Ahad, 7 April 2013

ANTARA - Hiburan

ANTARA - Hiburan


Rahayu Supanggah perkaya diri dengan musik tradisi

Posted: 07 Apr 2013 02:13 AM PDT

Jakarta (ANTARA News) - Musikolog dan komposer Rahayu Supanggah tak pernah berhenti menggali kekayaan musik tradisi Tanah Air untuk menambah khazanah pengetahuan musiknya.

Penata musik yang komposisi musiknya sudah banyak mendapatkan penghargaan internasional itu sampai sekarang masih suka menjelajahi berbagai daerah untuk mempelajari bebunyian dan lantunan tradisional yang kemudian menjadi inspirasi bagi karya-karyanya.

Bunyi tetabuhan dan tembang yang dia pelajari dari berbagai daerah juga menjadi inspirasinya dalam membuat komposisi musik untuk trilogi Opera Jawa garapan sutradara Garin Nugroho.

"Untuk Opera Jawa, dari Kerinci ada, Sunda, keroncong, rap juga, yang lalu di-Jawa-kan," katanya usai pementasan bagian akhir trilogi Opera Jawa, "Selendang Merah", di Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI), Solo, Sabtu malam (6/1).

Alumnus Akademi Seni Karawitan Indonesia yang menamatkan pendidikan doktor bidang etnomusikologi di University of Paris tahun 1985 itu mengatakan, perjalanannya menyerap musik-musik daerah telah memperkaya musiknya.

"Melihat banyak, bukan hanya bunyinya tapi makna bunyi itu juga. Jadi kaya kan?" kata seniman kelahiran tahun 1949 yang banyak meneliti musik tradisional Asia Tenggara itu.

"Musik Jawa misalnya, kenapa bunyinya ngleler dan mubeng-mubeng terus, ya karena memang seperti itu karakter orang Jawa. Musik itu menyiratkan kepribadian pemiliknya," tambah dia.

Ia menjelaskan pula bahwa Indonesia menyimpan kekayaan musik tradisi yang seolah tak ada habisnya dan sampai sekarang baru sedikit yang tergali.  

"Baru sekian...," kata Supanggah sambil mendekatkan ibu jari dan telunjuknya sampai sekira satu sentimeter saja.

"Masih banyak, selalu ada. Digabung dengan ini, dan atau ini, macam-macam," kata Supanggah, yang kalau tidak sedang bepergian ke manca negara untuk menampilkan komposisi musiknya tinggal di Palur, sebuah desa di sebelah timur Kota Solo.

Garin Nugroho memilih bertahan di jalur serius

Posted: 06 Apr 2013 06:21 PM PDT

Solo (ANTARA News) - Garin Nugroho memilih setia di jalur tontonan serius dan ingin menjadi bagian dari upaya untuk menyuguhkan pertunjukan-pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tapi juga mengajak penikmatnya berpikir dan merenung.

Sutradara produktif yang mendapat banyak penghargaan internasional untuk karya-karya seperti film "Bulan tertusuk Ilalang", "Daun di Atas Bantal" dan "Puisi Tak Terkuburkan" itu, tidak melakukan semuanya demi pasar karena menganggap tontonan bukan hanya hiburan, tapi juga cerminan dari perilaku hidup suatu bangsa.

"Kalau tidak ada konsep yang bagus, kelas menengah kita akan menjadi kelas menengah yang konsumtif dan dangkal. Kalau tontonannya yang sekedar lucu dan olok-olok seks terus, lama-lama kelas menengah kita kalah dengan kelas menengah negara lain seperti Singapura atau Thailand," katanya.

"Kalau kita tontonan kalah, tontonan itu kan mengandung selera kehidupan," kata Garin, yang juga aktif mengamati perkembangan sosial budaya negeri ini, sebelum pementasan "Opera Jawa : Selendang Merah" di Solo, Sabtu malam.  

Dasar pemikiran seperti itulah yang antara lain mendorong Garin menghasilkan karya-karya kontemporer berbasis tradisi yang serius seperti film "Opera Jawa" dan trilogi pertunjukan Opera Jawa, "Ranjang Besi", "Tusuk Konde" dan "Selendang Merah."

Ia sadar, karya-karya seriusnya yang kompetitif di luar negeri belum bisa menarik banyak penonton di dalam negeri namun ia merasa harus tetap berada pada jalurnya untuk ikut membangun budaya yang berakar pada tradisi warisan, termasuk dramaturgi lokal.

"Penari-penari yang cantik dan tinggi di Indonesia memang laku... teater kayak gitu harus didukung karena ikut membangun kelas menengah. Tapi yang seperti ini, yang penyanyinya tidak cuantik, ngguantheng (ganteng), dan tingginya sama, tapi ada esensi pertunjukannya, juga harus dihargai," katanya.

"Dengan segala yang serba kemasan, serba tren, serba konsumsi... itu semua, seni pertunjukan kita bisa hancur," tambah Garin, yang malam itu mengenakan kemeja batik dan jarik--kain panjang batik-- yang membuat dia agak susah berjalan.

Ia mengatakan, produk seni yang "laku" dengan kemasan luar bagus berdasarkan tren saja harus diimbangi dengan pertunjukan karya seni warisan tradisi dan karya-karya alternatif berbasis tradisi.  

Garin yakin karya-karya seni serius berbasis tradisi Indonesia selalu punya tempat tersendiri di panggung dunia dan bahkan menjadi salah satu unsur yang menghidupkan panggung teater dunia.

Menurut dia, selama ini banyak film dan pertunjukan drama Barat, termasuk "The Lion King" arahan sutradara Julie Taymor yang dipentaskan Broadway, yang bersumber pada tradisi lokal Indonesia.

Sutradara pertunjukan drama musikal "The Lion King" yang pernah tinggal beberapa tahun dan mempelajari wayang di Indonesia, menurut dia, membangun karakter penokohannya mengacu pada gerak karakter wayang. 

"Jadi anak-anak kita juga harus dididik dong nonton yang serius supaya mereka konsentrasinya panjang dan sebagainya. Kalau tidak kita lama-lama kalah karena ingin survival saja, ini akan seperti sumber daya alam kita, yang hanya karena ingin cepat laku jadi diambil orang luar, diolah di sana, lalu kita beli lagi," tuturnya.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan