Selasa, 13 Mac 2012

Republika Online

Republika Online


Jadi Astronot Bikin Otak Terganggu Lho..

Posted: 13 Mar 2012 09:15 PM PDT

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON - Waktu lama di antariksa mungkin mengakibatkan gangguan mata dan otak seperti gejala yang dapat muncul akibat tekanan darah tinggi di kepala dengan sebab yang tak diketahui.

Itu adalah kondisi serius saat tekanan meningkat di dalam tengkorak kepala, kata satu studi yang disiarkan di jurnal Radiologi, edisi daring (dalam jaringan), Selasa (13/3).

Satu tim peneliti melakukan pencitraan resonansi magnetik (MTI) dan menganalisis data dari 27 astronot, masing-masing dari mereka terpajan pada mikrogavitasi, atau gravitasi nol, selama 180 hari sewaktu menjalani misi ulang-alik antariksa dan, atau, di Stasiun Antariksa Internasional (ISS).

Delapan dari ke-27 astronot tersebut menjalani pemeriksaan MRI kedua setelah misi antariksa kedua mereka --yang berlangsung rata-rata 39 hari.

"Temuan MRI itu mengungkapkan beragam kombinasi gangguan setelah akumulasi pajanan jangka panjang dan pendek terhadap mikrogravitasi yang juga terlihat pada 'idiopathic intracranial hypertension'," kata profesor di The University of Texas Medical School di Houston, Larry Kramer di dalam satu pernyataan.

Jenis gangguan serupa ditemukan pada beberapa kasus tekanan darah tinggi di kepala, tempat tak ada penyebab yang dapat ditemukan dalam peningkatan tekanan darah di sekitar otak. Tekanan tersebut mengakibatkan pembengkakan persimpangan antara syaraf mata dan bola mata sehingga bisa mengakibatkan gangguan pandangan.

Terhentinya pertumbuhan otot dan hilangnya mineral tulang adalah sebagian dampak yang diketahui mengenai gravitasi nol pada astronot.

Awas, Jangan Kebanyakan Makan Kerang

Posted: 13 Mar 2012 08:40 PM PDT

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kerang adalah salah satu komoditi utama sea food yang akrab di masyarakat. Namun, masyarakat yang gemar sea food yang satu ini diminta untuk waspada, mengingat sifat kerang selama hidupnya yang disebut Oseanografi LIPI, seperti penyedot debu.

Oseanografi LIPI menyebut, tidak seperti ikan yang aktif berenang, kerang cenderung statis. "Kerang itu seperti penyedot debu. Dia akan menghisap apa saja yang didekatnya, termasuk logam berat. Di dalam tubuh kerang, logam tersebut dimanipulasi kerang," kata Kepala Oseanografi LIPI, Zainal Arifin.

Zainal menambahkan, "Kerang tidak menderita efek apapun, namun tidak demikian dengan manusia. Penumpukan logam berat akan membahayakan kesehatan."

Selain itu, sambung Zainal, kerang juga menjadi bioindikator untuk kualitas air. Banyaknya kerang mengindikasikan kualitas air patut dipertanyakan. Hal ini dikarenakan nutrisi untuk hidup kerang meliputi nitrogen dan fosfat berlimpah. Kedua zat tersebut berasal dari limbah rumah tangga yang air.

Kerang telah menjadi sandaran hidup para nelayan. Pencemaran menyebabkan hasil tangkapan semakin minim dan beralih pada budidaya kerang. Pada 2003 tercatat ada 3.410 keramba bambu (bagan). Kapasitas produksi per hari adalah 120 sampai 175 ton.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan