Khamis, 7 Mac 2013

ANTARA - Hiburan

ANTARA - Hiburan


Dian Piesesha gelar konser rindu

Posted: 07 Mar 2013 06:20 AM PST

Jakarta (ANTARA News) - Pelantun "Tak Ingin Sendiri", Dian Piesesha, akan menggelar konser tunggal untuk mengobati kerinduan penggemarnya.

"Saya sudah pasti sangat merindukan penggemar. Makanya konser ini bernama 'Kerinduan Dian Piesesha'," kata Dian dalam jumpa media di Jakarta sore tadi.

Telah lama tidak mengadakan pertunjukan membuat Dian sempat ragu mengadakan konser yang akan digelar di Hotel Kartika Chandra 15 Maret ini.

"Awalnya ragu karena nggak begitu aktif di dunia entertainment," katanya.

Pasalnya, anak-anaknya kurang setuju sang ibu kerap tampil di atas panggung, namun akhirnya izin keluarga didapat dan Dian pun mantap mengadakan konser kerinduan ini.

Pada konser ini, Dian akan membawakan sekitar 17 lagu, termasuk lagu Sunda dan Mandarin.

Dian akan membawakan lagu-lagu dari album keluaran 2006 yang bertajuk sama dengan konser dan album Sahara tahun 2012.

"Klimaksnya pasti 'Tak Ingin Sendiri," tuturnya.

Lagu-lagunya nanti akan dibawakan dengan aransemen musik asli dan mengajak penyanyi angkatannya, Dewi Yull dan Eddy Silitonga, untuk tampil bersama dengannya. (*)

Komikus Belanda buat kisah Indonesia

Posted: 07 Mar 2013 05:33 AM PST

Jakarta (ANTARA News) - Komikus Belanda Peter van Dongen menghabiskan waktu tiga tahun untuk melakukan riset demi membuat "Rampokan Jawa" (1998) dan "Rampokan Celebes" (2004).

Pria kelahiran Amsterdam tahun 1966 itu awalnya hanya mengenal Indonesia dari cerita-cerita sang ibu saat dia kecil. Ibu Van Dongen adalah keturunan China-Indonesia yang sempat tinggal di Manado lalu pindah ke Belanda.

"Ibu saya pernah cerita tentang pengeboman di Manado di masa kolonial," kata dia di Erasmus Huis Jakarta, Kamis.

Berawal dari sana, Van Dongen berniat membuat karya tentang Indonesia dan setelah merilis debut Muizentheater (Teater Tikus) pada 1990, niat itu mulai dilaksanakan dengan mencari beragam referensi tentang Indonesia.

Tiga tahun dia mencari sejarah Indonesia hingga menjelajahi perpustakaan. "Di pelajaran sejarah di sekolah, tidak banyak yang mengisahkan tentang pendudukan Belanda di Indonesia," kata cucu tentara KNIL itu.

Komik karya pria Belanda kelahiran 1966 itu mengambil latar belakang Indonesia pascamerdeka dari penjajahan kolonial pada 1945-1946.

Berbagai gambar bangunan dan suasana Indonesia jaman dulu berisi tokoh-tokoh fiksi dari Belanda maupun Indonesia.

Van Dongen mengandalkan foto-foto tua dan berbagai literatur untuk menciptakan suasana senyata mungkin. 

"Karena dibuat dengan referensi kisah nyata, maka harus seakurat mungkin," kata komikus yang dipengaruhi gaya Herge, pencipta Tintin.

Van Dongen mengaku pernah membaca buku tua Rampokan Macan, tradisi kuno di Jawa saat orang-orang berkumpul ramai menghabisi macan pada hari Lebaran. 

"Macan dianggap sebagai nasib buruk, jadi kalau berhasil membunuh macan sama dengan meraih keberuntungan. Nasib orang Belanda di Indonesia seperti macan itu," ungkap Van Dongen menjelaskan "Rampokan".

Lewat "Rampokan Jawa" dan "Rampokan Celebes", Van Dongen ingin memberi perspektif baru, terutama kepada pembaca muda Belanda.

"Ini dibuat untuk memberikan cerita bagi mereka yang tidak tahu bahwa di luar sana pendudukan Belanda itu pernah terjadi," kata dia.

Pada 2005, 3.000 eksempelar "Rampokan Jawa" dalam Bahasa Indonesia laku terjual. "Semoga akan ada yang menerbitkan lagi," katanya.

(nan)

Tiada ulasan:

Catat Ulasan