Isnin, 3 September 2012

ANTARA - Hiburan

ANTARA - Hiburan


Pangeran Andrew turuni 67 lantai dengan tali

Posted: 03 Sep 2012 06:19 AM PDT

Pangeran Andrew. (FOTO.ANTARA)

Saya haru bilang, bagian tersulit adlaah menaiki tangga

Berita Terkait

Jakarta (ANTARA News) - The Duke of York menunjukkan nyalinya terhadap ketinggian dengan menuruni gedung tertinggi di Eropa dengan tali.

Andrew menuruni gedung pencakar langit Shard di London muali dari lantai 87 hingga lantai 20. Ia memerlukan waktu satu setengah jam unutk menuruni 67 lantai.

Pangeran berusia 52 tahun itu merupakan salah satu dari 40 orang yang berpartipasi dalam penggalangan dana untuk pendidikan yang diadakan Outward Bound Trust dan Royal Marine Charitable Trust Fund.

"Saya tidak akan mengatakan ini mudah atau tidak. Saya tidak akan melakukannya lagi," kata anak ketiga dari Ratu Elizabeth dan Pangeran Philip setelah berhasil menuruni jarak 785 kaki (239 meter).

"Saya haru bilang, bagian tersulit adlaah menaiki tangga."

Para donatur memberikan lebih dari 290.000 poundsterling untuk mendukung sang pangeran yang juga Ketua Pengawas Outward Bound Trust.

Sebagai mantan pilot helikopter di Angkatan Laut Kerjaan yang bertugas ketika Perang Falklands pecah, ia berkata angkatan laut sangat dekat dengan dirinya.

"Kau punya waktu untuk menyadari apa yang kau lakukan dan apa yang akan kau kerjakan," katanya menjelaskan persiapannya menghadapi tantangan itu.

"Bagian tersulit sebenarnya melangkah keluar di tepian. Latihan dengan Angkatan Laut Kerajaan di Arbroath selama musim panas memberi saya kepercayaan untuk melakukannya tanpa banyak rasa takut," katanya, seperti yang ditulis The Sun.

(nta)

Editor: Suryanto

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca

Kirim Komentar

Perempuan sutradara Arab Saudi langgar tabu di Venesia

Posted: 03 Sep 2012 04:29 AM PDT

Venesia (ANTARA News) - Perempuan pertama dari Arab Saudi membuat debut di festival film Venesia dengan mengeksplorasi pembatasan gerak gerik perempuan di kerajaan Islam konservatif melalui kisah anak perempuan berusia 10 tahun di Riyadh.

Film yang disebut sang sutradara sebagai film pertama yang seluruh pengambilan gambarnya dilakukan di Arab Saudi itu mengikuti kehidupan sehari-hari Wadjda dan usahanya untuk menghadapi berbagai pembatasan, di sekolah maupun di rumah.

Wadjda yang sering dimarahi karena tidak mengenakan kerudung, mendengarkan musik pop dan tidak bersembunyi bila bertemu dengan pria berusaha mencari jalan dengan menggunakan berbagai muslihat.

Dia antara lain berusaha menyusun rencana untuk menabung supaya bisa membeli sepeda dan balapan dengan teman lelakinya meski sang ibu melarang karena anak perempuan terhormat Arab Saudi tidak bersepeda.

Akhirnya dia berusaha menghafal Al Quran agar bisa ikut lomba mengaji di sekolah, berharap menang dan mendapat hadiah uang untuk membeli sepeda. Selama proses itu dia berpura-pura menjadi murid taat seperti yang selalu diinginkan gurunya.

Sutradara Haifaa Al Mansour mengatakan film "Wadjda" ingin menggambarkan pemisahan perempuan di Arab Saudi, yang menempatkan perempuan lebih rendah dari lelaki, melarang perempuan mengemudi, dan mengharuskan perempuan mendapat izin dari wali untuk bekerja, jalan-jalan, atau membuat rekening tabungan di bank.

"Mudah mengatakan bahwa itu adalah tempat yang sulit dan konservatif untuk perempuan dan tidak berbuat apa-apa. Tetapi kami harus berusaha dan berharap bisa menciptakan masyarakat yang lebih santai dan penuh toleransi," kata dia usah pemutaran perdana filmnya di Venice.

Seperti dikutip Reuters, dia menyebut tanda-tanda perubahan dalam masyarakat Saudi dan mengatakan bahwa generasi muda perlahan-lahan berusaha mendorong pembatas tentang apa yang boleh dilakukan.

"Sekarang mulai terbuka, ada kesempatan besar untuk perempuan," kata Al Mansour merujuk pada keterlibatan atlet perempuan Arab Saudi di Olimpiade London.

"Tidak seperti sebelumnnya, walau saya tidak bisa bilang rasanya seperti surga. Masyarakat tidak akan menerimanya dengan mudah, orang-orang akan tetap menekan perempuan untuk tetap tinggal di rumah, tapi kami harus berjuang," kata dia.

Al Mansour mengemukakan masih kesulitan melakukan pengambilan gambar di Riyadh walaupun sudah mendapat izin dari otoritas setempat.

Dia harus bersembunyi di dalam mobil van di daerah-daerah yang lebih konservatif, di mana warga tidak setuju ada perempuan pembuat film berada dalam satu lokasi dengan lelaki. Ada kalanya dia harus mengarahkan aktor lelaki menggunakan walkie-talkie.

Film yang tidak termasuk dalam kompetisi utama di Venesia itu memang tidak bisa ditonton semua orang di Arab Saudi, mengingat di sana bioskop ilegal.

Namun para produser berharap bisa mendistribusikan film mereka melalui video digital dan saluran televisi.

(nan)

Editor: Maryati

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca

Kirim Komentar

Tiada ulasan:

Catat Ulasan