Ahad, 3 April 2011

KOMPAS.com - Internasional

KOMPAS.com - Internasional


Khadafy Kirim Utusan untuk Atasi Konflik

Posted: 04 Apr 2011 03:01 AM PDT

ATHENA, KOMPAS.com - Kolonel Moammar Khadafy mengutus seorang penasihat terpercayanya ke Yunani guna melakukan pembicaraan yang bisa mengisyaratkan kesiapan pemimpin Libya itu untuk mundur.

Dailymail, Senin (4/4/2011) melaporkan, utusan itu, Abdulati al-Obeidi, yang bertindak sebagai penjabat menteri luar negeri Libya setelah pembelotan Menteri Luar Negeri Moussa Koussa ke London pekan lalu, bertemu dengan Perdana Menteri Yunani George Papandreou, di Athena, Minggu malam. Dia merupakan utusan senior pertama yang dikirim Khadafy sejak koalisi internasional mulai menegakkan zona larangan terbang di Libya.

Para pejabat Yunani mengatakan, Obeidi, yang sebelumnya dikabarkan dekat dengan Koussa yang membelot, membawa pesan dari Kolonel Khadafy. Perjalanan Obeidi itu menaikkan prospek bahwa pemimpin Khadafy bersedia untuk melakukan gencatan senjata dan mengakui tuntutan internasional bagi pengunduran dirinya.

Kantor Papandreou mengatakan, Perdana Menteri Yunani itu telah bertemu dengan Obeidi "atas permintaan Perdana Menteri Libya", Al-Baghdadi Ali Al-Mahmudi.

Sejumlah laporan menduga, sebagaimana dilansir The Telegraph, Obeidi telah melakukan perjalanan ke Tunisia dengan Koussa minggu lalu, tapi ia tidak melarikan diri ke Inggris bersama bosnya. Obeidi, yang merupakan penasehat berpengaruh dalam kelompok Kolonel Khadafy yang terus menyusutnya, tampaknya percaya bahwa satu paket reformasi dan transisi ke sebuah tipe baru kepemimpinan, bahkan seorang pemimpin baru, bisa berhasil.

Sejumlah pejabat Libya secara pribadi mengakui bahwa akan memungkinkan untuk menyingkirkan Kolonel Khadafy. Sebentuk pengasingan internal di tengah padang gurun dilihat sebagai satu pilihan yang mungkin terjadi.

Obeidi minggu lalu mengatakan, ia bekerja untuk sebuah "solusi bersama" antara rezim yang berkuasa dan posisi internasional. "Kami mencoba untuk berbicara dengan Inggris, Perancis dan Amerika untuk menghentikan pembunuhan terhadap rakyat," katanya. "Kami harus berkonsentrasi pada demokrasi dan konstitusi, yang kami sudah lakukan."

Sementara itu, para pejabat Inggris menekankan bahwa itu masih sangat awal, dan bahwa pemimpin Libya telah menyatakan dua gencatan senjata hanya untuk melanggarnya. Sebuah sumber menambahkan, "Kami akan menilai mereka berdasarkan tindakannya, bukan kata-kata mereka. Kami tidak terlalu bersemangat tentang seseorang yang terbang ke Yunani."

Sent Using Telkomsel Mobile Internet Service powered by

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Orang Asing Lari dari Pantai Gading

Posted: 04 Apr 2011 02:07 AM PDT

ABIDJAN, KOMPAS.com - Kelompok pertama orang asing yang melarikan diri dari kekacauan di Pantai Gading telah dievakuasi, Minggu (3/4/2011), saat tentara Perancis mengambil alih bandara di Abidjan. Negara di Afrika barat itu didera pertempuran dan penjarahan terkait perebutan kursi presiden antara Alassane Ouattara dan Laurent Gbagbo.

Pihak militer Perancis kepada AFP, Minggu, mengatakan, penerbangan khusus ke Dakar dari Abidjan telah mengangkut 167 orang asing, termasuk warga Perancis dan Libanon. "Sebanyak 77 orang, kebanyakan warga Perancis, telah berangkat semalam dan 90 orang pada siang hari (Minggu). Itu bukan evakuasi tapi pilihan yang diberikan untuk pergi," kata juru bicara militer Perancis, Frederic Daguillon. "Penerbangan komersial belum dimulai lagi, itu penerbangan khusus. Siang ini ada banyak orang, khususnya Libanon. Tujuannya adalah Dakar dengan melewati Lome."

Kedutaan Perancis di Lome menuturkan, 77 orang yang meninggalkan Pantai Gading Sabtu malam sebagian besar orang Prancis. "Operasi itu dilakukan dengan dua pesawat angkut milik militer Perancis. Kedutaan Perancis telah menerima para pengungsi itu pada saat kedatangan mereka di Togo," kata kedutaan itu dalam satu pernyataan.

Lebih dari 1.500 orang asing telah berusaha berlindung di kamp militer Perancis di Abidjan setelah empat hari pertempuran sengit ketika presiden yang diakui secara internasional Alassane Ouattara melancarkan serangan terhadap benteng pertahanan saingannya, Laurent Gbagbo.

Perseteruan keduanya memuncak sejak pemilihan umum yang berujung sengketa pada November tahun lalu. Mereka saling menyalahkan atas pembantain yang terjadi negara itu.  Sekjen PBB, Ban Ki-moon, Minggu, menuntut Ouattara untuk mengambil tindakan terhadap pengikut yang mungkin telah ambil bagian sejumlah pembantaian. Dalam sebuah percakapan telepon dengan Ouattara, Ban menyatakan "keprihatinan dan peringatan" atas laporan pembunuhan di kota Duekoue, kata jurubicara PBB Martin Nesirky.

Ouattara membantah pengikutnya telah terlibat dalam pembunuhan itu tetapi ia mengatakan telah memerintahkan penyelidikan terhadap kasus tersebut, kata Nesirky. Juru bicara Gbagbo di Paris, Alain Toussaint, juga membantah pasukan Gbagbo telah berperan dalam pembantaian. "Seluruh wilayah ini (Pantai Gading) 90 persen dikendalikan oleh pemberontak yang harus bertanggung jawab atas pembantaian itu," katanya.

Sent Using Telkomsel Mobile Internet Service powered by

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Tiada ulasan:

Catat Komen