Selasa, 17 Julai 2012

ANTARA - Mancanegara

ANTARA - Mancanegara


Amerika Serikat gelar operasi anti-ranjau di dekat Teluk

Posted: 17 Jul 2012 08:57 PM PDT

Washington (ANTARA News) - Amerika Serikat dan sekitar 20 negara lain akan menggelar operasi besar anti-ranjau di dekat Teluk pada September, kata Pentagon, Selasa. Ini ditempuh setelah Iran mengancam pihaknya bisa memblokir pengiriman minyak.

Manuver-manuver operasi itu termasuk satu simposium tentang penanggulangan ranjau, yang akan diadakan antara 16-27 September, kata juru bicara Pentagon, George Little.

"Ini latihan defensif untuk melestarikan kebebasan navigasi di jalur perairan internasional di Timur Tengah," kata Little.

Amerika Serikat telah menyebarkan USS Ponce sebagai cadangan logistik dalam upaya anti-ranjau itu.

Untuk itu telah ditingkatkan dua kali lipat menjadi delapan jumlah kapal penyapu ranjau di Teluk dan dikirim pula empat MH-53 Sea Stallion, helikopter anti-ranjau serta pesawat tanpa awak bawah air.

"Ini bukan latihan yang bertujuan menyampaikan pesan kepada Iran," kata Little.

"Ini adalah latihan yang dirancang untuk, dalam forum multinasional ini, meningkatkan kemampuan dan kerja sama," katanya menambahkan.

Washington telah memperingatkan Teheran tidak memblokir Selat Hormuz yang strategis, yang dalam ancaman Iran, pemblokiran akan dilakukan jika sanksi-sanksi internasional terhadap program nuklirnya mulai menggigit.

Pentagon juga membangun satu stasiun radar pertahanan peluru kendali di satu lokasi rahasia di Qatar, kata surat kabar The Wall Street Journal, Selasa.

Situs itu akan menjadi bagian dari sistem yang dimaksudkan untuk membela kepentingan Amerika Serikat dan sekutu regionalnya terhadap roket Iran, kata para pejabat AS yang tidak disebutkan namanya kepada surat kabar itu.

Sebuah radar serupa telah ada di Gunung Keren di Gurun Negev sejak 2008, dan satu lagi dipasang di Turki sebagai bagian dari perisai pertahanan rudal Pakta Pertahanan Atlantik Utara.

(H-AK) 

Krisis Suriah masuki tahap baru

Posted: 17 Jul 2012 08:21 PM PDT

Damaskus (ANTARA News) - Kerusuhan dan kekacauan di beberapa kota besar Suriah sejak awal krisis telah mencapai jantung ibu kota Suriah, Damaskus, yang menghadapi peningkatan bentrokan antara militer dengan gerilyawan dalam dua hari belakangan.

Asap menutupi langit kota Damaskus dan suara ledakan berkumandang di beberapa permukiman.

Suriah menyatakan akan melanjutkan upaya memburu kelompok teror bersenjata di sejumlah daerah bergolak di Damaskus, terutama di al-Midan dan al-Qaboun.

Sementara Tentara Suriah Baru (FSA) menyatakan "pertempuran lebih besar" di Damaskus sudah dimulai dan mereka telah menggunakan taktik baru untuk melancarkan sejumlah serangan serentak di banyak daerah serta membakar ban yang dilaporkan untuk memecah perhatian militer Suriah.

Laporan media setempat meningkatkan spekulasi bahwa beberapa hari ke depan akan ada lonjakan kerusuhan. Namun menurut laporan kantor berita Xinhua, Menteri Penerangan Suriah Omran az-Zoubi pada Selasa (17/7) menegaskan situasi di Suriah "normal seperti biasa."

Ia mengatakan bahwa apa yang telah disiarkan oleh beberapa stasiun televisi dan media mengenai situasi di Damaskus "tidak akurat dan tak mencerminkan kebenaran serta kenyataan."

"Jujur saja, gambar ini hanya mencerminkan ilusi dan keinginan sebagian pihak, dan tak sesuai dengan kenyataan," katanya dalam sebuah pernyataan.

Ia juga mengatakan bahwa "kehidupan di Damaskus dan kota besar lain dan provinsi normal dan alamiah dan agen penegak hukum serta aparat keamanan yang kompeten melakukan tugas mereka secara tepat dan dengan penuh semangat."

Di luar negeri, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran memperingatkan setiap peningkatan dalam kondisi keamanan di Suriah akan menciptakan kondisi yang serupa di seluruh wilayah tersebut.

Beralihnya kekacauan ke Damaskus telah mengirim sinyal bahwa rencana enam-pasal yang diajukan utusan khusus PBB-Liga Arab untuk Suriah Kofi Annan guna memantau gencatan senjata di negeri itu benar-benar telah macet.

Annan sudah memberitahu Moskow bahwa situasi di Suriah telah mencapai tahap yang mengkhawatirkan, sementara Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan Moskow akan melakukan apa saja untuk membuat berhasil upaya Annan mencapai penyelesaian politik di Suriah.

Annan mengeluarkan pernyataan tersebut sehari sebelum Dewan Keamanan PBB melakukan pemungutan suara bagi resolusi baru di tengah perpecahan di kalangan negara besar dunia.

(C003)

Tiada ulasan:

Catat Ulasan