Sabtu, 16 April 2011

ANTARA - Berita Terkini

ANTARA - Berita Terkini


DPRD Mamuju: Kinerja Pemkab Mamuju Memalukan

Posted: 16 Apr 2011 06:05 PM PDT

Mamuju (ANTARA News) - Sejumlah kalangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, memberikan penilaian atas kinerja pemerintah setempat yang sangat memalukan.

"Kinerja pemerintah kabupaten (Pemkab) Mamuju sangat memalukan baik pelayanan publik maupun penggunaan anggaran yang syarat terjadi indikasi kasus korupsi,"kata Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Mamuju, Lalu Syamsul Rijal di Mamuju, Minggu.

Menurut dia, kinerja pemerintahan yang dibangun Bupati Mamuju, Suhardi Duka bersama jajarannya tak mampu memberikan kesan yang baik dimata publik.

"Kesalahan pejabat pemkab Mamuju juga merupakan tanggungjawab bupati karena telah menempatkan pejabat yang tidak memiliki konpetensi sesuai dengan keahliannya. Akibatnya, pelayanan masyarakat pun yang dinilai kacau menjadi buah perbincangan masyarakat di daerah ini,"kata dia.

Sektor pelayanan publik kata dia, mestinya menjadi perhatian oleh pemerintah sehingga masyarakat mendapat pelayanan yang optimal seperti pelayanan Rumah sakit Umum Daerah (RSUD) Mamuju yang hingga kini menjadi isu yang disoroti masyarakat.

"Pelayanan RSUD Mamuju tidak optimal mengakibatkan masyarakat Mamuju menjadi kecewa. Makanya, RSUD ini harus berbenah apabila ingin mendapatkan status berstandar Internasional,"papar dia.

Yang lebih memiriskan lagi kata politisi Partai Bintang Reformasi ini mengemukakan, bobroknya kinerja pemerintah juga dibuktikan dengan penggunaan anggaran yang diduga syarat korupsi.

"Pemerintah kabupaten Mamuju tidak mungkin mencapai penilaian penggunaan anggaran Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) apabila bupati tidak melakukan reformasi birokrasi. Banyak pejabat pemkab syarat melakukan perbuatan korupsi sehingga mimpi bupati untuk mendapatkan predikat WTP dari Badan Pemeriksa Keuangan akan menjadi mimpi buruk,"tuturnya.

Lalu mengatakan, banyak kejahatan yang dilakukan oleh pejabat lingkup pemkab Mamuju yang syarat korupsi seperti dana pinjaman sebesar Rp30 milyar pada bank pembangunan daerah cabang Sulselbar yang hingga kini masih menua kontropersi.

"Dana sebesar Rp30 milyar tahun anggaran 2010 dianggap syarat korupsi karena tak jelas peruntukannya,"paparnya.

Ia mengatakan, dana pinjaman pemkab Mamuju melalui Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan Daerah (DPPKD), yang dinahkodai Adrian Haruna, sebesar Rp30 milyar di BPD pada tahun anggaran 2010 yang lalu tak jelas peruntukannya.

"Pinjaman ke BPD yang dilakukan oleh Adrian Haruna dicurigai terjadi indikasi korupsi karena peruntukan atas pinjaman itu tak jelas. Makanya, aparat hukum harus membongkar kasus pinjaman tersebut,"tegas Lalu.

Dia mengatakan, saat ini pemkab Mamuju kembali mengusulkan untuk melakukan pinjaman pada salah satu lembaga perbankan yang menjadi mitra pemerintah daerah terpaksa ditolak oleh sejumlah anggota DPRD.

"Saat ini kami menolak usulan Pemkab Mamuju untuk kembali melakukan pinjaman di bank sebelum ada kejelasan peruntukan penggunaan dana tersebut karena pinjaman yang tahun 2009 saja tak jelas," katanya. (ACO/K004)

Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Pembangunan Rujab Bupati Mamuju Pemborosan Anggaran

Posted: 16 Apr 2011 06:03 PM PDT

Mamuju (ANTARA News) - Pembangunan rumah jabatan Bupati Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat, dianggap sebagai pemborosan anggaran karena tidak dimanfaatkan dan terlantar.

Pemantauan di Mamuju, Minggu, rumah jabatan (Rujab) Bupati Mamuju yang dibangun di atas bukit Kelapa Tujuh sekitar lima kilometer dari Kota Mamuju tampak terlantar dan tidak terurus karena tidak dimanfaatkan untuk digunakan Bupati Mamuju, Drs Suhardi Duka MM.

Rujab Bupati Mamuju yang dibangun dengan menggunakan anggaran APBD Mamuju secara bertahap sejak tahun 2009 tersebut, yang jumlah anggarannya diduga hingga miliaran rupiah itu, tampak mulai ditumbuhi semak belukar disisi bangunannya.

Lapangan Tenis yang ada disamping rujab Mamuju itu kini digunakan warga untuk menjadi tempat bermain bola, dan seluruh dinding lapangan tenis itu sudah penuh coretan anak muda yang sering datang kerujab Bupati Mamuju yang masih tak berpenghuni itu.

Ketua Laskar Anti Korupsi (Laki) Kabupaten Mamuju, Azhari Rauf mengatakan, pembangunan Rujab Bupati Mamuju yang kini terlantar tanpa dimanfaatkan selama setahun terakhir itu, merupakan bentuk pemborosan anggaran yang dilakukan pemerintah di Mamuju.

Ia mengatakan, bangunan Rujab itu bahkan ada yang tidak rampung dikerjakan seperti pelatarannya yang belum di beton, seluruh fasilitasnya juga sudah rusak seperti pada kaca jendelanya yang pecah, plapon atapnya juga sudah rusak, dan dinding temboknya juga sudah retak.

Menurut dia, seharusnya ada audit penggunaan anggaran pembangunan rujab bupati Mamuju tersebut yang dilakukan aparat yang berwenang, karena dicuragai dalam pembangunannya menimbulkan kerugian negara yang tentunya akan merugikan masyarakat.

"Rujab Bupati yang diterlantarkan, bahkan bangunan sebagian tidak rampung serta sebagian bangunannya sudah mulai rusak, harus dilakukan audit anggaran, karena itu wajar, demi penyelamatan anggaran jangan sampai ada dugaan penyelewengan anggaran didalam pembangunannya,"katanya.

Azhari juga menyayangkan kebijakan pemerintah di Mamuju yang membangun rujab tersebut diatas bukit yang jauh dari jangkauan masyarakat di Kota Mamuju.

"Ada kesan Bupati Mamuju yang sebelumnya berencana menempati bangunan rujab yang terlantar itu, ingin jauh dari masyarakat, dan ada kesan bupati tidak mau bertemu dengan masyarakatnya, karena membuat rujab ditempat sunyi diatas bukit, yang sulit dijangkau masyarakat,"katanya.

Ia mengaku telah mendapat laporan masyarakat bahwa Rujab Bupati Mamuju yang kosong sering digunakan anak muda untuk berbuat mesum. (MFH/K004)

Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Tiada ulasan:

Catat Komen