Sabtu, 4 Mei 2013

ANTARA - Mancanegara

ANTARA - Mancanegara


Brunei-China bahas hubungan bilateral

Posted: 04 May 2013 09:31 PM PDT

Bandar Seri Begawan (ANTARA News) - Sultan Brunei Hassal Bolkiah bertemu dengan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, di Istana Nurul Iman di Bandar Seri Begawan, Sabtu kemarin. Wang dalam kunjungan resmi ke negara kesultanan di utara Pulau Kalimantan itu.

Kunjungan ini menarik pada saat China enggan undur dari klaim sepihak atas seluruh Laut China Selatan; berhadapan dengan Brunei Darussalam yang menjadi satu dari empat negara pengklaim sebagian wilayah maritim penting dunia itu.

Satu langkah yang dinilai cukup penting adalah kesediaan China membicarakan hal ini dengan negara-negara yang berkepentingan; didorong upaya Indonesia untuk mengajak semua pihak kembali pada kode bertataperilaku di perairan itu.

Sultan Bolkiah mengatakan, pertukaran antara rakyat kedua negara telah berlangsung lama dan kedua negara memiliki hubungan bersahabat yang erat.

Brunei bersedia bekerjasama dengan China guna memperdalam kemitraan strategis antara kedua negara guna mendorong kerja sama di bidang energi, pertanian, kebudayaan dan pendidikan.

Brunei mengharapkan peran aktif dan bertanggung-jawab China dalam pemeliharaan kestabilan dan perdamaian regional. 

Sultan Bolkiah menyampaikan terima kasih atas dukungan kuat China bagi Brunei untuk memikul tanggung-jawabnya sebagai ketua ASEAN, dan mengatakan Brunei bersedia bekerjasama dengan China untuk bersama-sama memperkokoh kemitraan strategis ASEAN dan China guna meningkatkan kemakmuran, kestabilan dan perdamaian regional.

Wang mengatakan Presiden China, Xi Jinping, dan Sultan Bolkiah sepakat meningkatkan kemitraan strategis kedua negara, yang menunjukkan persabahatan yang sehat dan saling percaya di antara mereka dan perkembangan yang stabil lebih lanjut dalam hubungan masa depan mereka.

Wang mengatakan aspek utama hubungan ASEAN-China adalah persahabatan bertetangga yang baik dan pembangunan bersama serta kerja sama yang saling menguntungkan. Kedua pihak sepenuhnya mampu memelihara perdamaian dan kestabilan di wilayah tersebut, termasuk Laut China Selatan.

Tahun ini menandai peringatan ke-10 kemitraan strategis antara China dan ASEAN, saat Brunei menjadi ketua ASEAN.


(C003)

Rusia inginkan zona bebas nuklir Timur Tengah

Posted: 04 May 2013 08:53 PM PDT

Moskow (ANTARA News) - Rusia menyerukan pembentukan zona bebas nuklir di Timur Tengah paling lambat akhir tahun ini, kata Kementerian Luar Negeri Rusia, Sabtu (4/5).

Selama pertemuan Komite Persiapan bagi Kajian Kesepakatan Anti-Penyebaran Nuklir (NPT) belum lama ini, di Jenewa; Rusia --bersama dengan organisasi dan negara lain penandatangan-- menyampaikan sikap semua tantangan bagi rejim anti-penyebaran mesti diselesaikan semata-mata dengan dasar ketentuan NPT.

Peserta pertemuan tersebut menyerukan tindakan mendesak dan terpusat bagi penyelenggaraan pertemuan mengenai pembentukan zona bebas nuklir dan senjata lain pemusnah massal di Timur Tengah.

Pada Senin (29/4), Mesir mundur dari pembicaraan NPT di Jenewa sebagai protes terhadap kegagalan pelaksanaan resolusi bagi Timur Tengah yang bebas senjata nuklir.

Mesir telah mundur dari pembicaraan tersebut untuk mengirim pesan kuat tentang tak bisa diterimanya kekurang-seriusan yang terus berlangsung dalam menangani pembentukan zona bebas nuklir di Timur Tengah, kata Hisham Badr, Kepala Delegasi Mesir ke Jenewa, sebagaimana dikutip kantor berita resmi Mesir, MENA.

"Mesir," kata Badr, "tak bisa terus menunggu selamanya bagi pelaksanaan resolusi tersebut."

Kairo menyeru PBB, Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), dan lembaga lain internasional untuk mengemban tanggung jawab bagi pelaksanaan resolusi internasional yang sah.

"Mesir, bersama dengan banyak negara Arab, telah bergabung dengan kesepakatan itu dengan pengertian itu akan membuat Timur Tengah benar-benar bebas dari senjata nuklir," kata Badr.

"Namun, lebih dari 30 tahun kemudian, satu negara di Timur Tengah, yaitu Israel, tetap berada di luar NPT," katanya. 

Tiada ulasan:

Catat Ulasan