Sabtu, 8 Januari 2011

Republika Online

Republika Online


Jejak Arab di Batavia

Posted: 08 Jan 2011 07:51 AM PST

REPUBLIKA.CO.ID, Prof Dr L.W.C. van den Berg – orintalis belanda – pernah meneliti kampung Pekojan pada 1884 – 1886. Menurutnya, sebelum dihuni oleh orang Arab dari Hadramaut, Pekojan terlebih dulu menjadi pemukimanm orang Bengali dari India. Setelah etnis India pindah dari sini, Pekojan menjadi kampung Arab. Kata Pekojan sendiri dari kata Koja berasal dari kata Koja sebutan untuk Muslim India yang datang dari Benggali.
 
Di Pekojan, kita akan mendatangi Masjid Langgar Tinggi yang terletak diantara Jalan Pekojan Raya dan Kali Angke. Dinamakan demikian karena masjid ini terdiri dua tingkat. Masjid terletak di lantai dua – yang ornamen-ornamennya masih kita jumpai peninggalan ratusan tahun lalu. – Masjid ini dibangun oleh seorang Kapiten Arab Shekh Said Naum, yang sebelumnya tinggal di Palembang. Dia adalah seorang dermawan kaya raya yang memiliki banyak kapal niaga. Dia juga mewakafkan tanah yang luas untuk pemakaman wakaf di Tanah Abang, yang pada tahun 1970'an dijadikan rumah susun Tanah Abang (Jl KH Mas Mansyur) dan Masjid Said Naum. Masjid ini pernah mendapat hadiah arsitektur terbaik dari Agha Khan.
 
Setelah jatuhnya VOC (1779) sebagian besar pelayaran jatuh ketangan orang Arab, Cina dan India. Di Batavia, pada tahun 1885 orang Arab memiliki 75 armada kapal. Pada abad ke-19 sebagian distribusi barang-barang ke Batavia dikuasi orang Cina, Arab dan India. Langgar Tinggi dibangun 1833. Lantai bawah dipergunakan untuk kediaman pengurus masjid dan toko buku serta minyak  wangi.
 
Dari Masjid Langgar Tinggi dangan berjalan kaki  yang jaraknya hanya sekitar 50 meter kita menuju Masjid Jami' An-Nawier melewati gedung-gedung bergaya Moor yang sayangnya kini banyak berubah fungsi jadi pergudangan. Masjid yang terbesar di Kelurahan Tambora, Jakarta Barat ini lebih dikenal dengan nama Masjid Pekojan. Di bagian belakang masjid terdapat beberapa makam antara lain makam Syarifah Fatimah – yang memberi wakaf atas tanah yang cukup luas ini.- Masjid ini direnovasi oleh Sayid Abdullah bin Husein Alaydrus, Dia adalah tuan tanah kaya raya dan namanya diabadikan untuk Jalan Alaydrus, Jalan Hayam Wuruk yang merupakan kediamannya. Masjid ini banyak menghasilkan ulama-ulama besar pada masanya seperti Mufti Besar, Habib Usman bin Yahya, Masjid ini punya kaitan erat dengan Keraton Solo dan Banten, Jika ada keluarga kedua kesultanan ini ada yang meninggal dunjia, maka duka cita dan shalat gaib disampaikan pula ke Masjid An-Nawier. Begitu sebaliknya.  Mihrab masjid bersejarah ini diberikan oleh Sultan Pontianak, Al-Kadri. Bentuknya seperti singgasana.
 
Di depan masjid terdapat 'jembatan kambing'. Dinamakan demikian karena jembatan di Kali Angke ini tempat kambing-kambing yang berdatangan melewati jembatan ini. Setelah didatangkan dari Tegal dan Purwokerto. Para penjualnya umumnya dewasa ini sudah tiga generasi, Kita dapat menyaksikan puluhan ekor kambing dan tempat pemotongannya di Pejagalan tidak jauh dari Pekojan. Herannya, meski penduduk Pekojan mayoritas orang Tionghoa, tapi kambing yang terjual cukup banyak, menurut cerita para pedagang.
 
Dari sini kita menuju kediaman Habib Abdurahman Alatas yang tidak berjauhan dengan jembatan kambing dan masjid jami. Di sini kita akan makan siang  dengan nasi kebuli. Tersedia juga nasi putih untuk yang tidak menyukai kebuli. Kebuli dari Pekojan konon paling lezat di Jakarta. Setelah makan siang dan hidangan kopi jahe dengan mobil kita akan menuju Kampung Luar Batang di Pasar Ikan, Jakarta Utara.
 
Di sinilah tempat ziarah paling banyak dikunjungi di Jakarta sejak ratusan tahun lalu. Habib Husein yang dimakamkan di masjidnya itu meninggal Kamis 27 Puasa 1189 H (27 Juni 1756). Masjid tempat makam ini berada telah diperbaharui oleh gubernur DKI Fauzi Bowo. Di masa-masa lalu, bila jamaah pulang haji mereka akan mampir dulu di Luar Batang. Demikian pula bila anak lahir dia akan meminta nama di pemakaman keramat ini.

Full Feed Generated by GetFullRSS.com, sponsored by USA Best Price.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan