Sabtu, 30 Mac 2013

ANTARA - Berita Terkini

ANTARA - Berita Terkini


Nelayan Bengkulu perlu es batu

Posted: 30 Mar 2013 07:04 PM PDT

Bengkulu (ANTARA News) - Nelayan skala kecil di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu, meminta pemerintah daerah setempat memberikan subsidi es balok yang mereka perlukan, namun harganya terus melonjak tinggi.

Biasanya harga es setiap balok Rp17.000, namun dalam beberapa pekan terakhir naik menjadi Rp21.000 per balok, sehingga nelayan tak mampu memenuhi kebutuhan untuk melaut, kata kata Doly (27), nelayan tradisional kota Bengkulu, Minggu.

Ia mengemukakan, kaget menghadapi kenaikan harga es balok tersebut karena sebelumnya tidak ada tanda-tandanya, dan setiap pabrik es tetap menjual seperti biasa.

Hal itu, menurut dia, sangat menyulitkan karena setiap nelayan di daerahnya juga harus membeli bahan bakar minyak (BBM) di pedagang pengecer mencapai Rp6.000 per liter, akibat sebagian besar Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) stoknya kosong.

"Kenaikan harga es balok dan BBM itu membuat beban nelayan kecil semakin berat karena tidak diimbangi dengan kenaikan harga ikan dan hasil tangkapan," ujarnya.

Nelayan berharap Pemerintah Kota Bengkulu dapat menjamin pasokan es batu dengan harga terjangkau, sehingga mutu hasil tangkapan ikan tetap terjamin.

Bahkan, Pemerintah Kota Bengkulu diharapkan pula dapat mendirikan pabrik es yang baru, sehingga harga di pasaran menjadi terjaga karena tidak ada monopoli dari pengusaha setempat.

Saat ini pabrik es di Kota Bengkulu ada empat, yang tiga diantaranya milik swasta dan satu lagi milik koperasi, yang sebagian besar produksinya dijual kepada nelayan setempat.

Anggota DPRD Kota Bengkulu, Suhaimi Fales, mengatakan bahwa sebaiknya Dinas Keluatan dan Kelautan (DKP) Bengkulu mendirikan pabrik es guna mengatasi kebutuhan nelayan kecil di daerah ini.

DKP Kota Bengkulu selama ini hanya membantu alat tangkap nelayan saja, tapi belum memikirkan bagaimana kebutuhan es bagi nelayan setempat.

"Kita minta DKP Kota Bengkulu segera memprogramkan untuk membangun pabrik es baru, sehingga rencana ini dapat direalisasikan dalam waktu dekat," ujarnya.

Dengan berdirinya pabrik es balok milik di DKP Kota Bengkulu, maka kebutuhan es balok bagi nelayan setempat dapat diatasi secara baik dengan harga terjangkau bagi nelayan kecil, katanya menambahkan.

Ancaman bom di Eiffel, 1.500 orang diungsikan

Posted: 30 Mar 2013 06:50 PM PDT

Jakarta (ANTARA News) - Sebanyak 1.500 orang wisawatan dan staf dikawal keluar dari Menara Eiffel, tak lama setelah pada pukul 19.30 waktu setempat, Sabtu, ada seseorang memberi peringatan melalui telepon mengenai bom di tempat yang menjadi tonggak sejarah kota Paris tersebut.

Peristiwa itu terjadi setelah ancaman dari Al Qaida untuk "melakukan pembalasan" terhadap campur tangan Prancis di negara Afrika, Mali, untuk memerangi gerilyawan fanatik tersebut, demikian laporan media setempat, Minggu.

Polisi mengatakan, seseorang penelepon tanpa nama telah memberi peringatan bahwa peledak telah diletakkan di sekitar menara tersebut, demikian keterangan di Daily Mail.

Penelepon itu mengatakan ledakan akan terjadi pada pukul 21.30 waktu setempat, kata polisi. Namun, hingga pukul 22.00 waktu setempat tak ada ledakan.

Menara tersebut masih ditutup, dan tim anjing pelacak terlatih masih mencari bom itu.

"Mungkin menara ini tidak buka lagi pada malam ini," kata juru bicara polisi, sebagaimana dilaporkan di http://www.dailymail.co.uk/news/article.

"Pencarian masih berlangsung, tapi tak ada anggota masyarakat yang diperkenankan berada di dekat lokasi. Telah dilakukan pengungsian total," katanya.

Menara tersebut biasanya dibuka sampai tengah malam selama akhir pekan Paskah, dan restoran di dekatnya termasuk Le Jules Verne sangat sibuk pada Sabtu malam.

Telah ada sejumlah ancaman bom terhadap Menara Eiffel dalam beberapa tahun belakangan, dan Prancis saat ini berada dalam siaga tertinggi akibat ancaman dari Al Qaida di Maghrib Islam (AQIM).

Presiden Prancis Francois Hollande telah menempatkan dirinya di tengah perang global melawan aksi teror, dengan menugasi tentara darat dan udara terlibat dalam perang yang berlangsung di Mali.
(T.C003/A011)

Tiada ulasan:

Catat Ulasan