Selasa, 4 Jun 2013

ANTARA - Peristiwa

ANTARA - Peristiwa


LKBN ANTARA diversifikasi pemberitaan hadapi konvergensi media

Posted: 04 Jun 2013 07:41 AM PDT

Jakarta (ANTARA News) - Lembaga Kantor Berita Antara melakukan diversifikasi produk pemberitaan dalam menghadapi era konvergensi media untuk menjembatani kebijakan negara dengan kebutuhan masyarakat terhadap berbagai informasi.

"LKBN Antara jelas sudah mengarah pada konvergensi. Sudah ada pemberitaan melalui televisi, foto dan teks. Antara juga menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, di mana orang lebih membutuhkan berita yang tidak berbayar dan terkini," ujar Direktur Utama LKBN Antara Saiful Hadi di Jakarta, Selasa.

Saiful mengatakan, merujuk hasil Asia Media Summit yang digelar di Manado beberapa waktu lalu, forum membahas bahwa terjadi pendekatan baru terhadap pemberitaan yang dikonsumsi masyarakat dewasa ini.

Untuk itu, LKBN Antara melakukan diversifikasi pemberitaan dengan menyiarkan jenis pemberitaan yang kaya akan pengetahuan dan berbagai kebijakan pemerintah, sekaligus menyajikan pemberitaan yang menyentuh sisi kemanusiaan masyarakat.

"Kalau dulu keterangan pemerintah sangat ditunggu, sekarang mulai berubah. Masyarakat lebih senang membaca berita-berita yang menghibur atau berita tentang sisi lain dari sebuah kasus, bukan tentang kasus itu sendiri," kata Saiful.

Dengan demikian, lanjut Saiful, LKBN Antara tetap berupaya untuk memberitakan kebijakan negara, sekaligus melayani masyarakat sesuai dengan perkembangan yang terjadi.

Melalui konvergensi media, kedua fungsi tersebut dapat dilakukan secara efektif, karena perkembangan teknologi yang maju kerap mendukung pemeritaan untuk diterima masyarakat secara tepat dengan tetap mengutamakan akurasi.

Oleh karena itu, LKBN Antara berencana membesarkan AntaraTV sebagai salah satu media pendukung dalam penyebaran produk pemberitaan secara audio visual.

"Kami memang rencananya ingin membesarkan AntaraTV. Kementerian Komunikasi dan Informatika sudah menawarkan kepada antara untuk mendapat izin TV digital. Jadi itu nanti diarahkan agar Antara punya saluran TV sendiri," kata Saiful.

Namun, hal tersebut masih dalam tahap perencanaan, mengingat televisi merupakan industri yang padat modal dan padat sumber daya manusia, sehingga membutuhkan pengembangan yang besar.

Terkait perkembangan media sosial yang juga dibahas dalam Asia Media Summit, LKBN Antara akan menjadikan media sosial sebagai rekan dalam mendistribusikan produk pemberitaan untuk lebih mendekatkan diri dengan masyarakat.

"Tidak mungkin ada media yang menyepelekan media sosial. Antara sendiri menganggap medsos sebagai partner. Makanya berita-berita Antara juga dilansir di Facebook dan Twitter. Kami tidak menentang perkembangan tersebut," kata Saiful.

Namun terkait media sosial sebagai sumber berita, Saiful mengatakan hal tersebut perlu konfirmasi lebih jauh terhadap pemilik akun pada media sosial tersebut untuk dapat dijadikan berita secara utuh.(*)

Kementan: Indonesia masih aman dari krisis pangan

Posted: 04 Jun 2013 06:11 AM PDT

Jakarta (ANTARA News) - Kementerian Pertanian menyatakan Indonesia saat ini masih aman dari krisis pangan, meskipun harga pangan di tingkat dunia cenderung mengalami kenaikan.

Menteri Pertanian Suswono di Jakarta, Selasa menyatakan, meskipun demikian pihaknya terus mempersiapkan diri untuk mengantisipasi apabila terjadi krisis pangan dunia, seperti dilansir Organisasi Pangan Dunia (FAO).

Menurut dia, salah satu penyebab tingginya harga pangan dunia, karena pangan yang bisa dikonsumsi manusia dialihkan ke energi atau pakan ternak, sehingga trennya harga pangan naik terus.

Salah satu upaya mengantisipasi krisis pangan tersebut, lanjutnya, pihaknya mengimbau semua pihak untuk terus meningkatkan ketahanan pangan, termasuk memanfaatkan perkarangan untuk tanaman pangan.

"Kita punya program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) yang memanfaatkan pekarangan untuk ketahanan pangan keluarga," katanya.

Suswono menyatakan, upaya tersebut sebagai bagian proteksi dari risiko ketahanan pangan di tingkat keluarga sekaligus mendiversifikasikan pangan pokok selain beras.

Sementara mengenai teknologi pertanian, Balitbang Kementan telah menyiapkan benih padi yang mampu beradaptasi dengan perubahan iklim ekstrem.

Menurut Suswono, pendapat DPR yang menilai Indonesia memasuki fase krisis pangan dengan indikator volume impor pangan tidak tepat, karena neraca perdagangan sektor pertanian Indonesia mengalami surplus hingga 22 miliar dolar AS.

"Volume impor terbesar itu untuk komoditi hortikultura. Meningkatnya volume impor itu seiring meningkatnya peningkatan pendapatan per kapita masyarakat dan kebutuhan kelas tertentu. Kalau ekspatriat ingin memakan anggur atau buah kiwi yang merupakan produk sub tropis itu lalu apa harus kita tutup pemasukan impornya?" ujar Mentan.

Menteri menyatakan, pihaknya terus memberi perhatian penuh terhadap ketersediaan pangan masyarakat. Karenanya, tanaman pangan seperti padi, tebu dan jagung menjadi prioritas pembangunan pertanian.

"Di saat laju konversi lahan pertanian makin mempersempit akses petani,tapi produksi padi tahun 2012 mencapai 69,05 juta ton gabah kering giling (GKG) atau naik 5 persen atau 3,2 juta ton," katanya.

Tiada ulasan:

Catat Komen