Isnin, 21 Mac 2011

Sindikasi news.okezone.com

Sindikasi news.okezone.com


Manajemen KBS Yakin Komodo Dicuri Bukan Dimangsa

Posted: 21 Mar 2011 10:53 PM PDT


SURABAYA - Polrestabes Surabaya, Jawa Timur, terus melakukan penyelidikan atas hilangnya tiga anak komodo di Kebun Binatang Surabaya (KBS). Namun Tim Manajemen (KBS) menduga kuat, tiga anak komodo hilang karena dicuri, bukan dimangsa predator.

"Kemungkinan tiga anakan komodo hilang karena memang diambil manusia. Tapi tetap kami serahkan kepada polisi dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam," ujar Toni, Selasa (22/3/2011).

Jika tiga anak komodo itu hilang dicuri, lanjut Toni, ada dua motif yang melatarbelakanginya. Motif pertama, pencuri menginginkan susana kerja di KBS keruh dengan menciptakan suasana saling mencurigai di antara para karyawan.

Seperti diketahui sudah sejak lama KBS diperebutkan oleh dua kubu yakni Stanly Soebakir dan Basuki Rekso Wibowo. Konflik antarpetinggi KBS ini pun kemudian merembet ke level karyawan paling bawah. Hingga akhirnya karyawan terpecah-pecah dengan membela kubu masing-masing.

"Potensi konflik itu masih ada. Karena pengurus lama tak pernah berhenti untuk menghasut. Tapi  syukurlah sebagian besar sudah sadar, sebagian kecil masih ada," sambung Toni.

Motif kedua pencurian, lanjut Toni, untuk mendapatkan keuntungan finansial. Namun sayangnya, kata Toni nilai ekonomis komodo ini sebenarnya sangat kecil.

Menurutnya, siapa yang mau memelihara komodo karena penampilannya yang kurang menarik. "Yang mahal bagi kita justru nilai konservasinya, karena komodo adalah hewan yang dilindungi," terang Toni.

Saat ini koleksi komodo di KBS ada 56 ekor. Dari jumlah itu 18 di antaranya adalah komodo yang masih anakan dengan usia sekira 1 tahun. Anak-anak itu hasil penetasan pada 2010 lalu. KBS juga sedang menetaskan 15 telur komodo.

(ton)

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Ponzi Ekonomi ala Hyman P. Minsky

Posted: 21 Mar 2011 10:40 PM PDT

Judul : Ponzi Ekonomi, Prospek Indonesia Di tengah Instabilitas Global.
Penulis : A. Prasetyantoko
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tahun : 1, Oktober 2010
Tebal : xxx + 202 halaman
Harga : Rp 42.000,-


Ponzi ekonomi, yang dijadikan judul buku oleh penulis, merupakan istilah yang pernah dipopulerkan oleh Hyman P. Minsky. Dia seorang pemikir ekonomi non-konvensional yang hidup pada 1919-1996. Pemikiran Minsky tentang ponzi ini mencoba digali kembali setelah terkubur berpuluh-puluh tahun. Karena bagi pelaku pasar di Wall Street, pemikirannya dianggap mampu menjelaskan dengan baik fenomena ketidakstabilan finansial yang marak terjadi akhir-akhir ini.
    
Jika kita mengatakan bahwa krisis selalu ada dan akan terus ada. Sejatinya bersumber pada hal yang sama. Pemikiran Minsky tentang akumulasi utang merupakan argumen yang paling tepat. Karena mekanisme utama yang menyebabkan krisis adalah perilaku berutang. Teorinya pun sederhana, semakin besar pelaku mengakumulasi utang, semakin besar risiko mengalami gagal bayar. Dan mekanisme ini terjadi secara alamiah.

Dalam pemaparannya, Minsky mengidentifikasi ada tiga tipe pengutang, yaitu pengutang yang berhati-hati (hedge), pengutang yang spekulatif (speculative), dan pengutang yang tak lagi bisa membayar (ponzi).

Pengutang hedge, prinsipnya adalah pengutang yang mampu melakukan pembayaran utang dengan baik. Spekulatif adalah pengutang yang mampu membayar cicilan utang dengan cara menjual asetnya. Sementara ponzi, adalah pengutang yang tak lagi mampu membayar cicilan dan bunga dari aliran kas yang dihasilkan dari investasinya. Begitu terjadi depresiasi terhadap asetnya, mereka tak lagi mampu membayar. (hal 70).

Oleh karena itu, sebagian besar ekonom sangat mewaspadai jika terjadinya badai "krisis ekonomi" akibat dari banyaknya hutang yang tak terbayar. Sebab, badai tersebut selalu datang silih berganti dan bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain dalam tempo waktu yang relatif singkat.

Selanjutnya, buku ini memberikan beberapa catatan mengenai sebuah metodologi yang bisa digunakan sebagai pisau analisis dalam menyorot krisis ekonomi. Yaitu konsep Balance Effect (BE). Metode ini memberikan titik terang, bagaimana berbagai institusi dan agen dalam ekonomi bisa saling terkait antar satu sama lain.

Melalui pendekatan ini, penulis mencoba melihat keterkaitan antara hubungan neraca rumah tangga dengan perekonomian makin intens terjadi. Sebab, sektor rumah tangga (household level) jika terjadi goncangan, secara tidak langsung akan menyebar pada sektor-sektor lain—seperti neraca perusahaan/perbankan (corporate level) dan neraca pemerintah (country level) —Yang nantinya akan menimbulkan kerusakan pada perekonomian.

Di sisi lain, salah satu risiko yang berpotensi menimbulkan masalah sistemik yaitu bermuara pada nilai tukar. Jika nilai tukar melonjak drastis, maka semakin banyak nilai tukar kolaps. Pada tataran ini, dunia perbankan akan mengalami situasi buruk, yang nantinya bisa meledak menjadi "bencana finansial" besar.

Pada bagian pertama, penulis menyajikan gambaran perekonomian global, termasuk berbagai pembahasan ketidakseimbangan global (global imbalences), keterkaitan antara sistem keuangan dan perbankan, sampai pada tema kembalinya peran negara dan juga aspek perdagangan.

Dibagian kedua, buku ini mencoba membahas mengenai potensi ekonomi Indonesia kedepan termasuk untuk menjadi bagian BRIC (Brasil, Rusia, India, China) dan tantangan yang akan dihadapi Indonesia. Pasalnya, menurut laporan Morgan Stanley, Indonesia memilki dua kekuatan penting, yaitu sumber daya manusia (demographic devidend) dan sumber daya alam (natural resources). Lanjut Morgan, Indonesia akan memasuki rezim pertumbuhan ekonomi yang tinggi apabila mampu mengapitalisasi dengan baik sumber daya tersebut, baik sumber daya penduduk yang besar dan sumber daya alam yang kaya. Pembahasan topik yang beragam ini menjadikan pembaca ikut mengalir dalam alunan tulisan penulis.

A. Prasetyantoko, penulis buku ini, seorang yang expert di bidang ekonomi. Tercatat, mulai dari tahun 2001 hingga 2010, ia menulis lebih dari 200 artikel opini di berbagai media massa. Sebagian besar menyorot tentang perekonomian. Lewat buku ini, Penulis memberikan rambu-rambu penting bagi pelaku ekonom agar berhati-hati dalam mengambil suatu kebijakan yang berdampak terhadap masalah sistemik.

Keberadaan negara dengan ekonomi raksasa seperti Amerika sekalipun tidak menjadi jaminan untuk kebal terhadap goncangan ekonomi (baca: krisis finansial).

Menurut saya, buku Ponzi Ekonomi ini layak ditelaah oleh kalangan awam. Karena bahasa yang digunakan penulis begitu mudah dan teori yang disampaikan pun sangat cerdas. Bagi segenap praktisi keuangan, analisis, dan pengambil keputusan kebijakan ekonomi, buku ini menjadi bacaan wajib. Sehingga mereka dapat mendalami falsafah dasar krisis keuangan dan ekonomi global yang selalu menjadi titik rawan bagi kestabilan sistem perekonomian.

Peresensi adalah Muhammad Autad An Nasher
Penikmat buku ekonomi, asal Jepara, Jawa Tengah.

(//mbs)

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Tiada ulasan:

Catat Komen