Rabu, 12 September 2012

KOMPASentertainment

KOMPASentertainment


"Tribute to D'lloyd" Lahir dari Angka Penjualan Piringan Hitam

Posted: 12 Sep 2012 07:06 PM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com -- Sekian lama dinanti sejak tak lagi aktif dalam industri musik Indonesia, grup D'lloyd akhirnya menyediakan kesempatan bernostalgia bagi para penggemar mereka lewat konser Tribute to D'lloyd, yang akan digelar di Balai Sarbini, Jakarta Selatan, 28 September 2012.

Gagasan untuk membuat konser tribute bagi band yang kini tinggal terdiri dari Barce van Houten (vokal), Chairul (drum), dan Yuyun G (saksofon) itu bermula dari sentilan yang diterima oleh putra Barce, Jimmy van Houten. "Ide awalnya dari saya sendiri. Jadi, saya itu sempat mengecek hasil penjualan piringan hitam (vinyl) musik 1970-an, ternyata di peringkat pertama penjualan tertinggi itu D'lloyd, bukan Koes Plus," ungkap Jimmy dalam wawancara per telepon di Jakarta, Selasa (11/9/2012). "Nah, kok kami (D'lloyd) malah adem ayem saja. Padahal, kalau kita lihat, Koes Plus sudah lima kali bikin konser tribute, Panbers sudah tiga kali bikin konser tribute," sambungnya.

Akhirnya, Jimmy bersama promotor Ato Production mematangkan konsep konser Tribute To D'lloyd. "Dari situ saya akhirnya berencana untuk bikin konser tribute. Kami mulai menghubungi bintang- bintangnya dan 80 persen merespon. Bahkan, mereka memang ingin berpartisipasi. Seperti Ermi Kullit, Victor Hutabarat, Yopie Latul, Iga Mawarni, Memes, Conny Constantia, Mila Rosa, Ayu Soraya, Trio Libels, dan Tantowi Yahya, sampai Pentaboyz, itu semua ingin sekali terlibat. Ada yang bilang, 'Sudah, kontrak sih gampang, belakangan saja'," papar Jimmy.

Menurut Jimmy, hampir tak ada kesulitan untuk mengajak para artis musik tersebut, yang di antara mereka akan mendapat kesempatan membawakan lagu-lagu yang pernah dipopulerkan oelh D'lloyd, dari "Seputar Dunia", "Cinta Hampa", "Sepanjang Lorong yang Gelap" sampai "Titik Noda". Bahkan, menurut Jimmy lagi, ia kewalahan untuk membatasi jumlah para penampil.

"Yang mau sebenarnya banyak sekali di luar nama-nama yang sudah ada di dalam press release itu. Ada Once, Mayangsari. Tapi, karena keterbatasan durasi, yang cuma satu setengah jam, jadi kepaksa enggak keajak. Tapi, nanti lah, yang kedua, ketiga pasti keajak. Mungkin awal tahun (2013) nanti bikin lagi. Ini cuma masalah durasi saja," jelas Jimmy.

Setelah mendapatkan sederet nama yang akan tampil, selanjutnya Jimmy bersama pemusik Jimmy Manoppo, yang ditunjuk sebagai music director, langsung mengonsep musik yang akan disuguhkan. Aransemen musik baru dengan sound era 1970-an pun akan terdengar lagi dalam konser tersebut.

"Kalau aransemen musik pasti baru ya, tapi sisanya kami pertahankan. Nanti akan ada sound yang bakal bikin orang ingat lagu ini dikenal pas zaman apa. Tapi, kami enggak akan pakai orkestra, kalau pun pakai mungkin sebatas mini orchestra saja. Kan D'lloyd musiknya pop ballad, kalau pakai orkestra dikhawatirkan warna aslinya hilang," jelas Jimmy lagi.

Lalu, apakah Barce, Chairul, dan Yuyun akan tampil memberi kejutan? "Ini kebetulan karena konsepnya tribute, mereka semestinya hanya menonton saja. Tapi, kita lihat nanti saja, apakah mereka akan main atau enggak, di penutup atau pertengahan. Memang semenjak Om Sam meninggal, orang-orang jadi ingat lagi sama D'lloyd dan tawaran manggung di luar kota itu banyak sekali. Tapi, untuk vokal, Bapak dibantu sama Victor Hutabarat. Dia karakter vokalnya sedikit mirip sama Om Sam ya, tapi enggak akan jadi anggota sepertinya, tetap bertahan dengan yang tersisa," papar Jimmy.

Lagu-lagu D'lloyd, terang Jimmy, akan digulirkan dengan sebuah alur cerita. "Jadi, nanti akan ada alur cerita. Akan ditampilkan video bapak saya (Barce) sama Om Chairul sedang diwawancara. Mereka akan bercerita di situ. Pokoknya, nanti akan jelas apa hubungannya dengan penyanyi yang tampil. Jadi, kita bisa tahu tuh Pentaboyz apa hubungannya," tuturnya.

Eya Ingin Harumkan Nama Indonesia Lewat Musik

Posted: 12 Sep 2012 07:06 PM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com -- Violis remaja Rosery Diella Grimonia (17) ingin mengharumkan nama Indonesia melalui musik. Eya, nama panggilannya, mendalami alat musik piano dan biola sejak masih berusia 4 tahun dan setiap hari berlatih selama 9 jam.

Putri pasangan Hery Setiyono (43) dan Carolina S Yana (40) itu kini memfokuskan diri pada biola. Ia menguasai musik klasik, jazz, dan pop. "Kalau bosan dengan klasik, saya main jazz dan pop," katanya.

Ketika tampil dalam acara perpisahan para sahabat dengan August Parengkuan, wartawan senior Kompas yang menjadi Duta Besar Indonesia untuk Italia, Selasa (11/9), Eya memainkan beberapa karya musik klasik, seperti karya komposer Italia Antonio Vivaldi ("La Primavera") dan Nicolo Paganini ("Caprice no 24").

Sejak kecil Eya sering tampil di panggung nasional. Ia pernah duet bermain biola bersama Idris Sardi di depan Presiden Megawati Soekarnoputri. Ia juga pernah berkolaborasi dengan Sherina dan Ruth Sahanaya.

Eya, yang kini mengikuti home- schooling, berniat belajar musik klasik di luar negeri. "Setelah lulus, saya akan kembali ke Indonesia. Saya ingin mengharumkan nama Indonesia lewat musik klasik. Saat ini nama Indonesia buruk di mata dunia karena ulah teroris. Saya ingin memberi kontribusi bagi bangsa lewat musik," katanya.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan