Sabtu, 31 Mac 2012

Republika Online

Republika Online


Anda Suka Popcorn? Inilah Manfaatnya

Posted: 31 Mar 2012 05:04 AM PDT

REPUBLIKA.CO.ID,  SAN DIEGO -- Anda suka makan popcorn? Inilah kabar baik bagi Anda penyuka popcorn. Ilmuwan pada Universitas Scranton Pennsylvania meluncurkan penemuan mereka menganai popcorn.
 
Camilan ringan yang biasa dimakan ketika nonton di bioskop ini ternyata mengandung antioksidan yang membantu melawan molekul berbahaya. Popcorn polos diduga sebagai makanan diet yang bagus untuk kandungan kalori yang rendah. Selain itu, memiliki kandungan antiokasidan lebih tinggi dibandingkan buah-buahan dan sayuran.
 
Di dalam popcorn terkandung polifenol  mereka membantu melawan molekul berbahaya yang merusak sel. Kandungan antiokasidan dalam popcorn lebih tinggi karena hanya mengandung empat persen air. Sementara itu, buah-buahan dan sayuran mengandung hingga 90 persen air.
 
Peneliti menemukan satu porsi popcorn mengandung 300 mg antioksidan. Jumlah ini hampir dua kali lipat 160mg untuk semua buah-buahan per porsi. Mereka juga menemukan bahwa  popcorn memiliki konsentrasi tertinggi antioksidan dan serat.
 
Namun para peneliti mengingatkan meskipun mengandung banyak antioksidan, popcorn tidak mengandung salah satu vitamin atau nutrisi penting lainnya yang ditemukan dalam buah dan sayuran.
 
"Ini adalah makanan ringan hanya yang 100 persen gandum yang belum diproses," ujar peneliti Joe Vinson.
 
Satu porsi popcorn akan memberikan lebih dari 70 persen dari asupan harian gandum. Rata-rata orang hanya mendapat sekitar setengah porsi gandum utuh sehari, dan popcorn dapat mengisi kesenjangan dalam cara yang sangat menyenangkan. Sekitar 51 persen dari berat produk adalah gandum.

UGM Kembangkan Terapi Autis dengan Berkuda, Kok Bisa?

Posted: 31 Mar 2012 03:43 AM PDT

REPUBLIKA.CO.ID,  Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada 2012 ini mengembangkan metode terapi baru bagi anak-anak penderita autis yaitu dengan terapi berkuda. Adalah

Adalah Gadjah Mada Equestrian Center (GMEC) Fakultas Peternakan UGM dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Berkuda kampus tersebut yang mengembangkan metode baru bagi penanganan anak autis ini.

Menurut Ketua GMEC, Edi Suryanto, terapi berkuda ini baru digelar pihaknya sejak awal Maret ini. "Hingga akhir Maret ini sudah ada 6 siswa penyandang autis yang ikut terapi kita," terangnya, Sabtu (31/3).

Lima dari enam siswa tersebut berasal dari Sekolah Autis Fajar Nugraha, dan satu orang dari SLB Damayanti. "Terapi kita gelar setiap Minggu saja," tambahnya.

Menurutnya, anak-anak penderita autis diajak untuk berinteraksi dengan Kuda. Kegiatan ini diharapkan mampu membantu konsentrasi pada penderita. Selain itu juga membantu dalam bersosialisasi dengan anak-anak lainnya.

"Anak-anak diberikan kegiatan mulai dari dilatih memberi makan, menyisir rambut dan ekor, memandikan, memasang pelana serta menunggang Kuda," tandasnya.

Terapi ini kata dia, mampu membantu konsentrasi dan mengurangi agresifitas penderita autis. "Berinteraksi dengan Kuda menimbulkan rasa senang pada anak autis serta membantu memfokuskan konsentrasi,"jelasnya.

Selain membuka program terapi autis denga berkuda, GMEC juga menawarkan sekolah berkuda (riding horse). GMEC mengajarkan kemampuan menunggang kuda bagi siswanya meliputi latihan dasar menunggang kuda (basic riding), tunggangan serasi (dressage), halang rintang (show jumping), cross country, dan endurance. Latihan dilakukan selama 1 jam, 4 kali dalam sebulan.

"Sekolah berkuda ini cukup mendapatkan apresiasi dari masyarakat. Sejak dibuka Februari lalu terdapat sekitar 100 pendaftar, tapi kami hanya batasi menerima 20 orang karena baru memiliki 4 ekor Kuda," tandasnya.

Sementara itu menurut psikolog perkembangan anak UGM, Endang Ekowarni, keberhasilan terapi berkuda bagi anak autis ini sangat tergantung pada kondisi pasien dan terapis.

"Terapis autis juga harus menguasai karakter kuda tidak hanya untuk sekedar dikendarai. Selain itu juga tergantung kondisi anak sendiri," tambahnya.

Karenanya kata dia, terapis harus dibekali pelatihan tentang kondisi anak dan juga karakter kuda. Dengan begitu terapis bisa melakukan pendekatan-pendekatan yang bisa diterima anak menggunakan alat kuda.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan