Khamis, 17 Februari 2011

ANTARA - Hiburan

ANTARA - Hiburan


Wakil Bupati: Cap Go Meh Pemersatu Antaretnis

Posted: 17 Feb 2011 04:57 AM PST

Seorang pemuda mempersiapkan tandu yang akan digunakan Ta-thung (orang pintar) yang nantinya akan di arak keliling kota menyambut perayaan Cap Go Meh, di kota Singkawang, Selasa (15/2). Tradisi yang telah berusia ratusan tahun di kota Singkawang ini menjadi salah satu daya tarik wisatawan lokal ataupun manca negara untuk menyaksikan peristiwa yang biasanya dilakukan 15 hari setelah perayaan Imlek. FOTO ANTARA/Hermanus Prihatna/hp/11

Berita Terkait

Pontianak (ANTARA News) - Wakil Bupati Kubu Raya Andreas Mohrotien mengatakan, pelaksanaan Cap Go Meh yang pertama kalinya digelar di kabupaten itu bisa menjadi media pemersatu antaretnis yang ada.

"Bisa kita lihat sendiri, ruas jalan penghubung Soekarno-Hatta menuju ke Jalan Adi Sucipto dipadati masyarakat yang antusias menyaksikan suguhan hiburan dari perayaan Cap Go Meh ini," kata Andreas Muhrotien saat menyaksikan perayaan tahunan yang pertama kalinya digelar Majelis Adat Budaya Tionghoa Kalimantan Barat di Kubu Raya, Kamis.

Menurut Andreas, dengan ramainya masyarakat menyaksikan kegiatan tersebut menunjukkan penerimaan masyarakat Kubu Raya yang sangat baik atas pelaksanaannya.

Hal tersebut, lanjut dia, jelas memberikan nilai tersendiri bagi keharmonisan umat beragama di Kubu Raya yang notabenenya di huni oleh masyarakat yang multikultur.

"Meski perayaan Cap Go Meh dirayakan oleh etnis Tionghoa, namun masyarakat dari etnis lainnya juga ambil bagian dan berbaur menjadi satu. Betul-betul harmonis dan dinamis," tuturnya.

Andreas mengatakan dengan keharmonisan tersebut tentu bisa menjadi modal dasar bagi Kabupaten Kubu Raya untuk melaksanakan kegiatan serupa ke depannya.

Sejak awal pengajuan pelaksanaan kegiatan tersebut oleh MABT Kalbar, Pemerintah Kubu Raya sudah menyambut baik rencana itu.

Pasalnya, hal tersebut sejalan dengan upaya untuk mengembangkan kebudayaan dan pariwisata.

Kendati baru kali pertama di laksanakan di Kubu Raya, menurut Andreas, hal tersebut tidak akan menjadi persoalan, karena selama ini, ketika perayaan tersebut dipusatkan di Kota Pontianak, tatung, naga dan barongsai banyak dari Kubu Raya.

"Ini jelas menjadi aset kita, tentunya diharapkan menjadi dorongan bagi etnis lainnya untuk menggelar acara serupa, pawai budaya atau lainnya dan menjadi agenda wisata di Kubu Raya," kata Andreas. (T011/K004)

Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

KPI: Industri Televisi Gerogoti Budaya Bangsa

Posted: 17 Feb 2011 04:05 AM PST

Ilustrasi (istimewa)

Berita Terkait

Makassar (ANTARA News) - Industri media kapitalistik semakin terasa melalui tayangan-tayangan televisi yang secara perlahan menggerogoti nilai budaya dan idiologi bangsa.

"Televisi menyajikan tayangan yang pelan-pelan menggusur ideologi kita," kata Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Bidang Perizinan, Iswandi Syahputra, dalam dialog "Penguatan peran KPI sebagai regulasi penyiaran" di Makassar, Kamis.

Kepentingan industri hanya mengejar keuntungan dan masyarakat hanya diberi kebutuhan semu dengan tayangan yang didominasi acara berbau kekerasan, adegan seks, sinetron, infotaintment, dan acara hiburan lainnya yang tidak mendidik.

Iswandi mengemukakan, sinetron dan acara hiburan yang hanya mengeksploitasi gadis-gadis cantik, berkulit putih, rambut lurus, adalah penipuan sistematik yang telah melukai anak bangsa yang memiliki bentuk fisik yang berbeda.

"Kasus kekerasan mendominasi isi siaran. Seharusnya kebebasan memiliki tanggungjawab sosial. Sebab umumnya publik hanya bisa menuntut, tetapi tidak bisa memberi," jelasnya.

Untuk itu, KPI menuntut agar revisi UU Nomor 32 tahun 2002 tentang penyiaran, memberikan kewenangan penuh kepada KPI untuk memberikan sanksi pencabutan hak siar kepada media yang hanya mementingkan keuntungan.

Iswandi juga mengemukakan, satu televisi atau media lain tidak boleh menguasai 35 persen khalayak, sehingga revisi UU penyiaran harus mempertegas durasi waktu televisi untuk siaran lokal.

Sementara, mantan anggota KPID Sulsel, Hidayat Nahwi Rasul mengatakan bahwa media saat ini, khususnya televisi begitu kebablasan dalam hal pornografi dan beragam kekerasan.

"Coba banyangkan ketika media mencari uang dengan terus menyajikan popularitas Ariel dan Luna Maya. Bisa dibayangkan jika generasi kita nantinya menganggap hal tersebut biasa. Media cari uang dari tercabutnya akar budaya kita," ucapnya.

Hidayat yang baru terpilih jadi anggota Komisi Informasi Publik (KIP) Sulsel menilai, media saat tidak lagi memperdulikan akan fungsi media yakni edukasi.

"Media mengalami disfungsi yang sangat fatal, didominasi dunia hiburan. Lihat saja ada kuis milioner yang begitu mendidik, namun diganti dengan acara menebak uang dalam koper yang dibawa oleh perempuan rok pendek," tuturnya.

Ia juga menyindir, pemilik media di negeri ini yang seolah-olah mereka bisa menentukan baik-buruknya sesorang.

Sementara PLT Kadiv Humas Polda Sulselbar AKBP Muhammad Siswa menyatakan mendukung penguatan wewenang KPI dalam memberikan sanksi kepada media yang hanya menyajikan tentang aksi kekerasan dan pornoaksi.

Ia juga meminta KPI terlebih dahulu melakukan penelitian ilmiah terkait pengaruh tayangan kekerasan dan pornoaksi di media terhadap perilaku generasi bangsa, khususnya anak-anak.

(KR-AAT/S016/S026)

Editor: Suryanto
COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Tiada ulasan:

Catat Komen