Selasa, 22 Mac 2011

ANTARA - Berita Terkini

ANTARA - Berita Terkini


Gajah Pemblokir Jalan Kini Sekarat

Posted: 22 Mar 2011 06:28 PM PDT

Pekanbaru (ANTARA News)- Satu dari dua gajah yang memblokir jalan masuk ke perumahan Cendana RT 3 RW I, Balairaja, Kecamatan Pinggir, Bengkalis, dalam kondisi sekarat.

"Di lokasi pemblokiran gajah pagi ini, saya lihat salah satu gajah yakni induk gajah sudah tumbang. Saya dekati keadaannya sudah lemah sekali tapi masih ada pergerakan," ujar Derton Panjaitan, masyarakat Balairaja kepada ANTARA, Rabu pagi.

Kondisi anak gajah, lanjutnya, masih sehat dan berdiam diri di lokasi yang sama dengan induknya.

"Induk dan anak gajah tersebut sudah dua pekan ini memblokir perumahan guru tersebut"jelasnya.

Dia mengatakan keadaan tersebut tidak lazim karena gajah tidak pernah berada di satu tempat yang sama dalam jangka waktu yang lama.

"Dan ini sudah dua pekan. Masyarakat pun bingung, mengapa gajah tersebut tidak pindah,"kata dia.

Derton mengatakan masyarakat sudah menyampaikannya pada pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau. Namun, tidak ada tanggapan.

Kemungkinan besar, kata Derton, induk gajah tersebut mengalami sakit sehingga berdiam diri dalam jangka waktu lama di suatu tempat.

"Dan terbukti pagi ini, gajah tersebut tumbang,"tukas dia.

Ia mengharapkan pihak BBKSDA mengambil tindakan untuk menyelamatkan gajah tersebut.

"Gajah ini hewan yang dilindungi, jadi harus cepat mengambil tindakan,"ujar mantan ketuaa penghalau gajah ini.

Pernyataan Derton ini, bertolak belakang dengan apa yang disampaikan BBKSDA yang menyebutkan pihaknya menurunkan tim untuk menghalau gajah.

Sementara itu Kepala BBKSDA Riau, Kurnia Rauf, mengatakan hingga saat ini pihaknya belum mendapatkan informasi mengenai gajah tersebut."Belum ada informasi mengenai hal itu," katanya dia.
(KR-IND/M019)

Editor: Aditia Maruli
COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Tradisi "Mandi Blimau" Tiga Tahun Sekali

Posted: 22 Mar 2011 06:25 PM PDT

Warga yang tak ikut serta akan merasa terkucil dari komunitas masyarakat mereka sendiri, karena itu mereka semua merasa harus ikut upacara yang hanya digelar sekali dalam tiga tahun tersebut

Berita Terkait

Video

Jambi (ANTARA News) - Warga  Desa Dusun Baru Semurup Kecamatan Air Hangat, Kabupaten Kerinci, Jambi, Minggu (20/3) menggelar tradisi "Mandi Blimau" yang diselenggarakan Balai Adat tiga tahun sekali.

"Seluruh warga masyarakat, besar kecil, tua muda, pria wanita, mengikuti tradisi `Mandi Blimau` yang digelar di `Umah Gdang` yang merupakan rumah adat Desa Sumurup di Dusun Baru," ungkap salah seorang tokoh pemuda Septa (25) saat dihubungi di Kerinci, Rabu.

Mandi Blimau (mandi air jeruk) tersebut adalah tradisi masyarakat yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang masyarakat setempat yang diselenggarakan setiap tiga tahun sekali.

"Warga yang tak ikut serta akan merasa terkucil dari komunitas masyarakat mereka sendiri, karena itu mereka semua merasa harus ikut upacara yang hanya digelar sekali dalam tiga tahun tersebut," katanya.

Prosesi upacara tersebut dipimpin oleh Depati Hatur Negeri yang merupakan pemimpin tertinggi dalam tatanan adat mereka. Semua warga mengantri disiramkan air bersih yang telah diberi limau atau jeruk beraneka jenis.

Sedikitnya ada tujuh jenis jeruk yang belah-belah dan dicampurkan ke air bersih tersebut, beberapa di antaranya jeruk manis, jeruk purut, jeruk kunci (jeruk kecil), jeruk Bali, dan jeruk salam.

Sembari memanjatkan doa ke hadirat Allah SWT setiap warga dimandikan oleh Depati satu persatu. Untuk dapat dimandikan mereka mengantri dengan tertib di hadapan Depati.

"Sejak subuh warga berdatangan dan berkumpul di halaman Umah Gedang, yakni rumah Adat yang merupakan Istana para depati, sekaligus merupakan Museum Sko (harta pusaka) desa-desa dan suku-suku di Kerinci," ujarnya.

Septa juga meluruskan asumsi sebagian golongan yang mengecam ritual tersebut syirik dalam ajaran agama Islam.

"Ritual tersebut bukan bagian mutlak dari syariat agama Islam yang dianut 100 persen oleh masyarakat Semurup. Ini  tradisi yang tidak berlawanan dengan syariat agama. Esensinya pelestarian nilai-nilai kebersamaan dan kekeluargaan," katanya.
(KR-BS/E003)

Editor: Aditia Maruli
COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Tiada ulasan:

Catat Komen