Ahad, 13 Februari 2011

ANTARA - Mancanegara

ANTARA - Mancanegara


Pukulan Dibalas Cium oleh Eksekutif Google Mesir

Posted: 13 Feb 2011 09:10 PM PST

Berita Terkait

Video Terkait

Washington (ANTARA News) - Aktivis dunia maya Wael Ghonim mencium tentara-tentara yang pernah memukuli dan menahannya dengan mata tertutup saat dia dibebaskan setelah ditahan selama 12 hari.

"Saya buka penutup mata saya dan mengatakan `halo` dan mencium mereka semua," kata eksekutif pemasaran Google untuk kawasan Timur Tengah itu dalam wawancara dengan stasiun televisi CBC dalam acara "60 Minutes" yang ditayangkan pada Minggu.

"Dan Anda tahu? Hal itu menyenangkan," kata Ghonim yang menjadi pemimpin demonstrasi jalanan yang menggulingkan Presiden Hosni Mubarak. "Saya mengirimkan pesan kepada mereka."

Ghonim (30) mengatakan pemukulan yang dialaminya "tidak sistematis."

"Pemukulan itu tergantung pada masing-masing individu dan tidak berasal dari perintah atasan mereka," katanya. "Hal itu berasal dari inisiatif tentara sendiri."

"Saya memaafkan mereka semua, saya harus mengatakan saya memaafkan mereka karena satu hal bahwa mereka yakin saya membahayakan negara," katanya. "Saya menjadi mirip seorang penghianat, saya membuat ketidakstabilan bagi negara."

"Jadi saat ia (tentara) memukul saya, sesungguhnya ia tidak memukul saya karena... ia adalah orang yang tidak baik. Ia memukul saya karena ia berpikir ia adalah orang baik," tambahnya.

Ghonim yang memulai laman "We Are All Khaled Said" di jejaring sosial Facebook yang membuatnya dianggap membantu pergerakan demonstran mengatakan demonstrasi penggulingan Mubarak tidak dapat terjadi tanpa peran jejaring sosial dalam jaringan (online).

"Bila tidak ada jejaring sosial, gerakan itu tidak akan timbul," katanya. "Karena itu segala sesuatu sebelum revolusi merupakan hal yang paling pengting."

"Tanpa Facebook, Twitter, Google, atau YouTube, hal ini tidak akan pernah terjadi," kata Ghonim. "Salah satu kesalahan strategis rezim adalah memblokir Facebook."

"Mengapa? Karena mereka mengatakan kepada empat juta orang bahwa mereka sangat ketakutan dengan revolusi --dengan memblokir Facebook."

"Mereka memaksa semua orang yang mengetahui hal itu yaitu mereka yang tadinya hanya menunggu berita di Facebook menjadi turun ke jalan untuk ikut ambil bagian dalam gerakan ini," katanya.

Ghonim mengatakan ia juga mendapatkan ancaman untuk dibunuh dan dituduh sebagai mata-mata dan penghianat.

"Namun saya kira dalam beberapa hari ke depan, semua dokumen hitam dari rezim akan diketahui oleh semua orang, semua orang akan melihat dan membacanya, dan Anda tahu? Saat kita mengetahui tentang uang yang dicuri dari negara, segala sesuatu akan menjadi lebih baik," ungkapnya.

Ghonim ditanya dalam program "60 Minutes" mengenai apa yang seharusnya dipikirkan oleh para penguasa lainnya setelah demonstrasi di Mesir.

"Ia seharusnya ketakutan, ia seharusnya sangat-sangat ketakutan," katanya.
(KR-DLN/M016)

Editor: Aditia Maruli
COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Mubarak Dikabarkan Pergi ke Emirat

Posted: 13 Feb 2011 08:30 PM PST

Berita Terkait

Video Terkait

Berlin (ANTARA News) - Mantan Presiden Mesir Hosni Mubarak dikabarkan telah meninggalkan tanah airnya pada Jumat menuju Uni Emirat Arab, tempat ia mendapat perlindungan, tulis laman situs majalah mingguan Stern yang berbasis di Hamburg, Jerman  pada hari Minggu.

Majalah tersebut mengutip beberapa sumber yang mengatakan bahwa pesawat milik maskapai penerbangan swasta Air Arabia menerbangkan Mubarak (82) dari tempat wisata Sharm al-Sheikh ke Sharjah, tempat 19 konvoi kendaraan telah menantinya.

Keluarga Mubarak, termasuk istrinya telah meninggalkan Mesir pada Selasa menuju Sharjah yang berada di wilayah UAA.

Keluarganya dikabarkan tinggal di salah satu istana bagi penguasa UAE yang selama ini menjadi salah satu sekutu dekat mantan diktator Mesir itu.

Mubarak mundur dari jabatan kepresidenannya pada Jumat setelah pergolakan politik terburuk di negara Arab yang dipimpinnya selama 30 tahun tersebut.
(KR-DLN/M016)

Editor: Aditia Maruli
COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan