Isnin, 20 Februari 2012

KOMPASentertainment

KOMPASentertainment


Kabar Baik dari Berlin untuk Indonesia

Posted: 20 Feb 2012 07:47 PM PST

LONDON, KOMPAS.com -- Film Indonesia berhasil mencuri perhatian publik internasional di Jerman dan menjadi perbincangan dalam Festival Film Internasional di Berlin atau lebih kerap disebut Berlinale 2012.

"Walaupun belum berhasil membawa pulang piala beruang emas dan perak, dua film Indonesia telah diperhitungkan dalam Berlinale 2012," ujar Sekretaris Tiga KBRI Berlin, Purno Widodo seperti dikutip Antara London, Selasa.

Film berjudul Postcard from the Zoo karya sineas muda Indonesia Edwin berhasil menembus kategori paling bergengsi di Berlinale yaitu Kategori Kompetisi setelah 49 tahun lamanya absen.

Film pertama Indonesia yang berhasil lolos dalam kategori tersebut adalah film berjudul Badai Selatan garapan Sofia WD produksi tahun 1962.

Postcard from the Zoo bertutur mengenai seorang gadis bernama Lana yang ditinggalkan oleh ayahnya di Kebun Binatang di Jakarta. Lana tumbuh bersama binatang-binatang seperti kuda nil, macan dan juga Jerapah yang menjadi binatang sentralnya.

Lana sangat menikmati kehidupannya di kebun binatang tersebut hingga pada suatu ketika keadaan memaksanya untuk keluar dari kebun binatang dan harus berinteraksi di kehidupan yang sebenarnya yang ternyata tidak membahagiakannya sehingga membuatnya kembali ke Kebun Binatang.

Film ini banyak mendapat sorotan dari media masa maupun kritikus film internasional. The Hollywood Reporter menuliskan film ini sebagai film naratif eksperimental yang menawarkan safari yang menyenangkan walaupun beralur lambat.

Sang sutradara Edwin sebagai orang yang paling berpengaruh dalam film tersebut tidak menyangkal bahwa sebagian penonton akan diuji kesabarannya oleh berbagai realisme magis dari potongan idiosinkrasi dalam filmnya, walaupun dalam pembuatannya diakuinya tidak ada binatang yang disakiti.

Film Indonesia lain yang mencuri perhatian publik adalah film karya Kamila Andini berjudul The Mirror Never Lies.  

Gedung Haus der Kultur der Welt yang berkapasitas 1400 penonton terasa sesak oleh antrian penonton yang sebagian besar adalah anak-anak. Film ini memang masuk dalam katagori Generation yang ditujukan untuk anak-anak.

Film yang didanai Pemkab Wakatobi dan WWF ini mengisahkan tentang seorang anak perempuan yang menunggu ayahnya yang kunjung pulang dari mencari ikan di laut.

Tidak seperti yang diyakini orang-orang di sekitarnya, sang anak bernama Pakis tersebut percaya bahwa ayahnya masih hidup dan akan segera pulang.

Selain berisi dengan konflik batin sang anak menghadapi ibu serta lingkungannya, film ini sarat dengan pesan perlindungan terhadap alam. Selain itu film ini juga secara nyata memaparkan surga laut Wakatobi.


Direkomendasikan Untuk Anak Sekolah

Karena tema serta sarat akan pesan lingkungan, film ini juga dipilih oleh sekolah-sekolah dasar di Berlin sebagai film yang direkomendasikan untuk ditonton para siswa. Tak ayal pada pertunjukan perdana, gedung pertunjukan disesaki oleh anak-anak tersebut.

Kedua bintang dalam film ini yaitu Eko dan Gita Novalista pun kewalahan dalam menjawab pertanyaan keingintahuan dari para penonton usia belia tersebut, termasuk melayani permintaan tandatangan.

Selain dua film panjang di atas, film pendek hasil karya Sammaria Simanjuntak masuk ke dalam daftar nominasi. Film berjudul 7 Deadly Kisses berdurasi 4 menit. Diakui oleh sang sutradara bahwa film ini dibuat dengan ide iseng.

Tiap tahapan pembuatannya pun hanya berlangsung dua jam, merancangnya 2 jam, pengambilan gambarnya 2 jam, editingnya pun 2 jam. Dalam film ini Sammaria Simanjuntak memberikan gambaran tentang 7 ciuman yang tidak boleh dilakukan jika ingin tetap langgeng berpacaran.

Satu hal yang unik dalam Berlinale adalah banyaknya tema-tema kontroversial yang diangkat seperti kebebasan, konflik, hak asasi, lingkungan, kemiskinan, dan kaum minoritas, bukan hanya permasalahan cinta. Satu film Indonesia yang masuk dalam kategori Panorama juga mengusung tema minoritas.

Film berjudul Children of Srikandi karya bersama sineas Indonesia dan Jerman sempat dijagokan dalam kategori Panorama tersebut. Film ini mingisahkan kehidupan lesbian di berbagai kota-kota besar di Indonesia.

