Ahad, 18 November 2012

KOMPAS.com - Internasional

KOMPAS.com - Internasional


Rohingya dan Timteng Akan Jadi "Hot Topic" di Kamboja

Posted: 19 Nov 2012 03:52 AM PST

PHNOM PENH, KOMPAS.com - Rangkaian pertemuan tingkat tinggi di Phnom Penh, Kamboja, pada KTT ASEAN hari kedua, Senin (19/11/2012) ini, akan makin semarak dengan kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama.

Ia dijadwalkan langsung bertemu 10 pemimpin ASEAN, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, petang ini.

Topik pembicaraan bisa melebar ke soal-soal hak asasi manusia, antara lain berkaitan dengan nasib warga Rohingya di Myanmar, dan upaya penghentian konflik Palestina-Israel.

Hari Minggu kemarin, para pemimpin ASEAN menandatangani Deklarasi HAM ASEAN, yang dijelaskan Sekjen ASEAN Surin Pitsuwan memiliki standar tinggi karena juga mengadopsi instrumen HAM universal.

Staf Khusus Presiden SBY Bidang Hubungan Internasional Teuku Faizasyah bahkan menyatakan Deklarasi HAM ASEAN ini telah mengakomodasi sejumlah kritik yang sempat dilontarkan dalam pembahasan-pembahasan sebelumnya.

Beberapa hal yang diatur dalam deklarasi itu, yang justru belum ada dalam kerangka HAM internasional, adalah mendorong kerja sama untuk menghindari pencemaran atau penistaan terhadap agama, memberikan hak kebebasan beragama, dan mencegah praktik perdagangan manusia.

Presiden Obama tidak tertutup kemungkinan mengangkat isu HAM ini. Termasuk ke dalam isu HAM adalah nasib etnik Rohingya di Myanmar. Ia akan menjadi salah satu hot topic mengingat tekanan makin gencar agar pemerintah Myanmar mengambil tindakan penting untuk menghentikan apa yang sekarang disebut-sebut sebagai sebuah upaya genosida itu.

Presiden SBY juga akan mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden Myanmar Thein Sein pukul 17.40 dan kemungkinan besar akan mengangkat masalah ini.

Hal lain yang mencuat meski tidak terkait langsung adalah konflik Israel-Palestina. Sehari sebelumnya, Menlu RI Marty Natalegawa sudah mengungkapkan sikap bersama ASEAN yang meminta pihak Israel dan Palestina menghentikan saling serang.

Dalam pertemuan Obama plus ASEAN petang ini, para pemimpin ASEAN diperkirakan akan meminta Obama turut menekan Israel untuk menghentikan serangan-serangan ke Gaza, yang telah menimbulkan banyak korban tewas.

Khusus mengenai upaya mengatasi konflik di Laut China Selatan, para pemimpin ASEAN juga akan bertemu dengan PM China Wen Jiabao petang ini. ASEAN akan mengajukan proposal Tata Berperilaku di Laut China Selatan, yang intinya adalah segala persoalan diselesaikan melalui dialog, bukan dengan cara militer.

Sebelum tercapainya kesepakatan Tata Berperilaku atau Code of Conduct itu, ASEAN bahkan akan mengajukan pembukaan hotline antarmenlu, untuk menjamin berlangsungnya dialog itu.

Filipina ,Vietnam, Brunei, Malaysia merupakan negara garis depan ASEAN yang terlibat dalam konflik tumpang tindih klaim itu,. Klaim ini sering menciptakan peluang terjadinya ketegangan militer antarpihak, yang akan mengganggu stabilitas keamanan. Selain itu, juga tidak menguntungkan dalam upaya peningkatan kerja sama pembangunan, perdagangan dan investasi antara ASEAN dan China, khususnya.

Dalam pertemuan bilateral antara Presiden SBY dengan Wen Jiabao, Minggu, di Phnom Penh, kata Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional Teuku Faizasyah, Wen menegaskan komitmen bersama untuk turut mensukseskan KTT ASEAN.

"Sulit dijelaskan," kata Teuku apakah itu merupakan sinyalemen positif bahwa China akan turut serta dalam pelaksanaan Code of Conduct di LCS itu.

Indonesia, tentu saja, mengharapkan kepemimpinan baru China di bawah Xi Jinping bisa memacu aspek-aspek positif yang telah terbangun selama ini, termasuk mengembangkan kawasan damai di Laut China Selatan.

 

Xi Jinping: Pejabat Tidak Kebal Hukum

Posted: 19 Nov 2012 03:30 AM PST

BEIJING, KOMPAS.com — Pemimpin baru China Xi Jinping memperingatkan, jika korupsi dibiarkan merajalela di negeri itu, Partai Komunis akan kehilangan legitimasi dan kekuasaannya akan ambruk. Demikian pernyataan Xi Jinping dikutip media pemerintah, Senin (19/11/2012).

Dalam bahasa yang lugas—jarang sekali dilakukan seorang pejabat tinggi China—Xi mengatakan korupsi dan suap layaknya belatung yang hidup dalam benda busuk. Kalimat yang dia ucapkan itu adalah sebuah peribahasa China kuno yang berarti kehacuran menanti mereka yang lemah.

"Beberapa tahun belakangan, sejumlah negara bermasalah dengan kemarahan publik, pemberontakan rakyat, dan keambrukan pemerintahan. Korupsi menjadi faktor penentu masalah-masalah ini," kata Xi dalam sambutannya di harapan Politbiro, badan pengambil keputusan tertinggi kedua dalam Partai Komunis China.

"Banyak fakta menunjukkan hasil akhir korupsi adalah berakhirnya partai dan negara! Kita harus melawan!" tambah Xi.

"Belakangan, partai menghadapi masalah disiplin dan hukum serius terkait korupsi yang memberikan efek buruk bagi partai dan sangat mengejutkan rakyat," kata Xi tanpa menyebut insiden korupsi yang disinggungnya.

Namun, semua kalangan memahami, pergantian gerbong kepemimpinan China ini dibayangi kasus Bo Xilai, yang pernah menjadi calon kuat pemimpin China di masa depan. Bo dipecat dari keanggotaan partai dan kemungkinan besar akan menghadapi tuduhan korupsi dan penyalahgunaan wewenang, sementara istrinya dipenjara karena membunuh seorang pebisnis Inggris.

Mengambil contoh kasus Bo Xilai, Xi meminta para pejabat senior partai tidak menyalahgunakan posisi mereka demi kepentingan pribadi. Sebab, Xi menegaskan, para petinggi partai tidak berada di atas hukum.

"Para pejabat harus memperkuat manajeman dan kendali atas hubungan mereka dengan orang-orang yang bekerja dengan mereka," ujar Xi.

Salah satu contoh kasus dugaan korupsi adalah tudingan The New York Times yang menulis PM Wen Jiabao dan keluarganya menimbun kekayaan hingga 2,7 juta dollar AS. Sebuah laporan yang dianggap Pemerintah China terlalu berlebihan.

 

Tiada ulasan:

Catat Ulasan