Sabtu, 25 Februari 2012

ANTARA - Hiburan

ANTARA - Hiburan


Jathilan perlu dikemas modern

Posted: 24 Feb 2012 11:07 PM PST

Sejumlah warga unjuk kebolehan menampilkan kesenian tradisional Jathilan pada acara Gelar Potensi Desa di Desa Pokoh, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta, Senin (26/9). Gelar potensi desa yang diisi berbagai macam acara seperti Gejlok Lesung, tari tradisional Jathilan tersebut juga merupakan rangkaian kegiatan pencanangan desa ramah anak. (ANTARA/Noveradika)

Kelompok jathilan yang ada di Kota Yogyakarta cukup banyak, ada sekitar 30 kelompok. Kelompok-kelompok ini memerlukan peningkatan kualitas tampilan sehingga atraksi yang ditampilkan pun terus terlihat menarik.

Berita Terkait

Yogyakarta (ANTARA News) - Kesenian tradisional jathilan yang hingga kini masih terus tumbuh berkembang di tengah masyarakat perlu melakukan inovasi salah satunya dikemas sebagai kesenian tradisional yang mampu tampil modern sehingga tetap diminati masyarakat.

"Kelompok jathilan yang ada di Kota Yogyakarta cukup banyak, ada sekitar 30 kelompok. Kelompok-kelompok ini memerlukan peningkatan kualitas tampilan sehingga atraksi yang ditampilkan pun terus terlihat menarik," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta Yulia Rustiyaningsih di Yogyakarta, Sabtu.

Oleh karena itu, lanjut Yulia, maka Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta kemudian mengajak kelompok-kelompok tersebut untuk melakukan Focus Group Discussion (FGD) disertai dengan melihat secara langsung penampilan kelompok jathilan Rewe-Rewe yang menjadi pemenang dalam Festival Jathilan Provinsi DIY pada 2010.

Ia menegaskan, kesenian tradisional jathilan memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan karena pada dasarnya memiliki atraksi yang menarik sehingga bisa menjadi salah satu atraksi wisata di Yogyakarta.

Tetapi, lanjut dia, potensi dalam kesenian jathilan tersebut perlu terus dikembangkan dengan melakukan perbaikan terhadap berbagai segi pendukung, di antaranya kostum, tata rias penari, tata gerak, komposisi musik termasuk manajeman dalam kelompok jathilan itu sendiri.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta Budi Santoso mengatakan, dengan melihat secara langsung penampilan grup Rewe-Rewe dari Kabupaten Bantul tersebut, maka peserta diharapkan bisa mengambil pelajaran berharga tentang bagaimana seharusnya atraksi jathilan ditampilkan.

"Nantinya, mereka bisa mengetahui, perbaikan-perbaikan yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas kelompok jathilan mereka," katanya.

Sementara itu, pemerhati kesenian tradisional yang juga dosen Institut Seni Indonesia (ISI) N. Gandung Djatmiko mengatakan, pengembangan jathilan sangat diperlukan.

"Namun, pengembangan kesenian ini tetap harus berpegang pada akar tradisi lokal atau pun nasional," katanya.

Ia mengatakan, banyak kelompok jathilan yang justru melakukan pengembangan dengan menambahkan unsur-unsur budaya di luar budaya Indonesia, salah satunya dalam elemen musik dengan memasukkan alat musik modern seperti keyboard dan drum.

"Padahal, masih banyak alat-alat musik tradisional yang bisa digunakan untuk pengembangan kesenian ini dan rasanya akan lebih cocok," lanjutnya.

Selain itu, kesenian jathilan yang banyak diilhami oleh cerita-cerita panji itu pun perlu mengikuti perkembangan zaman, termasuk durasi waktu pementasan.

"Jika dulu pentas jathilan memakan waktu cukup lama, maka kini perlu dipersingkat karena memang zaman yang terus berkembang," katanya.

Namun demikian, ia menilai, unsur "ndadi" (pemain kerasukan roh dan kemudian memakan pecahan kaca), masih diperlukan jika jathilan itu dipentaskan untuk keperluan hajatan.

"Tetapi, jika untuk kepentingan festival atau pentas saja, maka hal itu sudah tidak diperlukan. Semua harus menyesuaikan kondisi," katanya.
(E013)

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Penampilan Koesplus pukau penonton Bogor

Posted: 24 Feb 2012 09:12 AM PST

Bogor (ANTARA News) - Grub band legendaris Koesplus mengajak penggemarnya bernostalgia dengan lagu-lagu hitnya dalam konser "Back to 1970 The Living Legend With Koesplus" di Gedung Kesenian, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat malam.

Vokalis khas Yon Koeswoyo pada malam itu mampu menyihir tamu-tamu undangan yang sebagian besar merupakan pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bogor.

Pertunjukan Grub band pop Indonesia ini mulai pukul 21.30 WIB tampil dengan membawakan lagu pertama Pelangi telah membuat suasana gedung yang tadi tampak formil langsung semarak.

Tamu-tamu undangan turut serta menyanyikan tembang-tembang andalan Koesplus yang tidak pernah lekang oleh waktu.

"Koesplus akan menyanyikan 25 lagu nonstop dalam konser ini," kata Manager Koesplus Bonita Angelia.

Tembang demi tembang andalan Koeplus dinyanyikan secara bersambung mulai dari Pelangi, Bujangan, Why Do You Love Me, Tul Jaenak, Kolam Susu dan hampir semua lagu andalannya.

Ketua panitia penyelenggara Safrudin Firdaus mengatakan, Koesplus ini merupakan hasil kerjasama antara Baby Production dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) perwakilan Kabupaten Bogor dan didukung oleh beberapa pihak sebagai sponsor dan media partner.

"Selain itu, kehadiran Koesplus di Bogor khususnya Cibinong juga untuk mengobati rasa rindu dan memenuhi mimpi para fans yang menginginkan Koesplus tampil di Bogor," katanya.

Lebih lanjut dia mengatakan, alasan pihaknya menghadirkan grup musik legendaris tersebut adalah karena karya-karya Koesplus dikenang sepanjang masa, bahkan hingga saat ini masih disukai oleh para pengenggemarnya dan lagu-lagunya juga banyak dibawakan oleh musisi-musisi muda.

"Koesplus yang dimotori oleh almarhum Tony Koeswoyo ini harus dicatat sebagai pelopor musik pop Indonesia. Sulit dibayangkan sejarah musik pop Indonesia akan seperti apa jika tanpa kehadiran Koesplus. Untuk itu merupakan kehormatan dan kebahagiaan bagi kami dapat menghadirkan mereka ditengah-tengah masyarakat Bogor," katanya.
(T.KR-LR/M027)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Tiada ulasan:

Catat Komen