Khamis, 16 Februari 2012

ANTARA - Mancanegara

ANTARA - Mancanegara


Serangan pesawat AS tewaskan 13 orang di Pakistan

Posted: 16 Feb 2012 11:22 AM PST

Ilustrasi Pesawat Tanpa Awak AS. (airforce.com)

Berita Terkait

Miranshah, Pakistan (ANTARA News) - Dua serangan pesawat tak berawak AS di Pakistan menewaskan sedikitnya 13 gerilyawan di kawasan suku Waziristan Utara dekat perbatasan dengan Afghanistan, kata sejumlah pejabat.

Pesawat tak berawak itu menembakkan beberapa rudal dalam selang waktu beberapa jam ke sejumlah sasaran yang dianggap sebagai pangkalan utama Taliban dan Al-Qaida di Pakistan, lapor AFP.

Lima militan tewas dalam serangan pertama yang menghancurkan sebuah bangunan di kota Spalga dekat Miranshah, dan sedikitnya delapan orang lagi tewas dalam serangan kedua terhadap sebuah kendaraan di dekat kota Mir Ali, sekitar 25 kilometer di sebelah timur.

"Jumlah kematian mungkin meningkat," kata seorang pejabat keamanan Pakistan kepada AFP, setelah serangan kedua terhadap kendaran pickup dengan dua ruangan yang membawa para militan itu.

"Sedikitnya delapan militan tewas dalam serangan kedua," kata pejabat itu, yang menyebut mereka sebagai "orang asing".

Seorang pejabat keamanan lain di Miranshah, ibu kota Waziristan Utara, menyebut jumlah kematian 12 dan mereka semua gerilyawan Uzbek.

"Kendaraan itu terbakar dan mayat mereka terpotong-potong parah," katanya.

Seorang pejabat Pakistan mengatakan, mereka yang tewas dalam serangan pertama adalah loyalis Badar Mansoor dan jaringan Haqqani, yang setia pada Taliban Afghanistan yang para pemimpinnya diketahui bermarkas di Waziristan Utara.

Kamis lalu, sejumlah pejabat mengatakan bahwa Mansoor, yang disebut-sebut sebagai "pemimpin de facto Al-Qaida di Pakistan", tewas dalam serangan pesawat tak berawak di Waziristan Utara.

Pesawat-pesawat tak berawak AS melancarkan puluhan serangan di kawasan suku Pakistan sejak pasukan komando AS membunuh pemimpin Al-Qaida Osama bin Laden dalam operasi rahasia di kota Abbottabad, Pakistan, pada 2 Mei 2011.

Penyerbuan AS terhadap tempat Osama itu telah membuat malu dan marah militer Pakistan dan menambah ketegangan antara kedua negara tersebut.

Islamabad mendesak AS mengakhiri serangan-serangan pesawat tak berawak, sementara Washington menuntut Pakistan mengambil tindakan menentukan untuk menumpas jaringan teror.

Sentimen anti-AS tinggi di Pakistan, dan perang terhadap militansi yang dilakukan AS tidak populer di Pakistan karena persepsi bahwa banyak warga sipil tewas akibat serangan pesawat tak berawak yang ditujukan pada militan di sepanjang perbatasan dengan Afghanistan dan penduduk merasa bahwa itu merupakan pelanggaran atas kedaulatan Pakistan.

AS pada 2010 menggandakan serangan rudal di kawasan suku Pakistan, dan lebih dari 670 orang tewas dalam sekitar 100 serangan sepanjang tahun itu. Pada 2009, 45 serangan semacam itu menewaskan 420 orang, menurut hitungan AFP.

Para pejabat AS mengobarkan perang dengan pesawat tak berawak terhadap para komandan Taliban dan Al-Qaida di kawasan suku baratlaut, dimana militan bersembunyi di daerah pegunungan yang berada di luar kendali langsung pemerintah Pakistan.

Pasukan Amerika menyatakan, daerah perbatasan itu digunakan kelompok militan sebagai tempat untuk melakukan pelatihan, penyusunan kembali kekuatan dan peluncuran serangan terhadap pasukan koalisi di Afghanistan.

AS menyebut kawasan suku Pakistan sebagai markas global Al-Qaida dan salah satu tempat paling berbahaya di Bumi.

Pejabat-pejabat AS mengatakan, pesawat tak berawak merupakan senjata sangat efektif untuk menyerang kelompok militan. Namun, korban sipil yang berjatuhan dalam serangan-serangan itu telah membuat marah penduduk Pakistan.

Pakistan mendapat tekanan internasional yang meningkat agar menumpas kelompok militan di wilayah baratlaut dan zona suku di tengah meningkatnya serangan-serangan lintas-batas gerilyawan terhadap pasukan internasional di Afghanistan.

Kawasan suku Pakistan, terutama Bajaur, dilanda kekerasan sejak ratusan Taliban dan gerilyawan Al-Qaida melarikan diri ke wilayah itu setelah invasi pimpinan AS pada akhir 2001 menggulingkan pemerintah Taliban di Afghanistan.

Pasukan Pakistan meluncurkan ofensif udara dan darat ke kawasan suku Waziristan Selatan pada 17 Oktober 2009, dengan mengerahkan 30.000 prajurit yang dibantu jet tempur dan helikopter meriam.

Meski terjadi perlawanan di Waziristan Selatan, banyak pejabat dan analis yakin bahwa sebagian besar gerilyawan Taliban telah melarikan diri ke daerah-daerah berdekatan Orakzai dan Waziristan Utara.

