Sabtu, 11 Mei 2013

Republika Online

Republika Online


Binatang Peliharaan Bisa Cegah Sakit Jantung

Posted: 11 May 2013 06:30 AM PDT

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Siapa pun ingin hidup lebih lama dan memangkas bahaya menderita penyakit jantung sebaiknya mempunyai hewan peliharaan.

Perhimpunan Jantung Amerika Serikat (AHA) mengeluarkan pernyataan ilmiah Kamis (9/5) waktu sempat bahwa memiliki hewan peliharaan dapat membantu mengurangi risiko terkena penyakit jantung, terkait dengan tingkat kegemukan, tekanan darah dan kolesterol.

"Pemilik hewan peliharaan, khususnya pemilik anjing, sepertinya berhubungan dengan berkurangnya risiko terkena sakit jantung," kata Glenn N. Levine, guru besar pada Fakultas Kedokteran Baylor College di Houston.

Setelah penelitian terhadap 5.200 orang dewasa, yang dikutip AHA, didapat kesimpulan pemilik anjing secara fisik menjadi lebih aktif dari pada mereka yang tidak memilikinya, karena harus mengajak jalan-jalan peliharaannya.

Hasil penelitian lain menunjukkan ada dampak ketenangan dari hewan, yang biasa digunakan untuk program terapi dengan bantuan hewan. Levine menambahkan keuntungannya sangat jelas, yaitu berkurangnya faktor risiko penyakit jantung.

Tapi penelitian itu tidak secara pasti membuktikan bahwa memiliki hewan peliharaan akan langsung mengurani risiko penyakit jantung.

"Yang kurang jelas adalah apakah dengan memelihara hewan juga dapat mengurangi risiko gangguan kardiovaskuler bagi penyakit yang belum muncul," ujarnya.

Sebanyak 78,2 juta orang di AS memiliki anjing dan 86,4 juta memelihara kucing, demikian data Perhimpunan Produksi Hewan Peliharaan AS seperti ditulis Reuters.

Penelitian itu menunjukkan bahwa kesetiaan dan cinta kepada hewan-hewan itu bisa mengurangi stress, kegelisahan, depresi dan kesepian pada pemilik, serta meningkatkan kepekaan mereka terhadap kesejahteraan dan penghargaan terhadap diri sendiri.

Bendera

Posted: 11 May 2013 05:32 AM PDT

Catatan Jalan-Jalan Arif Satria

Sabtu, 11 Mei 2013, 19:32 WIB

japan.co

REPUBLIKA.CO.ID,Pesawat GA 884 mulus mendarat di Narita, Tokyo. Alunan orkestrasi lagu rasa sayange aransemen Addie MS pun mulai diputar. Saat pesawat berhenti sempurna, ternyata di sebelah pesawat Garuda juga ada Garuda. Ada dua pesawat Garuda Indonesia yang mendarat di Narita, satu dari Jakarta dan satunya dari Denpasar. Rasa bangga pun muncul; di tengah hiruk-pikuk Narita ternyata ada dua Garuda. Ini suasana yang tidak ditemukan di JFK New York, dan beberapa airport di Eropa. Disana kita hanya seolah bermimpi kapan maskapai penerbangan nasional kita terbang dan mendarat. Orang Malaysia, Thailand, bahkan Vietnam boleh bangga ketika maskapainya ada dimana-mana.

Kini bendera tidak lagi semata kain warna merah putih yang berkibar. Kini bendera telah berbentuk aneka rupa. Pesawat tidak lagi sekedar sarana transportasi. Musik, tarian, dan film tidak lagi sekedar untuk dinikmati. Makanan tidak sekedar untuk dimakan. Ternyata semua itu bisa menjelma menjadi "bendera".  Garuda adalah "bendera". Karya seni juga "bendera". Kuliner pun bisa menjadi "bendera".

Bendera adalah identitas. Kini dunia telah menjadi arena unjuk identitas. Kebanggaan kita karena Garuda mendarat dimana-mana sama dengan bangganya orang Korea melihat Gangnam Style  sangat eksis di Indonesia. Penetrasi Korea ke dalam budaya pop dunia telah menggeser peran Barat. Jepang sendiri telah menjadi pasar empuk bagi industri musik dan film Korea. Hingga suatu saat Perdana Menteri Jepang dan Presiden Korea Selatan bertemu di Tokyo dan salah satu topik yang dibicarakan adalah Film Winter Sonata, film Korea yang sangat populer di Jepang, dan diputar setiap musim dingin. Sampai-sampai lokasi syuting film tersebut kini dijadikan obyek wisata. Bagaimana dengan kita? Adakah seni budaya kita yang mampu menjadi "bendera"?

Tentu merah putih harus terus berkibar. Namun, aneka "bendera" wujud lain pun harus terus berkibar. Tidak lagi dengan tali dan tiang bendera, tetapi dengan tali kreativitas dan inovasi, serta tiang nasionalisme. Makin kreatif dan inovatif akan membuka kita pada pintu sejarah baru. Kita lah yang harus membuka pintu itu dan lalu menjaga "bendera" kita terus berkibar.Berkibar di dunia, bukan hanya di tanah air, kalau kita tidak ingin disebut sebagai jago kandang.

Tokyo, 8 Mei 2013

Oleh: Arif Satria (Dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB

Follow: @arif_satria

Redaktur : M Irwan Ariefyanto

Hati orang yang sudah tua dapat menjadi lupa akan usianya bila ia terlalu mencintai hidup dan harta bendanya(HR Muslim)

  Isi Komentar Anda

Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan