Isnin, 3 Januari 2011

KOMPAS.com - Regional

KOMPAS.com - Regional


10 Menit Hujan Turun, Denpasar Banjir

Posted: 03 Jan 2011 07:27 AM PST

10 Menit Hujan Turun, Denpasar Banjir

Senin, 3 Januari 2011 | 15:27 WIB

Suasana kota Denpasar

TERKAIT:

DENPASAR.KOMPAS.com - Hanya dalam waktu 10 menit hujan deras mengguyur Denpasar dan sekitarnya, tapi sudah terjadi genangan di sejumlah kawasan di pusat Kota Denpasar.

Seperti pantauan Kompas.com di Jalan Pidada, Gatot Subroto barat, air yang meluap dari selokan menyebabkan badan jalan digenangi air setinggi lutut orang dewasa. Sejumlah kendaaraan khususnya sepeda motor, tampak berhati-hati melintasi jalan pidada karena ketinggian air dapat mengakibatkan sepeda motor mereka macet. Bahkan sebagian dari mereka memilih untuk berhenti sejenak atau memutar balik mencari jalur alternatif lain.

"Kalau hujan sebentar saja, Denpasar sudah banjir," ujar Iin, salah seorang pemilik warung di Jalan Pidada.

Penyebab tingginya genangan di jalan pidada ini karena drainase yang buruk. Meski sudah terjadi berkali-kali setiap hujan deras, namun sampai saat ini belum ada upaya pembenahan drainase. Jika bagi orang dewasa, genangan air ini mengganggu perjalanan mereka, lain halnya dengan sejumlah anak-anak yang tinggal di kawasan ini.

Mereka justru memanfaatkan genangan air ini sebagai tempat bermain mereka. Meski berbahaya karena banyak dilintasi kendaraan mereka tetap cuek dan menikmati kegembiraan mereka di tengah suasana hujan. 

Penulis: Muhammad Hasanudin   |   Editor: R Adhi KSP Loading...

Kirim Komentar Anda

Kirim Komentar Anda

Full Feed Generated by GetFullRSS.com, sponsored by USA Best Price.

Enam Bersaudara Meninggal Akibat Tiwul

Posted: 03 Jan 2011 07:17 AM PST

JEPARA, KOMPAS.com - Enam orang bersaudara dari Desa Jebol, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, meninggal dunia diduga akibat keracunan makanan tiwul yang terbuat dari bahan ketela pohon.

Orangtua korban, Jamhamid (45), di Jepara, Senin (3/1/2011), membenarkan, keenam korban meninggal yang diduga akibat mengonsumsi tiwul tersebut merupakan anaknya dari tujuh orang bersaudara.

"Awalnya, yang meninggal dua orang, yakni Lutfiana (22) dan Abdul Amin (3) di Rumah Sakit Umum Daerah Kartini Jepara, masing-masing meninggal pada Sabtu (1/1/2011) pagi dan Sabtu malam," ujarnya.

Korban Lutfiana yang merupakan anak pertama dari tujuh bersaudara dimakamkan Sabtu siang, sedangkan jenazah Abdul Amin dimakamkan Minggu (2/1/2011). Pemakaman pada hari yang sama juga dilakukan untuk korban Ahmad Kusrianto (5) anak nomor enam dan Ahmad Hisyam Ali (13) anak nomor empat.

Sedangkan anak nomor lima dan tiga, yakni Saidatul Kusniah (8) dan Faridatul Solihah (15) yang meninggal Senin dini hari dimakamkan pada hari ini sekitar pukul 11.00 WIB. Dia mengakui, keluarganya mulai mengonsumsi tiwul sebagai makanan alternatif sejak dua pekan terakhir, mengingat penghasilannya sebagai penjahit di Semarang kurang mencukupi kebutuhan keluarga.

"Setiap pekan, penghasilan saya hanya berkisar antara Rp 150.000 hingga Rp 200.000," ujarnya.

Penghasilan selama sepekan tersebut, kata dia, hanya bertahan selama tiga hingga empat hari saja. "Terkadang, kami hanya bisa membeli beras 10 kilogram dari biasanya bisa membeli hingga 16 kg untuk memenuhi kebutuhan delapan anggota keluarga," ujarnya.

Untuk itu, kata dia, sejak dua pekan terakhir terpaksa harus mengonsumsi makanan alternatif, berupa tiwul yang biasa disediakan oleh istrinya Siti Sunayah (41). Kini, keluarga pasangan Jamhamid dan Siti Sunayah tinggal satu orang yang hidup bersama suaminya.

Siti Sunayah mengungkapkan, keluarganya mulai mengonsumsi tiwul sejak dua pekan terakhir, karena kondisi keuangan keluarga yang kurang mencukupi. "Makanan ini hanya bersifat sebagai selingan dari menu makanan utama," ujarnya.

Makanan tersebut, kata dia, terbuat dari sari ketela pohon, dicampur dengan bahan lain, seperti pemanis buatan, gula aren, dan kelapa parut.

Awalnya, kata dia, anaknya yang bernama Lutfiana mengeluh pusing, kemudian minta dikerok. "Setelah itu, mengalami muntah berulang kali," ujarnya.

Dia mengaku, tidak mengetahui anaknya itu mengalami keracunan. "Hal ini, juga diperkuat dengan pernyataan mantri setempat yang menganggap gejala tersebut hanya penyakit biasa," ujarnya.

Hanya saja, kata dia, selang beberapa jam kemudian, anaknya harus dilarikan ke rumah sakit terdekat. "Saya memang sempat mengonsumsi sedikit, sedangkan suami tidak ikut mengonsumsi karena berada di Semarang," ujarnya.

Kapolres Jepara AKBP Ruslan Ependi melalui Kasat Reskrim AKP Rismanto mengungkapkan, kasus dugaan keracunan makanan yang mengakibatkan korban jiwa tersebut masih dalam proses penyelidikan polisi.

"Saat ini, kami masih menunggu hasil pemeriksaan sampel sisa makanan, ketela pohon yang masih tersisa, dan muntahan korban di laboratorium Polda Jateng," ujarnya.

Full Feed Generated by GetFullRSS.com, sponsored by USA Best Price.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan