Selasa, 18 Jun 2013

KOMPAS.com - Regional

KOMPAS.com - Regional


Wanita Ini "Gadaikan" Bayi Asal Perancis Rp 7 Juta

Posted: 18 Jun 2013 07:39 AM PDT

DENPASAR, KOMPAS.com - Joaninha Maria Sonia Gonzales (33) alias Grandong, seorang wanita asal Timor Leste yang menculik Logan Bertrand Nicholas Mattei (2), balita asal Perancis Rabu (12/6/2013) pekan lalu sampai saat ini masih menjalani pemeriksaan intensif di Mapolsek Kuta.

Dari hasil pemeriksaan tim penyidik, motif penculikan Grandong karena ia membutuhkan biaya untuk pulang ke kampung halamannya. Modus wanita yang 3 kali masuk penjara ini bukanlah meminta tebusan namun "menggadaikan" bayi tersebut.

"Dititipkan di panti asuhan Lembah Pujian dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan dan pulang ke Tim-tim minta uang," ujar Kanit Reskrim Polsek Kuta Iptu Agustiawan saat konferensi pers di kantornya, Selasa (18/6/2013).

Dengan cara memelas meminta belas kasihan, pihak Panti Asuhan pun merasa iba dan memberi uang sebesar Rp 7 juta. Bayi yang diakui sebagai keluarganya tersebut kemudian diserahkan kepada pengurus Panti Asuhan.

Pihak Panti Asuhan awalnya sempat curiga dan menelepon ke Mapolsek Denpasar Barat untuk menanyakan ada tidaknya anak warga asing yang hilang. Namun karena ayah korban Christoper Charles Jean Mattei (44) melapor ke Polsek Kuta, pihak Polsek Denbar tidak mengetahui hal tersebut.

Setelah melakukan penelusuran, aparat Polsek Kuta kemudian berhasil mengungkap kasus ini dan membawa pulang bayi tersebut kepada ayahnya, Kamis (13/6/2013) lalu. Grandong bersama seorang teman prianya berinisial MHS dibekuk polisi dan saat ini masih mendekam di Mapolsek Kuta untuk menjalani proses hukum.

Seperti diberitakan, Grandong bertemu dan berkenalan dengan Christoper Charles Jean Mattei (44) di sebuah klub malam kawasan Kuta, Selasa (11/6/2013) lalu. Christoper kemudian membawa Grandong ke hotel tempatnya menginap dan tidur bersama.

Pada pagi harinya, Grandong pergi dengan membawa Logan, anak Christoper serta dua buah telepon genggam, dan satu buah notebook. Christoper kemudian melaporkan kejadian ini ke aparat Polsek Kuta dan hanya butuh waktu 2 hari Grandong dan Logan berhasil ditemukan.

Editor : Farid Assifa

Mahasiswa: Polisi Pakai Preman Bayaran Bubarkan Demo BBM

Posted: 18 Jun 2013 07:29 AM PDT

MAKASSAR, KOMPAS.com - Aparat Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Polda Sulselbar) dituding menggunakan preman bayaran untuk membubarkan aksi demonstrasi penolakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dilakukan oleh mahasiswa, Senin (17/06/2013) kemarin.

Tudingan itu dilontarkan beberapa aktivis mahasiswa sejumlah kampus. Seperti yang dikemukakan Erik, salah satu mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unismuh) ini kepada wartawan, Selasa (18/06/2013). Menurutnya, polisi menyiapkan preman bayaran untuk membubarkan aksi mahasiswa menolak kenaikan harga BBM. Terbukti, ketika massa bayaran tersebut melakukan penyerangan, aparat kepolisian mundur dan menjadi penonton saat massa bentrok dengan mahasiswa.

"Awalnya kami bersama-sama warga melakukan aksi, datang polisi hendak membubarkan mahasiswa. Saat mahasiswa dan polisi berhadap-hadapan, muncul (massa) dari belakang barikade polisi tiba-tiba menyerang. Saat mahasiswa berhadap-hadapan dengan massa bayaran itu, polisi lalu mundur dan menjadi penonton," bebernya.

Senada dengan Irsan, salah satu mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN). Ketika mahasiswa dipukul mundur oleh polisi, muncul lah massa bayaran melakukan penyerangan hingga ke dalam kampus. Bahkan, massa itu mengambil tiga motor dan menyeretnya keluar lalu membakarnya.

"Lagi-lagi massa bayaran itu muncul di belakang barikade polisi, kemudian melakukan penyerangan. Ironisnya, polisi meninggalkan lokasi setelah massa bayaran menyerang dan membakar tiga unit motor. Sangat jelas, polisi provokator dan melakukan pembiaran terhadap aksi massa bayaran itu," tuding Irsan.

Aksi bentrokan fisik terjadi di beberapa lokasi berbeda di kota Makassar. Bentrokan pertama terjadi antara mahasiswa UMI dengan polisi di depan kantor Gubernur Sulsel di Jalan Urip Sumoharjo. Kemudian disusul bentrokan fisik mahasiswa UIN dengan polisi di Jalan Sultan Alauddin hingga terjadi pembakaran tiga unit motor. Bentrokan juga pecah di Jalan AP Pattarani.

Editor : Farid Assifa

Tiada ulasan:

Catat Komen