Rabu, 28 September 2011

KOMPAS.com - Internasional

KOMPAS.com - Internasional


Parlemen Iran Kecam Arab Saudi

Posted: 29 Sep 2011 04:45 AM PDT

Parlemen Iran Kecam Arab Saudi

Egidius Patnistik | Kamis, 29 September 2011 | 11:45 WIB

TEHERAN, KOMPAS.com — Lebih dari 200 anggota parlemen Iran mengeluarkan pernyataan bersama, Rabu (28/9/2011), yang mengecam apa yang mereka katakan sebagai "peran" Arab Saudi dalam menindas demonstrasi di Bahrain dan Yaman, kata laman internet parlemen itu.

"Pembunuhan orang tak bersalah di kedua negara itu, terkait peran Arab Saudi, menunjukkan lemahnya pemerintah" di Manama dan Sanaa, kata pernyataan yang ditandatangani oleh 210 anggota dari parlemen yang memiliki 290 kursi itu.

Pernyataan tersebut meminta PBB untuk mengirim utusan dan menyelidiki situasi hak asasi manusia serta "menghentikan campur tangan Arab Saudi dalam urusan dalam negeri" kedua negara tersebut. Para anggota parlemen itu juga mengecam "kebungkaman Barat" dalam menghadapi "penindasan orang-orang kejam" itu.

Iran mendukung secara lisan pergolakan di dunia Arab, dengan pengecualian pergolakan di sekutu regionalnya, Suriah, tempat negara itu mendukung rezim Presiden Bashar al-Assad. Ketegangan antara Iran dan Arab Saudi meningkat dengan cepat Maret lalu ketika tentara Saudi campur tangan di Bahrain untuk membantu keluarga Sunni kerajaan Teluk yang berkuasa dalam menindas demonstrasi sebulan lamanya yang dipimpin masyarakat mayoritas Syiah.

Iran juga mengecam tindakan keras yang didukung Riyadh terhadap demonstran di Yaman.

Aktivis Revolusi Arab Bakal Raih Nobel

Posted: 29 Sep 2011 04:30 AM PDT

STOCKHOLM, KOMPAS.com - Pada tahun yang didominasi berita tentang Revolusi Arab, spekulasi menyebar bahwa seorang penyair Suriah dan blogger Tunisia bakal meraih hadiah Nobel di bidang sastra dan perdamaian dalam penganugeran Nobel 2011 yang mulai dibuka Senin (3/10/2011) mendatang.

Nama-nama calon peraih hadiah Nobel sangat dirahasiakan oleh Komite Nobel. Namun setiap tahun banyak rumor berkembang terkait penghargaan Nobel di bidang kedokteran, fisika, kimia, ekonomi, sastra, dan perdamaian.

Tahun lalu Nobel Perdamaian dianugerahkan kepada pembangkang China, Liu Xiaobo. Tahun ini, menurut Asle Sveen, seorang sejarawan khusus dalam bidang hadiah Nobel Perdamaian, sebagaimana dikemukakannya kepada AFP, lima anggota Komite Nobel bisa saja pada 7 Oktober nanti menghargai aktivis yang berada di balik Revolusi Arab. Revolusi yang menumbangkan rezim-rezim otoriter di Tunisia, Mesir dan Libya. Jika itu terjadi, ia memperkirakan, hadiah itu bisa jatuh kepada blogger Tunisia, Lina Ben Mhenni, yang melaporkan revolusi di negaranya di internet.

"Dia Muslim moderat, seorang perempuan, dan penghargaan itu akan menjadi peneguhan bagi media sosial (untuk menyebarkan revolusi rakyat) dan Revolusi Arab," kata Sveen. "Bagi saya, itu ide brilian," katanya. Ia mencatat, terakhir kali seorang perempuan memenangkan Nobel Perdamaian pada 2004 ketika hadiah itu dianugerahkan kepada aktivis lingkungan Kenya, Wangari Maathai, yang baru saja meninggal.

