Rabu, 9 November 2011

ANTARA - Hiburan

ANTARA - Hiburan


Bamus: budaya Betawi makin diakui

Posted: 09 Nov 2011 06:00 AM PST

Bintang Budaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kanan) menganugerahkan tanda kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma kepada tokoh Betawi dan aktor kondang Benyamin Sueb (Almarhum) yang diterima oleh ahli warisnya, Biem Benjamin (kiri) di Istana Negara, Jakarta, Selasa (8/11). (FOTO ANTARA/Widodo S. Jusuf) ()

Berita Terkait

Jakarta (ANTARA News) - Pemberian penghargaan pemerintah Indonesia kepada seniman serba bisa asal Betawi Benyamin Sueb menunjukkan bahwa budaya Betawi makin mendapat pengakuan dan diterima masyarakat, kata Ketua III Bamus Betawi, Becky Mardani.

Untuk itu, kata ketua Bamus Betawi yang membidangi masalah budaya dan pemuda itu di Jakarta, Rabu, penghargaan pemerintah tersebut harus menjadi pemicu bagi penggiat kesenian Betawi, khususnya pemuda Betawi, untuk lebih giat dalam berkesenian.

"Ini merupakan tantangan. Berkesenian itu sudah makin diterima dan diakui," katanya berkaitan dengan diberikannya penghargaan Bintang Budaya Parama Dharma oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Selasa (8/11).

Sementara bagi pemerintah, khususnya pemerintah DKI Jakarta, menurut dia, penghargaan itu harus mendorong mereka untuk lebih memberikan fasilitas dan pendampingan untuk tumbuh kembangnya budaya berkesenian orang Betawi, penduduk asli ibukota Jakarta.

Mengenai penghargaan bintang budaya tertinggi atas jasa-jasa terhadap perkembangan kebudayaan nasional itu, kata Becky, Bamus Betawi, sebagai organisasi berhimpunnya sejumlah ormas Betawi, mengucapkan terima kasih.

Menurut dia, Benyamin merupakan seniman serba bisa asli Betawi yang berkarakter dan spontanitas tinggi yang hingga kini belum ada penggantinya.

Benyamin Sueb, lahir di Kemayoran, Jakarta, pada 5 Maret 1939 dan meninggal pada 5 September 1995. Ia adalah pemeran, pelawak, sutradara dan penyanyi Indonesia.

Benyamin Sueb, yang namanya telah dijadikan nama jalan pengganti Jalan Landas Pacu Kemayoran, telah menghasilkan lebih dari 75 album musik dan 53 judul film

Ia pernah menerima piala citra pada FFI 1972 untuk film Intan Berduri dan piala citra pada FFI 1975 untuk film Si Doel Anak Modern.

Bersama Benyamin, tokoh budaya dan seniman lainnya yang menerima penghargaan dalam rangka peringatan Hari Pahlawan 10 November 2011 adalah Hasbullah Parindurie (sastrawan), Harijadi Soemadidjaja (pelukis), dan Gondo Durasim (seniman ludruk).

Seniman lainnya adalah Huriah Adam (koreografer dan penari), Idrus Tintin (penyair), Kwee Tek Hoay (sastrawan melayu peranakan), Sigit Sukasman (pencipta wayang ukir), Go Tik Swan atau KRT Hardjonagoro (seniman batik) serta Gedong Bagus Oka (budayawan).

(A023/A011)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full content generated by Get Full RSS.

ANTARA-HOS edukasi masyarakat Surabaya tentang Indonesia

Posted: 09 Nov 2011 04:35 AM PST

lkbn antara (ANTARA)

Berita Terkait

Video

Surabaya (ANTARA News) - Galeri Foto Jurnalistik Antara bekerja sama dengan "House of Sampoerna" mengedukasi masyarakat Surabaya tentang kelahiran Indonesia melalui pameran fotografi bertajuk "Dari Pegangsaan-Rijswijk" di galeri seni setempat.

Kurator GFJA, Oscar Motuloh, di Surabaya, Rabu, mengaku optimistis, kegiatan yang dilaksanakan di Kota Pahlawan pada tanggal 10 November hingga 11 Desember 2011 itu akan menjadi ajang pertukaran informasi sejarah visual kepada masyarakat agar menghayati masa lalu.

"Namun, dari masa lalu dapat diambil hikmahnya untuk menapaki masa depan," katanya, ditemui di Galeri Seni HoS pada jumpa pers Pameran Fotografi Jurnalisrik dan Pegangsaan sampai Rijswijk itu.

Ke-66 foto yang dipajang dalam pameran itu, urai dia, akan bercerita tentang kondisi Indonesia pada periode 17 Agustus 1945 hingga 17 Agustus 1950.

"Potret yang menggambarkan perjalanan panjang Bangsa Indonesia menggapai kemerdekaan ini merupakan karya Mendur bersaudara dan koleksi Indonesian Press Photo Service Coy Ltd (IPPHOS)," ujarnya.

Mendur bersaudara, rinci dia, adalah sapaan akrab fotografer yang mengabadikan detik proklamasi kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945.

"Kedua bersaudara yang terdiri dari Alex Impurung Mendur dan Frans Mendur akhirnya merintis pendirian IPPHOS pada tanggal 2 Oktober 1946 di Jakarta," ulasnya.

Ia menilai, pameran foto bersejarah karya mereka dan IPPHOS ibarat muara pertemuan fotografi jurnalistik dan penyiaran kabar gembira tentang lahirnya Indonesia.

"Kami harap melalui pameran ini dapat mengingatkan generasi muda terhadap susahnya perjuangan para pahlawan pada masa tersebut," katanya.

Sementara itu, Manajer Museum "House of Sampoerna", Rani Anggraini, mengatakan, kerja sama tersebut diharapkan dapat meningkatkan apresiasi masyarakat tidak hanya terhadap karya seni fotografi tetapi mengenal sejarah yang mungkin terlupakan.

"Apalagi, pameran foto saat ini ikut menyuguhkan foto yang belum pernah dilihat sepanjang sejarag kemerdekaan Indonesia sampai sekarang," katanya.

(ANT-071/E011)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full content generated by Get Full RSS.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan