Rabu, 15 Jun 2011

ANTARA - Mancanegara

ANTARA - Mancanegara


Pemimpin Rusia-China Bahas Hubungan Ekonomi

Posted: 15 Jun 2011 06:25 PM PDT

China untuk pertama kalinya menjadi mitra ekonomi asing terkemuka bagi Rusia

Berita Terkait

Moskow (ANTARA News/RIA Novosti) - Presiden Rusia Dmitry Medvedev Kamis dijadwalkan bertemu dengan timpalannya Presiden China Hu Jintao untuk membahas hubungan perdagangan dan ekonomi, kata pembantu Medvedev, Sergei Prikhodko di Moskow.

Kunjungan Hu ke Rusia dimulai pada Rabu dan akan berlangsung sampai Sabtu.

Pemimpin China juga diperkirakan akan mengadakan pembicaraan dengan Perdana Menteri Vladimir Putin dan mengunjungi St Petersburg untuk menghadiri forum ekonomi internasional.

"Perhatian khusus akan diberikan pada pengembangan perdagangan dan hubungan ekonomi kedua negara," kata Prikhodko kepada wartawan sebelumnya.

Dia mengatakan, perdagangan bilateral Rusia-China pada tahun 2010 mencapai hampir 60 miliar dolar AS, atau 35 persen lebih dari tahun 2009.

"China untuk pertama kalinya menjadi mitra ekonomi asing terkemuka bagi Rusia," kata pejabat Kremlin itu.

(Uu.H-AK) (*)

Editor: Ella Syafputri
COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

64 Tewas, 60.000 Larikan Diri Akibat Serangan Udara di Perbatasan Sudan

Posted: 15 Jun 2011 05:58 PM PDT

Warga dusun suku Dadinga menunggu petugas Program Makanan Dunia (WFP) untuk mengantarkan suplai makanan di desa Lauro, wilayah Budy negara bagian Ekuator Timur, Sudan Selatan (FOTO ANTARA/REUTERS/Goran Tomasevic/)

Ada rasa panik yang meningkat di antara sejumlah penduduk yang terlantar yang mendapati diri mereka terperangkap dalam kekerasan dan garis salah etnik.

Berita Terkait

Khartoum (ANTARA News/Reuters) - Serangan udara di negara bagian Kordofan Selatan, di perbatasan Sudan, mungkin telah menewaskan sebanyak 64 orang dan menyebabkan puluhan ribu orang melarikan diri, kata PBB, Rabu.

Militer Sudan utara telah memerangi kelompok-kelompok bersenjata yang bersekutu dengan Sudan selatan di Kordofan Selaran -- negara bagian utara, penghasil minyak di perbatasan utara-selatan yang tak jelas -- sejak 5 Juni, yang meningkatkan ketegangan ketika Sudan selatan bersiap untuk memisahkan diri pada 9 Juli.

Organisasi-organisasi kemanusiaan mengkhawatirkan korban tewas meningkat di negara bagian itu, yang menampung banyak petempur yang berpihak pada selatan menentang Khartoum dalam perang saudara terakhir.

"Ada rasa panik yang meningkat di antara sejumlah penduduk yang terlantar yang mendapati diri mereka terperangkap dalam kekerasan dan garis salah etnik," kata Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) dalam sebuah laporan.

"Laporan kekerasan sektarian terhadap warga sipil yang ditargetkan pada anggota kelompok etnik yang berbeda dan juga penjarahan preperti telah merintangi kepulangan mereka ke desa dan kota asal mereka, bahkan setelah pertempuran terhenti," laporan itu menambahkan.

OCHA menyatakan sekitar 60.000 orang diperkirakan telah melarikan diri dan sejumlah lagi yang lain bersembunyi di gunung.

"Sumber-sumber setempat di negara bagian itu mengindikasikan bahwa 64 orang telah tewas akibat pembombardiran udara sejak pertempuran meletus," mereka menambahkan.

Seorang juru bicara militer utara tidak bersedia untuk berkomentar dengan segera. Militer, yang mengatakan mereka memerangi pemberontakan di negara bagian itu, menyalahkan petempur-petempur yang bersekutu dengan selatan karena mereka telah memicu bentrokan, dan membantah tindakannya telah melukai warga sipil.

Di Jenewa, seorang juru bicara badan pengungsi PBB mengatakan situasinya dengan jelas memburuk dan bahwa "koridor kemanusiaan" harus dibuat untuk pengiriman bantuan.

"Masalahnya adalah bahwa pertempuran itu meluas setiap hari," kata Fataoumala Lejeune-Kaba dari Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), yang menambahkan bahwa pertempuran itu telah meluber ke perbatasan Sudan Selatan.

"Kami bahkan memiliki laporan yang belum dikonfirmasi mengenai penyiksaan, gangguan dan kadang-kadang eksekusi cepat di pos pemeriksaan. Sulit bagi kami untuk memastikannya, tapi itulah yang orang-orang terlantar katakan pada kami," ia menambahkan.

Beberapa pejabat partai yang dominan di selatan mengatakan pertempuran itu dimulai setelah militer utara berusaha untuk melucuti senjata para petempur, yang banyak berasal dari daerah pegunungan Nuba.

PBB Selasa menyatan serangan pemboman udara itu telah menimbulkan "penderitaan sangat besar" pada warga sipil dan membahayakan kerja bantuan di Kordofan Selatan.

Sudan selatan memutuskan untuk memisahkan diri Januari lalu, puncak dari perjanjian damai 2005 yang mengakhiri beberapa dasawarsa perang saudara antara kedua belah pihak.

(Uu.S008) (ANTARA)

Editor: Ella Syafputri
COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Tiada ulasan:

Catat Komen