Sementara itu, Kepala Institut Riset Perdamaian Oslo, Kristian Berg Harpviken, mengatakan, favorit dia adalah Isra Abdel Fattah dari Mesir dan Gerakan Pemuda 6 April. "Gerakan itu, di mana Fattah salah satu pendiri, memainkan peran kunci dalam menjaga arah dan karakater tanpa kekerasan dari pemberontakan di Mesir," katanya.

Juga ada dalam daftar Harpviken adalah eksekutif Google, Wael Ghonim, "seorang aktivis yang memegang prinsip tanpa kekerasan", yang menjadi pusat inspirasi dari protes warga di Tahrir Square, dan yang oleh majalah Time diberi gelar sebagai salah satu dari 100 orang paling berpengaruh pada 2011. Nama lain yang beredar adalah aktivis hak asasi manusia Sima Samar dari Afganistan, organisasi hak asasi manusia Memorial dari Rusia, aktivis Leymah Gbowee dari Liberia, Perdana Menteri Zimbabwe Morgan Tsvangirai, mantan-kanselir Jerman dan Uni Eropa Helmut Kohl.

Untuk Nobel Sastra, sejumlah kalangan di bidang sastra Stockholm juga meperirakan, kondisi di Timur Tengah dapat dipertimbangkan dalam pilihan di Swedish Academy, dan penyair Suriah, Adonis, dilihat sebagai calon yang potensial. "Ini saatnya bagi seorang penyair dan Timur Tengah. Jadi, siapa yang akan lebih baik daripada Adonis?" kata Nicklas Bjoerkholm, manajer Hedengren, salah satu toko buku terbesar di Stockholm.

Adonis yang berbasis di Perancis, yang bernama asli Ali Ahmed Said, memenangkan hadiah bergengsi Goethe pada Juni. Pada bulan yang sama, ia menerbitkan sebuah surat terbuka kepada Presiden Suriah, Bashar al-Assad, di sebuah harian Lebanon. Isinya mendesak Al Assad mengakhiri penindasan berdarah di negara itu.

Namun ada yang berpendapat, tidak mungkin Akademi melirik wilayah itu. Stephen Farran-Lee, editor senior di penerbit Bonniers, mengatakan, "Akademi sangat berkepentingan untuk menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki agenda politik, dan karena itu, saya akan mengatakan bahwa peluang penulis Arab sangat kecil tahun ini ketimbang tahun-tahun sebelumnya".

Ada yang menyebutkan Nobel Sastra kali mungkin akan diraih oleh Ngugi wa Thiong'o dari Kenya, penulis Somalia Nuruddin Farah, Peter Nadas dari Hungaria, penyair Korea Ko Un, Haruki Murakami dari Jepang, Vijaydan Detha dari India dan Les Murray dari Australia, penulis Israel Amos Oz, serta penulis AS Joyce Carol Oates, Philip Roth dan Cormac McCarthy. Tahun lalu, Nobel Sastra jatuh kepada penulis Peru berdarah Spanyol, Mario Vargas Llosa.

Tanggal pengumuman peraih Nobel Sastra terungkap hanya beberapa hari sebelumnya, tetapi secara tradisional pengumumannya akan jatuh pada hari Kamis pertama Oktober dan karena itu secara luas diperkirakan akan diumumkan pada 6 Oktober. Pengumuman peraih Nobel di bidang kedokteran akan memulai 'musim Nobel' tahun ini yang akan dilakukan Senin, lalu diikuti pengumuman peraih Nobel di bidang Fisika dan Kimia pada hari Selasa dan Rabu. Hadiah di bidang ekonomi akan diberikan pada 10 Oktober. Para pemenang akan menerima 10 juta kronor Swedia (1,48 juta dollar AS) yang dapat dibagi hingga untuk tiga pemenang per kategori.

Tiada ulasan:

Catat Komen