Selasa, 1 November 2011

ANTARA - Mancanegara

ANTARA - Mancanegara


Kematian Gaddafi ciptakan "rasa tak nyaman"

Posted: 01 Nov 2011 09:20 PM PDT

Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma. (FOTO ANTARA/REUTERS/Louafi Larbi)

Mengingat ada surat penangkapan terhadap Gaddafi, mereka yang menemukan dia mestinya menangkap lalu menyerahkan dia kepada ICC,"

Berita Terkait

Video

Cape Town (ANTARA News) - Ada "rasa tak nyaman" mengenai masa depan Libya, setelah terbunuhnya Muamar Gaddafi, kata Presiden Afrika Selatan, Jacob Zuma di Cape Town, Selasa.

"(Pembunuhan) itu telah menciptakan rasa tak nyaman mengenai situasi di Libya," kata Presiden Afrika Selatan tersebut dalam pertemuan sarapan bisnis di Cape Town.

Gaddafi dibunuh setelah ditangkap di dekat kota kelahirannya, Sirte. Zuma berpendapat akan lebih baik buat rakyat Libya seandainya Gaddafi ditangkap dan diadili.  Penahanan Gaddafi dapat mengungkap cara ia  memerintah Libya selama 42 tahun, kata Zuma.

"Zaman sekarang, dalam dunia  hak asasi, ada pengadilan untuk mengadili mereka yang melakukan kejahatan tertentu," kata Presiden tersebut.

"Orang yang memburu  mestinya menangkap dia ... Sayangnya, ia dibunuh," kata Zuma.

Ia mengatakan ia mulanya berharap Dewan Peralihan Nasional (NTC) Libya akan "menyatukan negeri tersebut".

Zuma mengatakan segera setelah kematian Gaddafi bahwa mestinya tidak dibunuh, tapi ditangkap dan diadili di Mahkamah Pidana Internasional (ICC).

"Mengingat ada surat penangkapan terhadap Gaddafi, mereka yang menemukan dia mestinya menangkap lalu  menyerahkan dia kepada ICC," kata Zuma.

Presiden Afrika Selatan tersebut juga mengatakan negaranya siap membantu Libya pasca-Gaddafi.
(C003)

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full content generated by Get Full RSS.

Partai-partai Nepal setujui perjanjian perdamaian

Posted: 01 Nov 2011 07:04 PM PDT

Kathmandu (ANTARA News) - Para pemimpin politik Nepal telah menyepakati, Selasa, perjanjian untuk merampungkan proses perdamaian lima tahun dan menggerakkan negara itu ke arah persatuan dan kestabilan setelah perang saudara yang berakhir pada 2006.

Partai-partai politik penting negara itu telah bertemu di tempat kediaman Perdana Menteri Baburam Bhattarai dan menandatangani perjanjian mengenai jumlah bekas pemberontak Maois yang akan diintegrasikan ke dalam militer negara itu -- masalah penting yang masih ada dalam proses tersebut, lapor AFP.

Mereka mengumumkan militer akan menerima 6.500 dari 19.000 pemberontak Maois yang memerangi pemerintah dalam konflik berdarah 10 tahun, dimana 16.000 orang telah tewas.

Parlemen, atau Majelis Konstituante, telah ditugasi untuk menulis konstitusi baru bagi republik muda itu, yang telah menyingkirkan monarkinya pada 2008, tapi partai-partai politik yang bersaing telah terperangkan dalam perselisihan mengenai piagam itu.

Perampungan proses damai itu dianggap sangat penting karena hal itu akan membuat persetujuan mengenai konstitusi jauh lebih mungkin.

Kelompok-kelompok terbesar -- Maois yang berkuasa, UML (Persatuan Marxis-Leninis), oposisi utama Kongres Nepal dan konglemerasi regional partai-partai Madeshi -- menyetujui pada Selasa untuk mempertahankan batas waktu 30 November bagi penyelesaian konstitusi.

Majelis telah memperpanjang tiga bulan setelah gagal mencapai konsensus mengenai dokumen itu, yang dianggap sebagai penting untuk meratakan jalan bagi pemilihan baru dan pembangunan pasca perang.

Perjanjian itu juga melibatkan partai-partai itu untuk membuat kemajuan dalam pembentukan komisi kebenaran dan rekonsiliasi serta badan lainnya untuk menyelidiki hilangnya hampir 1.200 orang pada saat pemberontakan Maois.

Euforia dan optimisme awal yang menyusuli berakhirnya perang saudara dan penghapusan monarki yang tidak populer segera itu telah memberi jalan pada kemarahan masyarakat dan frustrasi yang meningkat di salah satu negara termiskin di dunia itu.

Beberapa pengamat telah memperingatkan bahwa Bhattarai, yang memimpin koalisi banyak partai yang rapuh, akan menghadapi tugas berat di arena politik yang terpecah-belah di negara itu. (S008/C003)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full content generated by Get Full RSS.

Tiada ulasan:

Catat Komen