Sabtu, 6 Oktober 2012

KOMPAS.com - Regional

KOMPAS.com - Regional


Mereka Terpaksa Kurung Keluarga di Kandang....

Posted: 06 Oct 2012 07:42 AM PDT

Mereka Terpaksa Kurung Keluarga di Kandang....

TRENGALEK, KOMPAS.com - Beberapa keluarga penderita gangguan kejiwaan di Desa Gamping, Kecamatan Suruh, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur memilih mengurung atau memasung anggota keluarganya yang menderita sakit jiwa karena faktor keterpaksaan. Mereka telah berupaya sekuat tenaga dan banyak mengeluarkan biaya untuk mengupayakan kesembuhan namun belum berhasil.

Keluarga Asman Budi (37), salah satu penderita sakit jiwa, misalnya, telah menempuh beragam cara agar pria yang menderita sakit jiwa sejak tahun 1996 ini sembuh dari penyakitnya. Keluarga telah mengupayakan pengobatan medis hingga non medis, namun hasilnya tidak begitu menggembirakan dan Asman Budi kini menghuni kerangkeng yang terbuat dari bambu.

"Tiga kali kami bawa ke dokter umum sampai ke dokter spesialis syaraf, tapi hasilnya ya seperti ini. Pernah juga kami bawa ke pengobatan alternative, sama saja," kata Hariyadi, kakak ipar Asman Budi, Jum'at (5/10/2012).

Hariyadi menuturkan, kondisi kejiwaan adiknya itu mulai pasang surut sejak bekerja sebagai penjual bakso di Irian Jaya. Setelah bekerja sekitar satu setengah tahun, rekan-rekan adiknya membawa pulang karena Asman Budi mulai terganggu jiwanya. Saat itu keluarga memeriksakannya ke dokter saraf dan berhasil sembuh.

Kejadian tersebut terulang hingga dua kali, yaitu saat Asman merantau ke Malang dan Tulungagung, ia kembali mengalami ganguan kejiwaan dan lagi-lagi berhasil disembuhkan. Pada sepeninggal Sutijah, ibunya, kondisi Asman semakin kacau dan pada tahun 2005 mencapai puncaknya hingga saat ini.

"Biaya pengobatannya tidak murah, sementara keluarga meskipun tergolong ekonomi pas-pasan, tapi terus berupaya bergotong royong menanggung pengobatan. Hingga saat inipun kami juga ingin saudara saya sembuh, tapi bagaimana lagi. Jika punya tanah, pasti sudah kami jual untuk pengobatannya, tapi kami gak punya," imbuh Hariyadi.

Hal senada juga disampaikan oleh Karmiati, adik Kaseno (52), seorang penderita kejiwaan lainnya. Ia mengatakan keluarganya juga telah berusaha semaksimal mungkin memberikan pengobatan pada kakaknya yang telah menderita penyakit jiwa sejak tahun 1995 silam ini. Bahkan kini masih menunggak utang biaya untuk pengobatan kakak sekaligus tulang punggung keluarganya itu.

"Sudah gak ngitung lagi, puluhan juta yang kami keluarkan mas. Baik itu uang simpanan pribadi atau uang pinjaman dari tetangga," kata Karmiati.

Biaya tersebut, Karmiati menambahkan, digunakan untuk keperluan berobat di beberapa rumah sakit jiwa yang ada di Jawa Timur, juga pengobatan alternatif. 'Saya sudah sembilan kali membawanya ke rumah sakit jiwa, baik di Malang maupun Surabaya. Tapi tiap kali sembuh akhirnya kumat lagi," tandasnya.

Sebuah keputusan yang sulit harus mereka jalankan, yaitu menempatkan anggota keluarga mereka yang menderita sakit jiwa di sebuah kurungan bambu. Model kurungan bambu mereka pilih karena dianggap lebih layak daripada dilakukan pemasungan. Rata-rata mereka beralasan mengurung karena tidak ingin kabur dari rumah dan karena tingkah laku yang tidak terkontrol.

Asman Budi sejak sekitar 7 tahun lalu menempati kurungan lonjoran bambu seukuran 2x1,5 meter yang diletakkan menggantung di dapur rumahnya. Sementara Kaseno, sekitar 10 tahun lalu menempati " rumahnya" yang diletakkan di samping kandang belakang rumahnya.  "Kalau merusak perabot saja masih terbilang kecil lah. Tapi kalau menenteng linggis lalu mengejar-ngejar orang dan akan membunuhnya, bagaimana?," kata Karmiati.

Karmiati tidak mengetahui pasti penyebab terjadinya kelainan jiwa tersebut. Ia hanya mereka-reka penyebabnya adalah tekanan ekonomi yang mendera keluarganya setelah ibunya meninggal dan bapaknya pergi bersama perempuan yang baru dinikahi. Kini bapaknya telah kembali berkumpul dengan mereka lagi.

Saat itu, kata Karmiati, Kaseno harus bekerja keras membanting tulang untuk menghidupi lima orang adiknya. Ia bekerja serabutan baik sebagai buruh tani hingga pedagang keliling demi kebutuhan adik-adiknya. Ia juga berhasil menyekolahkan adik bungsunya hingga tamat SMP, sebuah jenjang yang lumayan tinggi di daerah itu. "Dia sampai gak nikah demi ngurusi adik-adiknya," kenangnya. 

Editor :

Glori K. Wadrianto

Kasus Novel, Keluarga Tidak Mendesak Polisi

Posted: 06 Oct 2012 06:57 AM PDT

Kasus Novel, Keluarga Tidak Mendesak Polisi

Penulis : Adhitya Ramadhan | Sabtu, 6 Oktober 2012 | 13:57 WIB

BENGKULU, KOMPAS.com - Keluarga Mulyan Johani, korban penembakan oleh Kompol Novel di Kota Bengkulu delapan tahun silam, mengaku tidak mendesak kepolisian untuk kembali membuka kasus penembakan saat ini.

Hal tersebut disampaikan kakak sulung korban penembakan Antony Besmar (41), Sabtu (6/10/2012). Antony menyatakan, sepengetahuannya dalam beberapa waktu terakhir ini keluarga tidak ada yang mendesak kepolisian untuk mengungkit kasus penembakan adiknya Mulyan Johani atau Aan delapan tahun silam.

"Buat apa repot-repot. Keluarga sudah ikhlas. Kalau saya tidak (mendesak polisi menuntaskan kematian adiknya). Siapa tahu Panca (adik bungsu) atau sanak keluarga yang lain," ujar Antony.

Menurut Antony, tahun 2004 Aan yang merupakan anak ketiga dari lima bersaudara memang ditangkap polisi atas tuduhan mencuri sarang burung walet. Belakangan diketahui Aan meninggal dunia. Antony menilai, kematian adiknya janggal.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan