Selasa, 22 Februari 2011

KOMPAS.com - Internasional

KOMPAS.com - Internasional


Menlu: WNI di Libya Hindari Keramaian

Posted: 23 Feb 2011 02:25 AM PST

Timur Tengah

Menlu: WNI di Libya Hindari Keramaian

Penulis: Hindra Liu | Editor: A. Wisnubrata

Rabu, 23 Februari 2011 | 10:25 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa meminta warga negara Indonesia di Libya untuk menghindari tempat-tempat keramaian menyusul situasi yang memanas di negara pimpinan Moammar Khadafy itu.

"Kita meminta WNI untuk tetap waspada dan menghindari tempat-tempat keramaian dan terus berkomunikasi dengan KBRI di sana," ujar Marty singkat kepada para wartawan di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (23/2/2011).

Pemerintah, kata Marty, telah mempersiapkan langkah-langkah tertentu untuk mengamankan WNI di Libya. Namun, Marty tak menjelaskan secara rinci rencana tersebut. Rencana pengamanan terhadap WNI di Libya dikatakan Marty lebih menantang dibandingkan di Mesir.

"Namun, khusus Libya, ini berbeda dengan keadaan di Mesir. Kalau keadaan Mesir, pemerintah di sana terbuka dan memfasilitasi warga negara Indonesia. Sementara di Libya sifatnya kebalikan dari itu. Semua jalur penerbangan udara, darat, dan laut itu agak sulit, sehingga menimbulkan tantangan tersendiri," kata Marty.

Sent Using Telkomsel Mobile Internet Service powered by

Kirim Komentar Anda

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Khadafy Ditinggalkan Menterinya

Posted: 23 Feb 2011 02:15 AM PST

TOBRUK, KOMPAS.com — Menteri Dalam Negeri Libya, Abdul Fattah Younis al Abidi, Rabu (23/2/2011), mengatakan, ia telah mundur dari pemerintahan dan mendukung para pengunjuk rasa. Ia meramalkan perjuangan rakyat Libya akan meraih kemenangan dalam hitungan hari atau jam.

Younis al Abidi, kepada CNN, mengatakan, ia telah mengundurkan diri, Senin, setelah mendengar kabar bahwa sekitar 300 warga sipil tak bersenjata tewas hanya di Benghazi dalam dua-tiga hari sebelumnya. Ia menuduh pemimpin Libya, Moammar Khadafy, berencana untuk menyerang warga sipil dalam skala luas.

"Khadafy memberi tahu saya, ia berencana untuk menggunakan pesawat tempur dalam melawan rakyat di Benghazi, dan saya mengatakan kepadanya bahwa ia akan mendapati ribuan orang tewas jika melakukan hal itu," kata Abidi dalam sebuah wawancara telepon dengan menggunakan bahasa Arab, Rabu.

Ia melanjutkan, sekarang ia mendukung rakyat dan revolusi. Ia menyebut Khadafy "orang yang keras kepala" yang tidak akan menyerah. "Dia akan melakukan bunuh diri atau akan dibunuh," kata Abidi, yang menambahkan, ia telah mengenal Khadafy sejak tahun 1964.

Abidi meramalkan, revolusi akan berhasil "dalam hitungan hari atau jam" dan ia meminta pasukan keamanan Libya "untuk bergabung dengan rakyat dalam intifadhah." Ia mengatakan, sudah banyak anggota pasukan keamanan yang membelot, termasuk yang berada ibu kota Tripoli.

Menurut dia, seluruh bagian timur negara itu tidak lagi berada di bawah kendali Khadafy, dan pasukan keamanan di sana telah memerintahkan untuk tidak lagi menembaki rakyat kecuali jika terpaksa demi membela diri.

Wartawan CNN, Ben Wedeman, melaporkan, di Libya bagian timur, kelompok pria bersenjata yang mengenakan pakaian sipil menjaga jalan-jalan saat pemimpin oposisi tampaknya berada dalam kontrol yang ketat. Wedeman merupakan koresponden televisi Barat pertama yang masuk dan memberi laporan dari Libya selama krisis ini.

Saat Wedeman dan krunya memasuki negara itu, seorang pemuda berpakaian sipil dan menenteng AK-47 di perbatasan meminta paspor mereka. "Untuk apa?" kata sopir Wedeman. "Tidak ada pemerintah lagi. Apa gunanya?." Mereka pun melaju masuk. "Di sisi Libya, tidak ada pejabat, tidak ada pemeriksaan paspor, tidak ada pabean," lapor Wedeman.

Sementara itu, Duta Besar Libya untuk Amerika Serikat, Ali Aujali, telah mendesak Khadafy untuk mengundurkan diri. Aujali telah bergabung dengan para diplomat Libya lainnya, termasuk wakil duta besar Libya untuk PBB, yang mengatakan bahwa mereka bekerja untuk rakyat Libya dan bukan untuk Khadafy. Di antara mereka yang membangkang adalah Duta Besar Libya untuk Bangladesh, AH Elimam, yang mengundurkan diri dan bergabung dengan demonstran prodemokrasi, serta Duta Besar Libya untuk Indonesia, Salaheddin M El Bishari.

Pengunduran diri sejumlah duta besar itu terjadi setelah protes di Libya memasuki minggu ke dua dan Khadafy tampaknya telah kehilangan kendali di bagian timur negara itu, dan beberapa jam setelah Khadafy menyampaikan pidatonya, Selasa, yang menolak seruan untuk mundur. "Ini negara saya, negara kakek saya," kata Khadafy dalam pidatonya yang disiarkan langsung di televisi Pemerintah Libya. Dia bersumpah untuk mati "syahid" di negaranya.

Khadafy malah menyalahkan kerusuhan yang terjadi pada "tikus-tikus" yang merupakan "agen-agen" badan intelijen asing. Khadafy mengatakan, orang-orang yang bekerja sama dengan kekuatan-kekuatan asing telah mengobarkan perselisihan, dan mereka yang mengangkat senjata melawan negara akan dieksekusi.

Televisi Libya menjelaskan, kerumunan orang banyak di jalan-jalan yang menyaksikan pidato Khadafy merupakan pendukungnya. Namun seorang pemimpin oposisi mengatakan, orang-orang itu telah diseret ke jalan. Beberapa siswa di Academy of Graduate Studies di Tripoli ditawarkan gelar master gratis jika mereka mau bergabung sebagai pendukung Khadafy di Lapangan Hijau, kata sumber itu. Beberapa orang di Tripoli ditawari uang untuk memasang gambar Khadafy pada mobil mereka dan pergi ke Langan Hijau, kata sumber itu lagi.

Sent Using Telkomsel Mobile Internet Service powered by

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan