Jumaat, 15 Februari 2013

ANTARA - Peristiwa

ANTARA - Peristiwa


Akademisi: Islam jauh dari terorisme

Posted: 15 Feb 2013 07:15 AM PST

Yogyakarta (ANTARA News) - Terorisme yang sejak dulu dipahami sebagai tindakan kriminal, kini berubah wajah yang seolah hanya identik dengan perbuatan Islam militan, padahal Islam jauh dari teroris dan kekerasan, kata seorang akademisi Universitas Tadulako Palu.

"Tidak semua umat Islam bisa dikatakan teroris, begitu pula yang memiliki kebiasaan berbeda dengan masyarakat sekitarnya," kata dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tadulako Dr Muhammad Khairil di Yogyakarta, Jumat.

Menurut dia pada kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), tidak selamanya umat Islam yang cara ibadahnya berbeda, memakai celana di atas telapak kaki, berjenggot, dan yang berbeda dengan masyarakat sekitarnya dikategorikan sebagai teroris.

"Kita harus mengubah cara pandang tersebut karena penyebutan kata `teroris` itu bukan hanya tertuju pada satu kelompok umat tertentu saja," katanya.

Ia mengatakan aksi terorisme itu sebenarnya bertujuan untuk melumpuhkan otoritas pemerintahan yang tidak mereka sukai, sehingga kelompok teroris itu dapat menerapkan mazhab atau aliran yang mereka anut.

"Terpidana teroris itu lebih pada mereka yang menjadi korban atas resolusi konflik yang kurang mereka setujui dan tidak sesuai dengan keinginan serta belum membuahkan hasil damai," katanya.

Menurut dia, media juga tidak harus memberitakan tentang terorisme dari satu sudut pandang seperti pemerintah atau Detasemen Khusus (Densus) 88. Media harus "cover both side".

Sumber berita juga harus digali dari terpidana teroris agar masyarakat juga mendapat pengetahuan dari dua sisi sudut pandang.

"Bahkan salah satu terpidana teroris yang pernah saya wawancarai, pernah mengatakan untuk mengajak wartawan juga agar mereka tahu tentang teroris itu dari sudut pandang pelaku atau kelompok-kelompok tersebut," katanya.
(B015/M008)

Demokrat Bandung Barat optimistis menang Pemilu 2014

Posted: 15 Feb 2013 07:05 AM PST

Jakarta (ANTARA News) - Kendati isu kemerosotan suara Partai Demokrat (PD)m yang diprediksi gagal menjadi partai pemenang pada Pemilu 2014, namun hal tersebut tidak mempengaruhi kader Demokrat di daerah dan tetap semangat untuk berkerja khususnya di Bandung Barat, Jabar.

Plt Ketua DPC PD Kabupaten Bandung Barat, Roestanto Wahidi dalam keterangan tertulisnya, Jumat, menyatakan pihaknya lebih memilih berkerja daripada memikirkan hal yang lain-lain.

"Sampai sekarang kami tetap kerja dan kerja. Tentunya dengan kerja untuk masyarakat saya yakin Partai Demokrat tetap dicintai pada pemilu 2014," kata Roestanto saat bertemu dengan warga di Desa Margalaksana, Kecamatan Cipeundey, Bandung Barat.

Menurut anggota Komisi V DPR RI itu, pihaknya yakin masyarakat tetap mencintai Partai Demokrat. "Soal hasil survei Partai Demokrat yang kian merosot perlu dijadikan bahan intropeksi dan motivasi dalam berkerja. Paling tidak kami jangan berleha-leha dalam berkerja seperti turun ke dapil serta bertemu dengan masyarakat," kata Roestanto.

Seperti yang dilakukan Jumat, 15 Februari 2012 Rostanto secara langsung memantau dan mengawal program pemerintah yakni program Peningkatan Pembangunan Infrastruktur Pedesaan (PPIP) di Desa Margalaksana, Kecamatan Cipendey, Kabupaten Bandung Barat.

Dalam kesempatan itu juga Roestanto yang juga Ketua Departemen Perumahaan Rakyat DPP Partai Demokrat memberikan bantuan kepada dua warga terkena musibah kebakaran dan janda tua yang rumahnya hampir roboh.

"Ini bentuk kepedulian pribadi saya sebagai kader partai untuk membantu sesama. Saya berharap bantuan yang saya berikan dapat bermanafaat dan warga bisa kembali dengan rumah yang baru," katanya.

Roestanto menambahkan, semua yang dilakukannya itu adalah bagian ucapan terima kasih lantaran pada Pemilu 2009 Partai Demokrat dipercaya sebagai pemenang.

"Begitu juga di daerah sini masyarakat memercayai suaranya kepada saya. Tentunya saya yang sudah terpilih harus memperhatikannya," kata anggota DPR RI asal Dapil Kabupaten Bandung dan Bandung Barat itu.(*)

Tiada ulasan:

Catat Komen