Rabu, 15 Jun 2011

Republika Online

Republika Online


Resep Fatmah Bahalwan: Es Kopyor Imitasi....Sueger!

Posted: 15 Jun 2011 11:00 AM PDT

Kangen makan Es Kopyor?....Coba dibuat es kopyor imitasi ini dulu deh. Lumayan bisa jadi pengobat rindu.
 
Bahan A:

1 bks     agar-agar putih
100 gr    gula pasir
650 ml    santan kental
1 lbr      daun pandan
 
Bahan B:

1 ltr     air matang dingin
2         bongkah es batu
 
Bahan C:

Syrup merah coco pandan siap pakai.
Es batu serut.
 
Cara membuatnya :

  •     Campur bahan A dalam panci, aduk rata, masak hingga mendidih, angkat, sisihkan sambil diaduk-aduk.
  •     Siapkan bahan B dalam wadah. Tuang adonan A sesendok demi sesendok diatas bongkahan es batu, hingga adonan menjadi serpihan kelapa kopyor.
  •     Sajikan dalam gelas, bersama es serut dan syrup merah sesuai selera.

Halaman ini kerja sama Republika Online dengan Natural Cooking Club 

Resep di blog Anda ingin tampil di sini? Silakan kirim link-nya ke alamat emailhikmah@rol.republika.co.id

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

E.Coli Eropa Diduga Berasal dari Pupuk Organik

Posted: 15 Jun 2011 04:30 AM PDT

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Bakteri Enterohaemorrhagic E. coli (EHEC) yang mewabah di Eropa hingga kini belum diketahui berasal dari mana, namun diduga berasal dari pupuk organik, pupuk berbahan dasar kotoran hewan. "Ini baru dugaan. Dari jurnal-jurnal ilmiah mereka masih terus mencari-cari asal-muasalnya," kata Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Dr Puspita Lisdiyanti, pada "Desiminasi dan Workshop Hasil Kerja sama Penelitian LIPI dan Institusi Riset di Jepang" di Jakarta, Rabu.

Pupuk organik, ujarnya, memang semakin diminati di Eropa, seiring dengan gaya hidup kembali ke alam "back to nature", namun kotoran hewan mengandung banyak bakteri escherichia coli (e. coli) yang perlu diwaspadai.

Menurut dia, masyarakat Eropa memiliki standar yang ketat dalam produksi pupuk organik, tapi bisa jadi karena para petani Eropa masing-masing membuat sendiri pupuk organiknya. "Mungkin saja mereka lalai karena ingin mempercepat hasilnya, jadi proses pembusukannya belum sempurna," kata pakar mikroba ini.

Hanya saja Bakteri E.Coli varian baru ini tidak sekedar menyebabkan gangguan pencernaan, tapi bisa mematikan dalam kondisi yang disebut dengan haemolytic uraemic syndrome (HUS) yang ditandai dengan kegagalan ginjal akut, anemia dan kekurangan trombosit.

Lebih parah lagi bakteri varian baru ini kebal terhadap antibiotika sehingga tidak mudah diobati, diduga karena terlalu berlebihan dalam penggunaan berbagai jenis antibiotika dan membuat bakteri ini menjadi resisten. "Bakteri memiliki hanya sekitar empat mega base pair DNA sehingga lebih mudah bermutasi gen," katanya.

Orang Indonesia, menurut dia, tetap perlu waspada, meskipun sudah biasa dengan jumlah mikroflora dan bakteri e. coli yang tinggi di perutnya, jauh lebih banyak dibanding perut orang Eropa yang perilakunya sangat higienis. E. coli, ujar Puspita, dalam siklus berguna bagi pembusukan makanan (fermentasi gula) karena itu ada di mana-mana termasuk di sistem pencernaan manusia, namun jumlahnya masih bisa diatasi oleh adanya mikroba lain yang menyeimbangkan.

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Tiada ulasan:

Catat Komen