Rabu, 17 Oktober 2012

ANTARA - Mancanegara

ANTARA - Mancanegara


Brahimi: Solusi krisis suriah tergantung rakyat Suriah sendiri

Posted: 17 Oct 2012 06:55 PM PDT

Beirut (ANTARA News) - Utusan Perserikatan Bangsa Bangsa untuk Suriah, Lakhdar Brahimi menegaskan bahwa solusi krisis di Suriah terutama tergantung pada rakyat Suriah sendiri, dan menambahkan bahwa misinya untuk menemukan solusi krisis berdasarkan rencana Kofi Annan dan pernyataan Jenewa.

"Kita berurusan dengan masalah tergantung pada visi yang berbeda, terutama enam pasal rencana Annan dan pernyataan Jenewa yang telah disepakati oleh anggota DK PBB serta sebagian besar negara-negara di kawasan ini." Demikian dikatakan Brahimi dalam konferensi pers di Beirut.

Dia mengatakan bahwa dia sedang mengadakan pembicaraan dengan semua pihak untuk menghentikan pertumpahan darah di Suriah dan untuk mendirikan satu proyek untuk Suriah oleh rakyat Suriah guna memecahkan masalah mereka.

Brahimi menambahkan bahwa solusi untuk krisis di Suriah terletak di tangan orang-orang Suriah karena mereka terutama yang berkaitan, dengan kemungkinan mendapat dukungan internasional oleh PBB.

Dia menunjukkan bahwa negara-negara tetangga tertarik dalam memecahkan krisis, tergantung pada perlunya mengakhiri penderitaan rakyat Suriah, belum lagi ketakutan mereka terhadap fakta bahwa krisis tidak akan menetap di dalam batas-batas Suriah selamanya, itu mungkin diselesaikan atau justru akan berkembang.

Mengenai gencatan senjata pada kesempatan Idul Adha, Brahimi mengatakan "Ini menjadi pertanda baik bagi pemerintah Suriah, dan jika oposisi menyambut positif usulan tersebut, mungkin menjadi langkah kecil menuju gencatan senjata dan memulai pembicaraan tentang penarikan senjata berat serta menghentikan aliran senjata dari luar untuk mencapai solusi politik krisis di Suriah."
(H-AK)

Pemimpin Macan Tamil terkait pembunuhan Rajiv Gandhi bebas

Posted: 17 Oct 2012 11:42 AM PDT

Kolombo (ANTARA News) - Pemimpin terakhir Macan Tamil yang diburu oleh India terkait dengan pembunuhan mantan Perdana Menteri Rajiv Gandhi telah dibebaskan dari penjara militer, demikian diumumkan Kementerian Pertahanan Sri Lanka, Rabu.

Selvarasa Pathmanathan, yang ditangkap pada Agustus 2009, tidak lagi ditahan dan bebas melakukan pekerjaan untuk sebuah yayasan yang dibentuknya, kata Lakshman Hulugalle, kepala pusat media kementerian pertahanan, lapor AFP.

"Secara praktis, tidak ada lagi penahanan," kata Hulugalle kepada wartawan di Kolombo ketika ditanya apakah Pathmanathan, yang diburu oleh Interpol sesuai dengan permintaan India, kini tinggal di wilayah utara Sri Lanka.

"Ia kini mengelola sebuah organisasi non-pemerintah dan melakukan pekerjaan yang bermanfaat untuk orang lain... dan ia bebas melakukan pekerjaannya," kata Hulugalle. "Tidak ada kasus pengadilan terhadapnya."

Pathmanathan, kepala bagian pembelian senjata internasional Macan Tamil, diangkat sebagai pemimpin Macan Pembebasan Tamil Eelam (LTTE) oleh Velupillai Prabhakaran sebelum pemimpin tertinggi LTTE itu tewas dalam serangan pasukan Sri Lanka pada 2009.

India menganggap Pathmanathan (58) sebagai tersangka penting dalam pembunuhan Rajiv pada Mei 1991 oleh penyerang bunuh diri Tamil Sri Lanka selama kampanye pemilihan umum di negara bagian Tamil Nadu, India utara.

Pasukan Sri Lanka meluncurkan ofensif besar-besaran untuk menumpas kelompok pemberontak LTTE pada 2009 yang mengakhiri perang etnik hampir empat dasawarsa di negara tersebut.

Namun, kemenangan pasukan Sri Lanka atas LTTE menyulut tuduhan-tuduhan luas mengenai pelanggaran hak asasi manusia.

Pada September 2011, Amnesti Internasional yang berkantor di London mengutip keterangan saksi mata dan pekerja bantuan yang mengatakan, sedikitnya 10.000 orang sipil tewas dalam tahap final ofensif militer terhadap gerilyawan Macan Tamil pada Mei 2009.

Pada April 2011, laporan panel yang dibentuk Sekretaris Jendral PBB Ban Ki-moon mencatat tuduhan-tuduhan kejahatan perang yang dilakukan kedua pihak.

Sri Lanka mengecam laporan komisi PBB itu sebagai "tidak masuk akal" dan mengatakan, laporan itu berat sebelah dan bergantung pada bukti subyektif dari sumber tanpa nama.

Sri Lanka menolak seruan internasional bagi penyelidikan kejahatan perang dan menekankan bahwa tidak ada warga sipil yang menjadi sasaran pasukan pemerintah. Namun, kelompok-kelompok HAM menyatakan, lebih dari 40.000 warga sipil mungkin tewas akibat aksi kedua pihak yang berperang.

Pemerintah Sri Lanka pada 18 Mei 2009 mengumumkan berakhirnya konflik puluhan tahun dengan Macan Tamil setelah pasukan menumpas sisa-sisa kekuatan pemberontak tersebut dan membunuh pemimpin mereka, Velupillai Prabhakaran.

Pernyataan Kolombo itu menandai berakhirnya salah satu konflik etnik paling lama dan brutal di Asia yang menewaskan puluhan ribu orang dalam berbagai pertempuran, serangan bunuh diri, pemboman dan pembunuhan.

Macan Pembebasan Tamil Eelam (LTTE) juga telah mengakui bahwa Velupillai Prabhakaran tewas dalam serangan pasukan pemerintah Sri Lanka.

PBB memperkirakan, lebih dari 100.000 orang tewas dalam konflik separatis Tamil setelah pemberontak Macan Tamil muncul pada 1972.

Sekitar 15.000 pemberontak Tamil memerangi pemerintah Sri Lanka dalam konflik etnik itu dalam upaya mendirikan sebuah negara Tamil merdeka.

Masyarakat Tamil mencapai sekitar 18 persen dari penduduk Sri Lanka yang berjumlah 19,2 juta orang dan mereka terpusat di provinsi-provinsi utara dan timur yang dikuasai pemberontak. Mayoritas penduduk Sri Lanka adalah warga Sinhala. (M014)

Tiada ulasan:

Catat Ulasan