Waziristan Utara adalah benteng Taliban, militan yang terkait dengan Al-Qaida dan jaringan Haqqani, yang terkenal karena menyerang pasukan Amerika dan NATO di Afghanistan, dan AS menjadikan daerah itu sebagai sasaran serangan rudal pesawat tak berawak. (M014)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Ratusan orang selamatkan diri dari pertempuran di Mogadishu

Posted: 16 Feb 2012 11:16 AM PST

Mogadishu (ANTARA News/AFP) - Ratusan orang Somalia meninggalkan rumah mereka Kamis karena khawatir akan pertempuran setelah pasukan Uni Afrika (AU) menyerang posisi milisi Al-Shabaab di daerah pinggiran Mogadishu, ibu kota Somalia.

Sejumlah kendaraan yang bermuatan penuh bergerak menuju kota itu dari daerah-daerah Elashabiyaha dan KM13 di luar Mogadishu, ketika pasukan AU memasuki posisi yang mereka rebut dari gerilyawan yang terkait dengan Al-Qaida itu pekan ini setelah pertempuran hebat.

Daerah itu terletak di jalan menuju kota Afgoye yang dikuasai militan, sekitar 30 kilometer sebelah baratlaut Mogadishu yang juga akan diserang oleh pasukan AU.

"Ratusan pengungsi kembali lagi ke Mogadishu karena khawatir akan pertempuran di koridor Afgoye," kata Moalim Abudule, seorang pejabat daerah, kepada wartawan.

"Kami menerima banyak pengungsi di sini di distrik Dharkinley, namun sayangnya kami tidak memiliki tempat perlindungan yang layak untuk membantu mereka," katanya.

Banyak penduduk Mogadishu lari ke daerah Afgoye, yang kata PBB merupakan tempat pengungsian terbesar dunia, setelah pertempuran sengit antara pasukan AU dan gerilyawan Al-Shabaab dalam beberapa tahun terakhir ini.

Namun, mereka kini meninggalkan Afgoye karena khawatir akan terjadi serangan dalam waktu dekat setelah wakil kepala Misi Uni Afrika di Somalia (AMISOM) mengatakan bahwa pasukan akan segera meluncurkan serangan sebagai bagian dari operasi untuk mengalahkan Al-Shabaab.

Pasukan AMISOM yang berkekuatan 10.000 orang berperang untuk mengamankan Mogadishu, enam bulan setelah Al-Shabaab meninggalkan pangkalan mereka di sana dan melakukan perang gerilya, termasuk serangan-serangan bom bunuh diri dan bom mobil.

Somalia dilanda kelaparan parah tahun lalu akibat kekeringan terburuk yang terjadi negara itu, dan PBB telah mengumumkan Mogadishu dan empat wilayah Somalia selatan sebagai zona kelaparan serta memperingatkan bahwa kelaparan bisa meluas ke seluruh penjuru negara itu.

Kondisi itu diperumit oleh bentrokan-bentrokan yang terus terjadi antara pasukan Somalia serta Uni Afrika sekutunya dan gerilyawan Al-Shabaab.

Bentrokan-bentrokan itu berlangsung ketika badan-badan bantuan internasional berusaha mencari cara untuk menyerahkan bantuan makanan kepada penduduk yang tinggal di kawasan yang dilanda kelaparan, khususnya daerah-daerah Somalia selatan yang dikuasai kelompok Al-Shabaab yang terkait dengan Al-Qaida.

Badan-badan bantuan menarik diri dari Somalia selatan pada awal 2010 setelah ancaman terhadap staf mereka dan aturan semakin keras yang diberlakukan terhadap aktivitas mereka oleh Al-Shabaab, yang dimasukkan ke dalam daftar kelompok teror oleh Washington.

Militan pada Juli 2011 mengatakan, kelompok bantuan asing bisa kembali lagi ke wilayah itu, namun seorang juru bicara Al-Shabaab mengatakan kemudian bahwa larangan operasi terhadap mereka masih tetap diberlakukan.

Al-Shabaab yang bersekutu dengan Al-Qaida mengobarkan perang selama empat tahun ini dalam upaya menumbangkan pemerintah sementara Somalia dukungan PBB yang hanya menguasai sejumlah wilayah di Mogadishu.

Nama Al-Shabaab mencuat setelah serangan mematikan di Kampala pada Juli 2010.

Para pejabat AS mengatakan, kelompok Al-Shabaab bisa menimbulkan ancaman global yang lebih luas.

Al-Shabaab mengklaim bertanggung jawab atas serangan di Kampala, ibukota Uganda, pada 11 Juli yang menewaskan 79 orang.

Pemboman itu merupakan serangan terburuk di Afrika timur sejak pemboman 1998 terhadap kedutaan besar AS di Nairobi dan Dar es Salaam yang diklaim oleh Al-Qaida.

Washington menyebut Al-Shabaab sebagai sebuah organisasi teroris yang memiliki hubungan dekat dengan jaringan Al-Qaida pimpinan Osama bin Laden.

Milisi garis Al-Shabaab dan sekutunya berusaha menggulingkan pemerintah Presiden Sharif Ahmed ketika mereka meluncurkan ofensif mematikan pada Mei dua tahun lalu.

Mereka menghadapi perlawanan sengit dari kelompok milisi pro-pemerintah yang menentang pemberlakuan hukum Islam yang ketat di wilayah Somalia tengah dan selatan yang mereka kuasai.

Al-Shabaab dan kelompok gerilya garis keras lain ingin memberlakukan hukum sharia yang ketat di Somalia dan juga telah melakukan eksekusi-eksekusi, pelemparan batu dan amputasi di wilayah selatan dan tengah.

Somalia dilanda pergolakan kekuasaan dan anarkisme sejak panglima-panglima perang menggulingkan diktator militer Mohamed Siad Barre pada 1991. Selain perompakan, penculikan dan kekerasan mematikan juga melanda negara tersebut. (M014)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Tiada ulasan:

Catat Komen