Rabu, 3 Oktober 2012

ANTARA - Mancanegara

ANTARA - Mancanegara


Obama-Romney saling serang soal ekonomi dalam debat

Posted: 03 Oct 2012 08:32 PM PDT

Jakarta (ANTARA News) - Presiden Barack Obama dan pesaingnya dalam pemilihan presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Mitt Romney, saling serang mengenai masalah ekonomi dalam debat calon presiden pada Rabu waktu setempat.

Dalam debat selama 90 menit yang bisa menjadi alat penting untuk menggalang dukungan dalam pemilihan yang akan diselenggarakan 6 November mendatang itu, Romney membutuhkan kemenangan untuk membantu mengembalikan kampanyenya ke pijakan positif setelah beberapa pekan yang bergejolak.

Obama, yang hanya punya sedikit selisih dalam jajak pendapat umum nasional dan memimpin di beberapa negara bagian yang akan menjadi penentu hasil akhir pemilihan, berusaha memberikan penampilan yang setidaknya tidak akan membahayakan posisinya sebagai pemimpin saat ini.

Kedua kandidat menceburkan diri dalam isu ekonomi yang menjadi tema utama debat calon presiden di University of Denver.

Obama memberikan argumentasi tentang rencananya mendorong peningkatan pertumbuhan lapangan kerja dan Romney menuduh kebijakan Obama telah gagal membalikkan ekonomi dan malah membuat lekukan bermakna dengan angka pengangguran yang sebesar 8,1 persen.

"Gubernur Romney punya pandangan yang menyatakan bahwa jika kita memberikan potongan pajak miring bagi yang kaya dan membalikkan regulasi, maka lebih baik kita berhenti. Saya punya pandangan yang berbeda," kata Obama seperti dikutip kantor berita Reuters.

Romney meletakkan lima poin rencana ekonomi dan menuduh Demokrat sangat bergantung pada pemerintahan yang besar.

"Presiden punya pandangan yang sama pada apa yang dia miliki ketika dia menjalankan pemerintahan empat tahun lalu, lebih banyak belanja, lebih banyak pajak, dan lebih banyak regulasi, jika anda mau menjatuhkan kinerja pemerintah. Itu bukan jawaban tepat untuk Amerika," kata Romney.

Debat yang dipandu Jim Lehrer tersebut merupakan peluang terbaik bagi kedua kandidat untuk menjangkau banyak pemilih secara langsung dengan pemirsa televisi yang jumlahnya diperkirakan 60 juta.

Kedua kandidat berada dalam tekanan untuk memberikan detil yang lebih spesifik tentang bagaimana mengembalikan ekonomi Amerika setelah upaya pemulihan yang berlarut-larut dari resesi dalam debat tersebut.

Dengan tingkat pengangguran Amerika Serikat yang berada di atas delapan persen sepanjang 43 bulan berturut-turut, defisit anggaran yang sangat besar dan peningkatan anggaran untuk program-program yang dinilai mahal, saat ini ekonomi menjadi perhatian utama para pemilih.

Obama memberikan catatan bahwa presiden mendapat warisan kondisi ekonomi yang sulit dari pendahulunya yang berasal dari Partai Republik, George W. Bush, dan kondisi sudah perlahan membaik.

Romney, mantan gubernur Massachusetts, mengatakan pengalamannya sebagai pelaku bisnis akan memampukan dia membalikkan ekonomi dan menciptakan 12 juta pekerjaan dalam empat tahun.

Jajak pendapat harian yang dilakukan Reuters/Ipsos pada Rabu menunjukkan peringkat Obama masih cukup tinggi dengan 47 persen sampai 41 persen dukungan pemilih. Dan jajak pendapat umum dari NPR memperlihatkan Obama mendapat dukungan 51 persen sampai 44 persen diantara pemilih.

Sejumlah kecil survei menunjukkan persaingan yang lebih ketat, termasuk jajak pendapat NBC/Wall Street Journal yang dipublikasikan Selasa yang menunjukkan dukungan pemilih terhadap Obama hanya berkisar 49 persen sampai 46 persen.

(*)

Sekjen PBB desak Turki tetap buka saluran komunikasi dengan Suriah

Posted: 03 Oct 2012 07:47 PM PDT

Sekjen PBB Ban Ki-moon (FOTO ANTARA)

agar tetap membuka semua saluran komunikasi dengan pemerintah Suriah dengan tujuan mengurangi ketegangan yang dapat meningkat akibat peristiwa tersebut

Berita Terkait

PBB, New York (ANTARA News) - Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, Rabu, dalam pembicaraan telepon dengan Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu setelah bom dari Suriah menewaskan beberapa warga sipil Turki, mendorong Turki agar tetap membuka saluran komunikasi dengan pemerintah Suriah.

Menteri Luar Turki tersebut menelepon Sekretaris Jenderal PBB, Rabu pagi, untuk menyampaikan keprihatinan mendalam pemerintahnya mengenai peristiwa itu, kata Juru Bicara PBB Martin Nesirky di Markas PBB, New York, dalam taklimat harian.

Ban "mendorong menteri itu agar tetap membuka semua saluran komunikasi dengan pemerintah Suriah dengan tujuan mengurangi ketegangan yang dapat meningkat akibat peristiwa tersebut", kata Nesirky.

Sekretaris Jenderal PBB itu juga "menyampaikan belasungkawanya atas hilangnya nyawa warga Turki secara tragis", tambahnya.

Lima orang tewas dan 13 orang lagi cedera, Rabu, oleh bom artileri yang berasal dari Suriah dan jatuh di Provinsi Sanliurfa, Turki tenggara.

Bom tersebut jatuh di satu permukiman di Kota Kecil Akcakale di pinggir wilayah Turki yang berbatasan dengan Suriah, sehingga menewaskan seorang ibu dan empat anaknya serta melukai 13 orang, termasuk dua polisi.

Nesirky mengatakan Davutoglu juga berbicara dengan utusan khusus bersama PBB-Liga Arab Lakhdar Brahimi, yang sedang berusaha menengahi penyelesaian bagi konflik itu, dan membicarakan peristiwa tersebut.

Pemboman di Turki, serta pemboman Rabu di Aleppo di dalam wilayah Suriah, "mempertegas perlunya untuk mengakhiri pertumpahan darah", kata Nesirky sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau ANTARA News di Jakarta, Kamis pagi.

Ia juga menyatakan Brahimi mengadakan kontak dengan para pemimpin di wilayah itu guna memastikan semua upaya perdamaian dapat dikoordinasikan secara seksama.

"Perlunya koordinasi adalah alasan mengapa Brahimi akan menempatkan kantornya di Kairo, Mesir, dalam beberapa hari," ia menambahkan.

Sekretaris Jenderal PBB telah berulangkali menyerukan penyelesaian politik bagi krisis Suriah dan telah mengatakan berkurangnya kerusuhan adalah satu-satunya cara memfasilitasi kemungkinan tersebut.

Telah terjadi rembesan kerusuhan dari konflik 19 bulan di Suriah ke negara tetangga, kendati peristiwa Rabu adalah yang paling serius di dalam wilayah Turki sejauh ini.

Menurut satu pernyataan yang dikeluarkan oleh kantor Perdana Menteri Turki, Ankara menyerang sasaran di Suriah sebagai reaksi atas peristiwa itu.

"Turki takkan pernah berdiam diri saja terhadap provokasi semacam ini oleh rejim Suriah di dalam kerangka kerja peraturan bertindak dan hukum internasional," kata pernyataan tersebut.

(C003)

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca

Kirim Komentar

Tiada ulasan:

Catat Ulasan