Selasa, 11 Oktober 2011

ANTARA - Hiburan

ANTARA - Hiburan


Pameran seni musik metal digelar di Semarang

Posted: 11 Oct 2011 07:24 AM PDT

Semarang (ANTARA News) - Pameran, konser, dan pemutaran film dokumenter perjalanan komunitas musik metal di Kota Semarang akan digelar di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, 16 Oktober mendatang.

Menurut Rudy Murdock, pentolan band "Radical Corps", penyelenggara ajang itu, di Semarang, musik metal tak sekadar musik cadas, namun memiliki pesan-pesan yang sarat kritik sosial.

"Pada awalnya, band kami sering dipandang sebelah mata. Kenapa memilih musik metal? Kenapa tidak musik-musik yang populer lain? Sampai ada yang memprediksi kalau band kami tak akan bertahan lama," katanya.

Akan tetapi, kata dia, kekonsistenannya mengusung genre musik metal yang kerap bersuara vokal atas permasalahan sosial yang terjadi membuat "Radical Corps" mampu bertahan selama 19 tahun sampai saat ini.

Untuk merayakan ulang tahun band itu, Radical Corps mengadakan konser musik yang dikemas dengan pameran seni rupa, pameran foto, dan pemutaran film dokumenter yang tentunya bertutur seputar musik metal.

Ia mengatakan, ajang itu bukan sekadar konser musik biasa, karena berkolaborasi seni rupa, menggandeng sejumlah komunitas seni, seperti Komunitas Seni Rupa Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan "Outsiders Ink!".

"Bahkan, kami sampai melakukan `polling` (jajak pendapat) via jejaring sosial untuk menentukan band-band metal pendatang baru yang akan didaulat tampil dalam konser nanti. Akhirnya, kami dapat dua band," katanya.

Dua band itu, kata dia, "Geram" dan "Propaganda" diharapkan mampu menjadi penerus generasi musik metal di Kota Semarang, mengingat personel "Radical Corps" dan band-band metal seangkatannya yang kian berumur.

Melalui ajang bertema "Time Machine" itu, ia mengaku, sekaligus untuk meraba keberadaan komunitas musik-musik metal yang saat ini ada di Kota Semarang, mengingat sudah memasuki era bebas berpendapat dan berekspresi.

Rudy yang juga koordinator pergelaran "Time Machine" itu mengaku, iklim berpendapat dan berekspresi saat ini sangat jauh berbeda dibanding saat awal-awal berdirinya band metal tersebut pada tahun 1992.

"Dari dulu sampai sekarang, kami tetap konsisten menyampaikan kritik-kritik sosial terhadap pemerintah, baik tentang isu pendidikan, kesehatan, hingga lingkungan hidup. Tentu saja, melalui musik," kata Rudy.

Senada dengan itu, Enggar, panitia "Time Machine" lainnya, menjelaskan, para penikmat musik cadas, termasuk rock bisa mengetahui sejarah perjalanan musik rock di Kota Semarang melalui pameran foto.

"Kami ingin menunjukkan bahwa musik metal mengandung pesan-pesan moral dan sosial. Termasuk melalui pemutaran film dokumenter yang kami garap selama enam bulan," kata bassis "Radical Corps" itu.
(U.KR-ZLS/Z002)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full content generated by Get Full RSS.

Prancis tawarkan kerja sama kebudayaan dengan Bali

Posted: 11 Oct 2011 06:10 AM PDT

Denpasar (ANTARA News) - Pemerintah Prancis menawarkan kerja sama yang bisa digarap ke depannya dengan Bali dalam bidang kebudayaan, pariwisata dan kelautan termasuk pelestarian lingkungan di kawasan pesisir.

Penawaran kerja sama itu dilontarkan Konselor Kerja Sama dan Kebudayaan Kedutaan Prancis di Jakarta, Dr Bertrand de Hartingh, saat diterima Kepala Dinas Kebudayaan Bali I Ketut Suastika SH di Denpasar Selasa.

Jika kerja sama itu bisa berjalan dan terealisasi, banyak hal positif bisa dilakukan kedua belah pihak, karena Prancis maupun Bali merupakan gudanyanya kebudayaan dunia dan menjadi daerah kunjungan turis asing.

Bertransd mengatakan, pihaknya siap menyelenggarakan Festival Kebudayaan Prancis di Bali tentu dengan mengetengahkan berbagai hal yang tentunya tidak ada di Pulau Dewata untuk saling mengisi terhadap hal yang positif.

Prancis juga bersedia memberikan pelatihan kepada pekerja untuk menjadi tenaga terampil dalam bidang pariwisata, dan hal itu penting artinya karena Bali menjadi daerah kunjungan wisatawan mancanegara.

Disamping itu pula, Pemerintah Prancis siap mendirikan pusat pelatihan, penelitian dalam bidang kelautan, dan lembaga ini juga memberikan pengetahuan dibidang pelestarian lingkungan yang ada, kata Bertrand.

Ia menyebutkan bahwa, dirinya datang ke Bali sebagai utusan negerinya untuk memberikan penghargaan tertinggi dalam bidang kebudayaan dan sastra kepada Dewa Putra Diasa, seniman kelahiran Payangan Gianyar, Bali.

Pria yang menekuni seni budaya ini dinilai secara terus menerus, sejak menjadi petugas kebudayaan di Prancis hingga sekarang bahkan terakhir melakukan misi kesenian Bali dengan keliling Prancis selama satu bulan Agustus 2011.

Kepala Dinas Kebudayaan Bali, Ketut Suastika menyambut baik ajakan Pemerintah Prancis yang mengajak kerja sama di tiga hal tersebut karena sangat berkaitan erat dengan potensi yang dikembangkan di Pulau Dewata.

Bali memerlukan semua itu dan mudah-mudahan rintisan kerja sama tersebut bisa menjadi kenyataan, kata Suastika yang mengaku siap membuat rancangan apa-apa yang diperlukan Bali dalam merealisasi program tersebut.

(ANT-077/I006)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full content generated by Get Full RSS.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan