Selasa, 15 Februari 2011

ANTARA - Peristiwa

ANTARA - Peristiwa


Gempa d Sulawesi Tengah, Warga Panik

Posted: 15 Feb 2011 07:07 AM PST

Berita Terkait

Video Terkait

Palu (ANTARA News) - Gempa berkekuatan 6,1 skala richter yang mengguncang Sulawesi Tengah, Selasa malam, mengakibatkan pasien di rumah sakit Kabupaten Poso berlarian ke luar ruangan perawatan.

Masyarakat panik karena pada saat bersamaan aliran listrik di Poso dan Kabupaten Morowali padam mendadak.

"Pasien berlarian, panik karena lampu padam," kata Rusli Suwandi, warga Kelurahan Bonesompe, Selasa.

Hingga berita ini dibuat belum diketahui kerusakan bangunan akibat gempa tersebut.

Gempa yang mengguncang Sulawesi Tengah terasa sampai di Kota Palu, ibu kota Sulawesi Tengah dengan lama guncangan sekitar 20 detik.

Sementara itu dari Morowali dikabarkan, masyarakat daerah itu juga panik. "Tadi gempanya kuat sekali. Saya masih bertahan di rumah menjaga kemungkinan gempa susulan," kata Mauludin, salah seorang tokoh pemuda di daerah itu.

Dia mengatakan, pada saat gempa aliran listrik tiba-tiba padam mendadak, namun beberapa menit kemudian normal kembali. "Masyarakat sempat panik. Banyak yang lari keluar rumah," kata Mauludin.

Laman Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, pusat gempa pada Selasa malam pukul 21.33 Wita berada di 143 kilometer tenggara Poso, 2,45 lintang selatan, dan 121,49 bujur timur dengan kedalaman 21 kilometer. Gempa tidak berpotensi tsunami.(*)

A055/Y006

Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Pemberitaan Bentrok Cikeusik Dinilai Tidak Berimbang

Posted: 15 Feb 2011 06:51 AM PST

Berita Terkait

Video Terkait

Pandeglang (ANTARA News) - Tokoh masyarakat Pandeglang Khozin Dimyati menilai, pemberitaan seputar bentrokan antara jamaah Ahmadiyah dan warga di Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, tidak berimbang.

"Pemberitaan baik yang ditayangkan media elektronik maupun surat kabar, tidak berimbang, karena lebih menyudutkan warga," kata Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pandeglang itu, Selasa.

Dia menilai warga dianggap melakukan kekerasan dan pelanggaran hak azasi manusia (HAM) karena menyernag jamaah Ahmadiyah.

Padahal, kata dia, bentrok terjadi karena ada provokasi dari jamaah Ahmadiyah yang disebutnya menantang masyarakat.

Ia juga menjelaskan, warga sebenarnya hanya ingin membujuk Suparman atau Parman, pimpinan jamaah Ahmadiyah Cikeusik agar mematuhi surat keputusan bersama (SKB) tiga menteri, yang diantaranya menyebutkan jamaah Ahmadiyah dilarang melakukan aktivitas.

Ketika Parman diamankan Polres Pandeglang, warga sebenarnya sudah tenang, namun rombongan jamaah Ahmadiyah dari luar kota tiba-tiab datang dan tinggal di rumah Parman.

Jamaah Ahmadiyah dari luar kota pun, ujar dia, sebenarnya sudah diminta polisi untuk menyingkir dari rumah itu, karena khawatir disalahpahami masyarakat setempat.

"Namun, mereka bukannya menuruti imbauan polisi, malah menantang, dan telah mempersiapkan senjata seperti tombak, batu dan ketapel. Pada aparat keamanan mereka juga mengatakan, `kalau polisi tidak bisa mengamankan kami akan bertahan sampai titik darah penghabisan`," katanya.(*)

S031/Z002

Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Full Feed Generated by Get Full RSS, sponsored by USA Best Price.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan