Rabu, 5 Jun 2013

ANTARA - Mancanegara

ANTARA - Mancanegara


Mantan prajurit AS akui transgender

Posted: 05 Jun 2013 08:45 PM PDT

Washington (ANTARA News) - Seorang mantan prajurit Angkatan Laut SEAL Amerika Serikat yang saat ini menjalani hidup sebagai seorang perempuan setelah menjalani terapi hormon menulis tentang perjuangannya untuk menjadi perempuan dalam sebuah memoar baru yang berjudul "Warrior Princes".

Kirsten Beck telah menerbitkan sebuah buku elektronik yang menceritakan kekacauan batinnya saat dia bertugas di Team 6 SEAL yang seluruh anggotanya laki-laki. Ia pensiun dari tim itu beberapa bulan sebelum unit itu membunuh pemimpin Al-Qaida Osama bin Laden di tempat persembunyian di Pakistan pada 2011.

Buku Beck itu diterbitkan lebih dari dua tahun sejak Kongres mencabut larangan prajurit yang secara terbuka mengaku homoseksual bertugas di militer Amerika. Tapi laki-laki atau perempuan yang mengaku transgender secara terbuka masih dilarang untuk bertugas di militer dan para aktivis berharap memoar itu bisa membantu mencabut larangan tersebut.

Buku ini mulai dijual, Sabtu, di Amazon.com dan memiliki subjudul, "A US Navy SEAL Journey to Coming Out Transgender," dengan foto sampul tampang Beck sebagai seorang prajurit SEAL klasik di lapangan, lengkap dengan jenggot lebat, kacamata hitam dan seragam kamuflase.

Menurut Beck, ia terkejut ketika ternyata mantan rekan-rekannya telah mengirimkan pesan dukungan dan dorongan.

"Saudaraku, saya bersama kamu ... menjadi anggota SEAL sulit, (namun) ini tampaknya lebih sulit. Salam," tulis salah satu prajurit kepadanya.

Anggota Navy SEAL lainnya, termasuk beberapa orang yang terlibat dalam serangan Bin Laden, telah menulis memoar dengan nama samaran yang menggambarkan pertempuran dramatis bersama dengan anekdot persahabatan dan rasa frustrasi terhadap birokrasi di Washington.

Tapi Beck tidak menggunakan nama samaran dalam menulis tentang karir militernya selama 20 tahun, termasuk 13 penempatannya di seluruh dunia, yang mana ia berjuang dengan identitas gendernya dan secara bertahap mengakui bahwa dia adalah seorang wanita.

"Saya sekarang melepaskan semua penyamaran saya dan membiarkan dunia tahu identitas sejati saya sebagai seorang wanita, "tulis Beck di laman media sosial LinkedIn, setelah mengubah nama pada halaman profilnya menjadi Kristen dari nama aslinya Chris.

Beck menulis memoar bersama dengan Anne Speckhard, dosen psikiatri di Georgetown University Medical School, yang mengatakan mantan prajurit itu berjuang untuk menekan kecemasannya terkait identitasnya selama bertahun-tahun.

"Chris menjelaskan keputus-asaannya di dalam buku ini dan keinginannya untuk mati dengan hormat dan melayani negara kita serta memerangi terorisme - untuk membuat kita tetap aman dan sehingga ia tidak akan harus bergulat lagi dengan rasa sakit emosional yang berasal dari kurangnya kesesuaian antara identitas gender dan tubuhnya," tulis Speckhard dalam buku itu.

"Setelah beberapa penempatan untuk bertempur - lebih banyak dari anggota SEAL lainnya - Chris kembali hidup untuk berjuang dalam pertempuran yang lebih berat di dalam jiwanya dan bergulat dengan keputusan moral dan sosial untuk hidup secara rahasia atau untuk melakukan transisi menjadi dirinya yang sejati," demikian seperti dikutip AFP.

(G003)

Pemenang Nobel Sastra Turki Pamuk kecam pendekatan "represif"

Posted: 05 Jun 2013 08:02 PM PDT

Istanbul (ANTARA News) - Pemenang Hadiah Nobel Sastra Turki novelis Orhan Pamuk, Rabu, mengecam apa yang ia sebut sebagai pendekatan "represif" pemerintahan Recep Tayyip Erdogan seraya mengatakan bahwa hal itu justru merupakan penyebab kerusuhan dengan kekerasan.

Pamuk, 60, seorang tokoh budaya utama yang dikenal melalui novel-novel karyanya antara lain "Snow" dan "My Name is Red ", telah memberikan dukungan kepada para demonstran yang telah melakukan unjuk rasa selama enam hari terhadap Erdogan, lapor AFP.

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan secara dalam jaringan oleh surat kabar Hurriyet, Pamuk mengkritik pemerintah karena tidak melakukan konsultasi dengan publik atas rencananya untuk membangun kembali sebuah taman Istanbul yang menjadi akar protes.

"Kebijakan tidak peka ini tidak diragukan lagi merupakan bagian dari sikap pemerintah yang semakin otoriter dan represif," tulisnya.

Sebuah kampanye melawan proyek itu meledak menjadi protes umum di Turki setelah polisi menyemprotkan gas air mata ke arah pengunjuk rasa damai pekan lalu di taman tidak jauh dari pusat Istambul, Taksim Square.

Pamuk telah berulang kali bentrok dengan pemerintah di Turki.

Hadiah Nobel yang diterimanya pada tahun 2006 itu juga menyebabkan keributan karena diberikan setahun setelah ia memecahkan tabu di Turki dengan mengatakan dalam sebuah wawancara majalah bahwa "satu juta orang Armenia dan 30 ribu orang Kurdi tewas" di sana selama Perang Dunia Pertama.

Pada Rabu ia memuji para pengunjuk rasa yang membela taman itu, tonggak sejarah populer serta salah satu tempat hijau terakhir di kota tersebut.

"Melihat bahwa mereka tidak akan mudah menyerahkan kenangan mereka telah memberi saya harapan untuk masa depan," tulisnya. (G003/AK)

Tiada ulasan:

Catat Ulasan