagai wilayah yang berpotensial. Rusia menganggap negara-negara Asia-Pasifik saat ini memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup baik.

Berita Selengkapnya Klik di Sini

(faj)

Tiada ulasan:

Catat Ulasan