Hadirnya film Indonesia terutama dalam kategori paling bergengsi di Berlinale 2012 tentu saja membawa arti tersendiri bagi Sineas Indonesia.

Setelah menanti selama 49 tahun, sudah saatnya sineas Indonesia dapat tampil di karpet merah salah satu festival film dunia yang paling bergengsi. Hal ini diharapkan akan semakin memicu sineas Indonesia untuk menghasilkan karya-karya imajinatif yang kreatif.

Soft Diplomacy

Duta Besar RI di Berlin Dr. Eddy Pratomo menunjukkan suka cita tersebut dalam kesempatan jamuan cocktail bertajuk "Indonesia Cinema Night", Dubes Pratomo memberikan selamat kepada semua Sineas Indonesia yang ikut menggaungkan nama Indonesia di Jerman.

Dubes Pratomo mengatakan film dapat menjadi sarana diplomasi yaitu soft power diplomacy di mana secara tidak langsung masyarakat dunia dapat lebih mengenal Indonesia seperti yang diceritakan dalam film-film tersebut.

Dalam kesempatan itu Dubes Pratomo meyakinkan kepada segenap insan film yang hadir yang terdiri dari para sutradara internasional, distributor serta pemain film bahwa alam Indonesia yang indah sangatlah tepat dijadikan tempat shooting film-film internasional.

Festival Film Internasioanal Berlin tahun ini memutar tak kurang dari 400 film dalam berbagai kategori diantaranya yaitu Competition, Generation, Panorama dan Berlinale Short.

Walaupun berbeda dari banyak film-film Hollywood dimana banyak tema kontroversial yang diangkat, Berlinale tahun ini sangat meriah dengan kehadiran bintang Hollywood seperti Angelina Jolie, yang menyutradari film pertamanya mengenai konflik bersenjata di Bosnia Herzigovina berjudul The Land of Blood and Honey.

Selain itu juga hadir Meryl Streep yang berperan sebagai Margaret Thatcher dalam film Iron Lady serta bintang Bolywood seperti Shah Rukh Kahn yang berperan dalam film berjudul Don, The King is Back yang proses pengambilan gambarnya dilakukan di Jerman.

Richard Pattiselanno Terkenang Aksi Bubi Chen

Posted: 20 Feb 2012 07:15 PM PST

BELANDA, KOMPAS.com -- "Om Bubi", demikian Richard Pattiselanno (65), pemusik Jazz Indonesia yang tinggal di Belanda, memanggil almarhum Bubi Chen. "Dia raja pemain piano di Asia," ujarnya.

Richard Pattiselanno adalah gitaris piawai. Walaupun usia sudah lanjut, dia masih suka manggung di seantero Belanda. Richard juga masih sering manggung di hajatan musik jazz kelas dunia di Indonesia, seperti  Java Jazz Festival.

Di kesempatan itulah, Richard sering bertemu sang maestro Bubi Chen. "Kita manggil dia Om Bubi, soalnya kan lebih tua," tutur Richard kepada Radio Nederland.

Java Jazz
Richard mengaku sudah kenal "Om Bubi" sejak kecil. Kakaknya, Ronny, pernah satu band dengan Bubi Chen. "Waktu itu mereka masih remaja," kenang Richard.

Richard terakhir kali bertemu Bubi Chen salah satu acara jazz di Surabaya, setelah pentas di Java Jazz Festival 2008 di Jakarta. "Om Bubi bilang, 'Rich, kamu main di Surabaya, nanti saya lihat.' Om Bubi memang datang ke Surabaya, lihat saya main. Dia bilang, 'Wah saya benar-benar senang melihat kamu main'," ujar Richard menirukan ucapan Bubi kala itu.

Ketika mendengar kabar wafatnya Bubi Chen pada 16 Februari 2012, di usia 74 tahun, Richard mengaku sangat sedih. "Om Bubi membuka jalan untuk musisi Indonesia. Dia pemain piano hebat dari Asia, bukan Indonesia saja. He is the king of the piano players from Asia (Raja pemain piano di Asia)."

Di mata Richard, Bubi Chen bukan hanya pemain jazz. Kenangan saat melihat aksi Bubi di Surabaya, membuat Richard terkenang-kenang aksi Si Om.  "Waktu saya masih muda, saya melihat dia main musik klasik di Balai Pemuda, Surabaya. Wah, (kejadian) itu saya nggak bisa lupa lagi."

North Sea Jazz
Semasa hidupnya, Bubi Chen beberapa kali diundang tampil di acara jazz di Belanda, North Sea Jazz Festival. Setiap kali musisi Indonesia datang ke festival besar ini, Richard dan kakaknya lah yang mengurus alat-alat musik bagi mereka.

"Sepupu saya, Oele, Jacky dan Perry Pattiselanno dulu sering ke North Sea sini. Mereka main sama Om Bubi juga. Musisi dari Indonesia paling bagus. Orang Belanda saja kaget, orang Indonesia kok bisa main jazz kayak begini," tutur Richard kepada Radio Nederland.

Sumber: radionetherlands.nl

Tiada ulasan:

Catat Komen