Isnin, 12 November 2012

ANTARA - Berita Terkini

ANTARA - Berita Terkini


Rupiah Selasa pagi menguat 10 poin

Posted: 12 Nov 2012 07:14 PM PST

Ilustrasi--Petugas teller menumpuk mata uang rupiah, di Bank Permata, Jakarta. (ANTARA/Ismar Patrizki)

Berita Terkait

Jakarta (ANTARA News) - Mata uang rupiah terangkat tipis pada Selasa pagi terhadap dolar AS sebesar 10 poin menyusul kabar disetujuinya pengetatan anggaran Yunani sebagai prasyarat penerimaan "bailout".

Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta Selasa pagi bergerak menguat nilainya sebesar 10 poin menjadi Rp9.615 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.625 per dolar AS.

Pengamat pasar Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih di Jakarta, Selasa mengatakan, Pemerintah Yunani telah mendapat persetujuan parlemennya untuk pengetatan anggaran (austerity program) sebesar 11,5 miliar euro dalam dua tahun.

"Persetujuan parlemen Yunani dalam pengetatan anggarannya merupakan prasyarat pencairan dana talangan. Pencairan dana talangan Yunani akan memicu mata uang rupiah terhadap dolar AS bergerak menguat meski terbatas," kata .

Saat ini, dikatakan dia, investor tengah menunggu hasil pertemuan menteri-menteri Keuangan Uni Eropa (UE) yang akan memutuskan pencairan dana talangan Yunani.

Ia menambahkan, investor juga terus memperhatikan perkembangan mengenai "fiscal cliff" AS hingga enam minggu ke depan. Minggu ini Presiden AS akan mengundang petinggi partai Republik dan Demokrat untuk kompromi politik mengatasi isu "fiscal cliff".

"Fiscal Cliff akan membuat defisit anggaran berkurang sebesar 607 miliar dolar AS disertai naiknya pajak. Fiscal cliff` bisa membuat ekonomi AS melemah di tahun 2013," kata dia.

Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menambahkan, kabar mengenai persetujuan parlemen Yunani terhadap proposal penghematan anggaran pemerintah memberi angin segar ke pasar keuangan.

"Persetujuan itu akan membuka jalan bagi pemberian dana talangan sebesar 31,5 miliar euro yang diperlukan Yunani untuk membiayai pemerintahannya," kata dia.
(ANT)

Editor: Desy Saputra

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Lesunya bursa global picu pelemahan IHSG

Posted: 12 Nov 2012 07:14 PM PST

Ilustrasi (ANTARA/Ismar Patrizki)

area "support-resistance" 4.307-4.350.

Berita Terkait

Jakarta (ANTARA News) - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa diprediksi akan mengalami pelemahan dengan area "support-resistance" 4.307-4.350.

Prediksi itu didasarkan pada kondisi lesunya perdagangan di Wall Street, yang akan berimbas ke bursa regional, termasuk bursa domestik. Demikian dikatakan Analis pasar saham, Edwin Sebayang, ketika ditanya ANTARA News, di Jakarta, Selasa.

"Bursa Indonesia akan bergerak lambat, tidak bergairah dan cenderung turun, terlebih pendeknya perdagangan pada pekan ini," katanya.

Meski demikian, ada baiknya investor benar-benar selektif memilih saham emiten, terutama emiten yang sedang melakukan aksi korporasi, karena akan sangat mempengaruhi kinerjanya ke depan.

Untuk kondisi eksternal, tambah Edwin, jurang fiskal (fiscal cliff) diperkirakan berpeluang tidak dapat mencapai kata sepakat menjelang 1 Januari 2013 merujuk hari efektif yang dimiliki Kongres AS tinggal 16 hari Lagi (8 hari pada November dan 8 hari pada Desember 2012) setelah dipotong masa reses dan liburan, sehigga tidaklah mengherankan selama sisa waktu itu Wall Street berpeluang terjun bebas kembali.

Sementara analis lain, James Wahjudi, menjelaskan secara teknikal indeks akan bergerak "mixed" pada kisaran 4.300-4.350.

"Antisipasi aksi ambil untung (profit taking) menjelang liburan panjang akan memberikan sentimen terhadap pergerakan indeks," terangnya.

Di sisi lain, ucapnya, dirilisnya data produksi industri Jepang diprediksi akan memberikan sentimen tambahan.

Untuk saham yang layak diperhatikan di antaranya PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), PT Indosat Tbk (ISAT), PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

(KR-IAZ)

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Tiada ulasan:

Catat Komen