Selasa, 4 Jun 2013

Republika Online

Republika Online


Lansia Bisa Mandiri, Ini Rumusnya

Posted: 04 Jun 2013 07:12 PM PDT

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Orang yang sudah lansia (lanjut usia) bukan berarti dia tidak bisa apa-apa. Lansia bisa juga mandiri, sehat, senang, terhormat dan masih bermanfaat bagi keluarga dan sekelilingnya.

Menurut Dosen Fakultas Kedokteran UGM Dr Probosuseno, SpPD, KGer, FINASIM, kemarin, kriteria mandiri secara fisik yakni dapat mengerjakan segala sesuatu sendiri dengan bantuan atau tanpa alat.

Mandiri tanpa alat, misalnya mandi, berpakaian, menyisir, makan, buang air besar, buang air kecil, bergerak di dalam rumah,  bergerak di sekitar rumah, berjalan. Sedangkan mandiri dengan memakai alat, antara lain pakai telepon, perjalanan di luar rumah, belanja, memasak dan menyiapkan makanan, membersihkan rumah, mencuci, melakukan pekerjaan tangan, menjalankan pengobatan sendiri, mengatur keuangan sendiri, membaca, dan menulis.

Lebih lanjut Probo mengatakan agar lansia mandiri, baik jasmani, rohani, sosial, dan ekonomi. "Maka hal itu harus disiapkan latihan luar-dalam sejak pralansia dengan menerapkan rumus "Jogja".

Rumus "Jogja" agar lansia mandiri adalah J (Jaga Kebersihan, baik kebersihan diri dan lingkungan, Jaga stres, Jangan terforsir atau tidur cukup); O (Olahraga dan rasa berupa seni/hobi yang positif); G (Gizi seimbang, Gaul dengan orang baik yakni pribadinya bagus, kreatif dan inovatif serta Gak Boros).

Rumus berikutnya adalah J (Jangan memiliki risiko penyakit jantung koroner dan stroke dengan mengendalikan tekanan darah tinggi, kencing manis, kolesterol, konsumsi garam dibatasi, tidak merokok, tidak stres, rajin olahraga, jangan lupa kontrol kesehatan dan imunisasi); A (Agama 24 jam yakni banyak sembahyang, berdoa, berdzikir, berserah diri, syukur, sabar, silaturahmi, puasa dan sedekah).

Hukum Ini Berlaku pada Setiap Lansia

Posted: 04 Jun 2013 07:07 PM PDT

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Jumlah penduduk yang berusia lanjut makin banyak.  Bila seseorang sudah lansia (lanjut usia), umumnya terjadi penurunan kualitas organ-organ tubuh. Hal ini dikenal dengan Hukum Satu Persen, yakni menurun satu persen setiap tahun setelah usia 30 tahun.

Hal itu dikemukakan Staf Pengajar Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UGM dr Probosuseno, SpPD, K-Ger, FINASIM pada Simposium Nasional yang diselenggarakan Jaringan Pemerhati Lanjut Usia, di Yogyakarta, kemarin.

Gejala menua antara lain: rambut rontok, kulit keriput, bongkok, gigi ompong, penglihatan dan pendengaran berkurang, tulang keropos, serta menurun kemampuan otot, sistem saraf, dan hormon.

Akibat penurunan kualitas organ tubuh tersebut, maka problem yang sering dialami lansia adalah tak dapat bergerak (tiduran saja), mudah jatuh, tak terkenali buang air besar atau buang air kecil, pelupa (sampai pada pikun/demensia), mudah kena infeksi, sembelit, kesepian sampai depresi, kelebihan gizi atau kekurangan gizi.

Selain itu, kata Probosuseno, lansia juga mengalami kekurangan uang (miskin), lebih sering mengalami gangguan tubuh akibat pemberian obat, insomnia, daya tahan tubuh menurun, impotensi, penglihatan dan pendengaran menurun, dan pencecapan terutama rasa asin menurun.

Sementara itu penyakit yang tersering dialami lansia adalah radang sendi, hipertensi, radang paru-paru, kencing manis, infeksi saluran kencing, kelebihan kolesterol/trigliserid, asam urat, stroke, sakit jantung koroner. Tampilan penyakit sering tidak jelas, bersifat endogen, tersembunyi, penyakitnya banyak dan lebih cepat memburuk, ungkap Probo yang juga Kepala Poliklinik Lanjut Usia (Geriatri) RSUP Dr Sardjito ini.

Tiada ulasan:

Catat Komen