Khamis, 17 Februari 2011

ANTARA - Mancanegara

ANTARA - Mancanegara


Kamboja-Thailand Tanda Tangani Kesepakatan Saat Pertemuan ASEAN

Posted: 16 Feb 2011 10:01 PM PST

Tentara Kamboja saat ambil posisi dengan kendaraan tank mereka di sebuah jalan dekat kuil Preah Vihear di perbatasan Thailand, Minggu (6/2). (FOTO ANTARA/REUTERS/Pheara/djo/11)

Berita Terkait

Phnom Penh (ANTARA News)- Kamboja akan meminta Thailand untuk menandatangani kesepakatan gencatan senjata permanen dengan disaksikan oleh para menteri luar negeri ASEAN atau ketua ASEAN pada 22 Februari, kata PM Hun Sen pada Kamis.

Tanggal tersebut ditetapkan pada waktu pertemuan para menlu Perhimpungan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) di Jakarta.

"Lebih baik bila ketua ASEAN dapat menandatangani gencatan senjata permanen," kata Hun Sen pada konferensi pers di Istana Pemerintah seperti dilaporkan kantor berita .

Ia juga menyampaikan empat butir hal terkait dengan gencatan senjata permanen tersebut yaitu pertama, Kamboja dan Thailand setuju untuk berhenti bertempur secara permanen demi kebaikan. Tidak ada baku tembak selamanya.

Kedua, tidak ada pergerakan pasukan bersenjata pada saat ini dan kedua pihak sama-sama mempertahankan pasukan bersenjata di posisi masing-masing untuk menunggu resolusi mengenai tindakan dan demarkasi perbatasan.

Ketiga, Kamboja dan Thailand mendorong kedua komandan tentara masing-masing negara untuk berdialog demi meningkatkan kerja sama agar membuat situasi kembali seperti sebelum 15 Juli 2008.

Keempat, untuk memastikan efektivitas gencatan senjata, Kamboja akan meminta negara-negara ASEAN untuk mengendalikan gencatan senjata tersebut.
(KR-DLN/H-AK)

Editor: Aditia Maruli
COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Libya Bebaskan 110 Anggota Kelompok Islam Garis Keras

Posted: 16 Feb 2011 03:10 PM PST

Tripoli (ANTARA News) - Libya telah membebaskan dari tahanan sebanyak 110 anggota Kelompok Perjuangan Islam Libya (LIFG), Rabu, pada malam "Hari Kemarahan" Kamis, yang diserukan oleh para aktivis di Facebook.

Pembebasan mereka itu menjadikan 360 jumlah tahanan politik yang telah dibebaskan sejak Maret tahun lalu, menurut hitungan yang dikumpulkan oleh kantor berita AFP.

Pemimpin Liga Libya untuk Hak Asasi Manusia, Mohammed Tarnish, mengatakan pada wartawan di luar penjara Abu Salim di luar ibukota Libya, Tripoli, bahwa pembebasan 110 anggota LIFG itu telah dijadwalkan beberapa bulan lalu dan "tidak berkaitan dengan masalah lainnya".

Pembebasan mereka itu dilakukan ketika bentrokan dilaporkan terjadi di Benghazi, kota kedua Libya, menjelang "Hari Kemarahan" yang diserukan segera sesudah pergolakan di Mesir dan Tunisia, yang bertetangga dengan Libya.

Sebelum pembebasan terakhir itu, Libya sejak Maret lalu telah membebaskan 250 tawanan termasuk bekas pemimpin LIFG Abdelhakim Belhaj, pemimpin militernya Khaled Shrif dan ideolog utamanya Sami Saadi, dan juga sejumlah anggota dari berbagai kelompok Islam yang lain.

Tarnish mengatakan "mereka yang dibebaskan itu telah menyelesaikan program rehabilitasi bagi penolakan kekerasan dan pengintegrasian kembali tawanan ke dalam masyarakat Libya".

Program itu dimulai oleh Seif al-Islam, salah seorang putera pemimpin Libya Moamer Kadhafi, dengan bantuan ulama Ali Sallabi.

LIFG pada 2007 menegaskan kembali keputusannya untuk menjatuhkan pemerintahan Kadhafi dan untuk sekaligus menggantinya dengan sebuah negara Islam. Kelompok garis keras itu juga menegaskan afiliasinya dengan Al Qaida.

Kelompok itu digerakkan dari Asia Tengah oleh seorang pembantu penting Osama bin Laden, Abu Laith al-Libi, yang tewas pada Februari 2008 di daerah suku Pakistan. Osama bib Laden yang kelahiran Arab Saudi dan kemudian pindah ke Afghanistan adalah pendiri jaringan Al Qaida.(*)

(ANT/S008)

Editor: Ruslan
COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Tiada ulasan:

Catat Komen